Beranda Parlementaria Wakil Ketua DPRA Minta Gubernur Evaluasi Kinerja Kadis Perindag Aceh

Wakil Ketua DPRA Minta Gubernur Evaluasi Kinerja Kadis Perindag Aceh

41
0
BERBAGI

Banda Aceh – Wakil Ketua DPRA Hendra Budian SH nampaknya begitu marah dengan pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, hingga meminta Gubernur Aceh untuk memberhentikan yang bersangkutan dari jabatan.

Lantas apa yang melatarbelakangi Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) dari daerah pemilihan Bener Meriah – Aceh Tengah itu hingga menyebut komunikasi anak buah Nova Iriansyah kacau?

Dalam pernyataan tertulis. Hendra menyampaikan beberapa waktu yang lalu dirinya mengaku membaca pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, yang dimuat oleh beberapa media—yang menyatakan anjloknya harga tomat di Kabupaten Bener Meriah disebabkan oleh kurangnya kualitas dan waktu panen tomat yang bersamaan.

Lebih spesifik, kata Hendra yang bersangkutan menyatakan bahwa tomat Bener Meriah lebih asam dan cepat busuk.

“Ada beberapa poin yang saya garis bawahi dari pernyataan tersebut, Pertama, Kadis Perindustian dan Perdagangan Aceh (Perindag) tidak memiliki kemampuan komunikasi publik yang baik—bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya “Buruk”. kata Hendra, Kamis (12/8/2021).

Buruknya kemampuan komunikasi publik para pejabat di jajaran Pemerintah Aceh tersebut semakin menambah deretan kegagalan Pemerintah dalam menyikapi berbagai macam persoalan yang tengah di hadapi oleh masyarakat Aceh.

Itu sebabnya, pimpinan DPRA menyatakan pernyataan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Aceh tersebut tidak memiliki “Sense of Crisis” sama sekali, mengingat ditengah kondisi Pandemi Covid-19, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sangatlah memprihatinkan, apalagi di Kabupaten Bener Meriah misalnya, satu-satunya sumber penghasilan masyarakat bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Sedangkan, disaat yang bersamaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh tidak memberikan solusi konkrit sama sekali, seharusnya mereka memikirkan bagaimana membuat program-program yang dapat memberi Ekonomi “Nilai tambah” bagi masyarakat.

Selain itu, dia menilai pernyataan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Aceh tersebut tidak berbasis data dan penelitian yang saintifik—sebagaimana yang tertulis pada salah satu media, “Saya pernah dengar kalau tomat di Bener Meriah itu lebih asam dan cepat busuk, sehingga pedagang enggan membelinya. Maka, cara mengatasi hal tersebut yaitu dengan rekayasa pertaniaan untuk mengubah kualitasnya. Karena berdagang itu harus kreatif. Jadi, buatlah sesuai yang orang suka, agar produknya laku,”. Pernyataan seperti itu jelas tidak mencerminkan pernyataan yang disampaikan oleh seorang pejabat publik.

Dengan begitu, pernyataan tersebut berpontensi menimbulkan Preseden buruk bagi produksi tomat Bener Meriah di masa mendatang. Bagaimana tidak, pernyataan asal-asalan seperti itu, apalagi disampaikan oleh seorang pejabat publik, jelas akan menurunkan tingkat kepercayaan pasar terhadap kualitas tomat Bener Meriah.

“Terakhir, ditengah situasi sulit yang dihadapi masyarakat seperti sekarang ini, saya meminta kepada Pemerintah Aceh, untuk memberi respon-respon yang solutif atas setiap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, bukan malah memberi pernyataan ngawur—yang menyalahkan sana-sini,”harapnya.

Tak berhenti disitu saja, Hendra Budian meminta kepada Gubernur Aceh untuk memberikan tindakan tegas kepada bawahan-bawahannya yang suka memberikan pernyataan-pernyataan ngawur yang menimbulkan kegaduhan ditengah-tengah masyarakat, bila perlu “Pecat” saja.

“Untuk persoalan yang krusial, apalagi bersentuhan langsung dengan Ekonomi masyarakat, saya meminta setiap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Aceh didasari dengan kajian-kajian yang komprehensif,” Pungkas Hendra Budian. (*)

BERBAGI