Banda Aceh – Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Aceh memperkuat koordinasi relawan dan distribusi bantuan pascabanjir serta tanah longsor yang melanda Aceh tahun 2025. Meski berbagai lembaga kemanusiaan telah masuk ke Aceh, terbatasnya akses menuju banyak wilayah terdampak membuat pelayanan bagi masyarakat masih belum optimal.
Ketua Forum PRB Aceh, Hasan Bangka, mengatakan bahwa hambatan paling signifikan dalam penanganan darurat saat ini adalah putusnya konektivitas jalan dari Banda Aceh menuju kawasan timur, terutama di Kabupaten Bireuen. Kondisi ini menyebabkan distribusi logistik ke Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Tamiang, Aceh Timur, hingga Kota Langsa berjalan sangat lambat.
“Putusnya koneksitas jalan di Bireuen menjadi tambahan bencana bagi masyarakat. Sampai hari ini, jalur timur ke Medan masih belum tembus. Hanya jalur Medan ke Aceh Tamiang yang bisa dilewati,” ujar Hasan Bangka, Banda Aceh, Selasa (9/12/2025).
Selain kawasan timur, wilayah tengah seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Dataran Tinggi Gayo, Subulussalam, hingga Aceh Singkil juga turut mengalami dampak luas akibat bencana hidrometeorologi tersebut.
Menghadapi keterbatasan akses dan informasi di lapangan, Forum PRB Aceh mengambil langkah strategis dengan menggerakkan 23 paguyuban dan organisasi mahasiswa kabupaten/kota yang berada di Banda Aceh. Para mahasiswa tersebut dipulangkan ke gampong masing-masing untuk memperkuat aksi kemanusiaan di tingkat lokal.
“Kita pulangkan mereka agar lebih memahami kondisi daerahnya. Mereka kita jadikan relawan dan kita backup kebutuhan logistik. Ini langkah pertama yang kami lakukan,” jelas Hasan Bangka.
Posko-posko mahasiswa yang telah bergerak sebelumnya juga ditata ulang agar lebih terorganisir dan mampu menembus wilayah yang sampai kini masih terisolasi.
Gangguan jaringan telekomunikasi turut memperlambat proses pelaporan dan koordinasi antarposko. Namun menurut Hasan, keberadaan relawan yang berasal dari daerah masing-masing menjadi solusi penting dalam mengatasi kekosongan informasi di lapangan.
“Dengan membawa kelompok mahasiswa kembali ke kampung mereka, mereka tahu medan dan kondisi sosialnya. Mereka lebih arif mengambil keputusan di lapangan meskipun komunikasi internet masih lemah,” terangnya.
Forum PRB Aceh menegaskan bahwa mekanisme penyaluran bantuan harus diatur kembali untuk menghindari tumpang tindih di satu sisi dan kekosongan bantuan di sisi lain, terutama daerah yang belum dapat diakses kendaraan.
“Semua jaringan bantuan harus kita organisir lebih efektif. Relawan yang memang capable perlu didorong untuk menerobos lokasi-lokasi yang masih terisolir,” kata Hasan Bangka.
Untuk fase pemulihan jangka panjang, Forum PRB Aceh mendorong keterlibatan NGO internasional, termasuk dari Malaysia, mengingat banyak rumah dan lahan warga yang rusak berat.
“Rumah-rumah dan lahan warga banyak yang rusak total. Kita harus merespon cepat. Minimal pekerjaan pembersihan rumah, lahan, dan lingkungan harus dilakukan agar aktivitas ekonomi warga bisa kembali berjalan,” ungkapnya.(*)













