Sabang – Di hamparan biru perairan Kota Sabang, berdiri sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang menyimpan pesona luar biasa. Pulau Klah menjadi salah satu destinasi bahari unggulan di ujung barat Indonesia, menawarkan perpaduan antara keindahan bawah laut, panorama perbukitan, serta ketenangan yang sulit ditemukan di kawasan wisata lain.
Pulau ini berada di kawasan Teluk Sabang dan dapat diakses menggunakan perahu dari kawasan Krueng Raya dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Dari jalur Balohan menuju pusat kota Sabang, siluet Pulau Klah terlihat jelas, seolah menyambut setiap pendatang yang menginjakkan kaki di Pulau Weh.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan Pulau Klah memiliki daya tarik utama pada kejernihan air laut dan keindahan terumbu karang alaminya. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu spot favorit wisatawan untuk snorkeling maupun diving.
“Pulau Klah menawarkan pengalaman wisata yang berbeda karena memadukan keindahan bawah laut dan panorama perbukitan dalam satu kawasan. Ini menjadi salah satu destinasi andalan Sabang yang terus kami dorong promosi dan pengelolaannya,” ujar Harry, Sabtu (31/1/2026).
Air laut di sekitar pulau ini terkenal sangat jernih, memungkinkan wisatawan melihat langsung aneka biota laut dari permukaan. Terumbu karang yang masih terjaga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan tropis berwarna-warni. Salah satu spot yang cukup populer di kalangan penyelam adalah area yang dikenal sebagai “Kampung Nemo”, tempat ikan badut kerap terlihat berenang di antara anemon laut.
Tak hanya snorkeling dan diving, perairan di sekitar Pulau Klah juga sering dimanfaatkan untuk aktivitas memancing. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang untuk menikmati sensasi memancing dengan latar perairan lepas Samudera Hindia.
Keunikan Pulau Klah tidak hanya terletak di bawah permukaan lautnya. Dari ketinggian perbukitan di sekitarnya, wisatawan dapat menikmati pemandangan spektakuler yang memadukan birunya laut dengan hijaunya vegetasi alami. Salah satu titik favorit adalah Klah View Point atau Puncak Cot Batree. Dari sini, Pulau Klah tampak seperti permata kecil yang mengapung di tengah lautan.
Di kawasan ini, sejumlah pondok sederhana berdiri sebagai tempat singgah wisatawan. Sambil menikmati rujak Aceh atau kelapa muda, pengunjung dapat bersantai dan menyaksikan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Momen matahari terbenam menjadi salah satu daya tarik utama yang kerap diburu para fotografer.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krueng Raya, Irwansyah, mengungkapkan keberadaan Pulau Klah turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Jasa penyeberangan perahu dan usaha kuliner menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.
“Wisatawan biasanya menyeberang sekitar 15 menit dari Pantai Krueng Raya untuk menikmati snorkeling di sekitar Pulau Klah. Kami bersama masyarakat terus menjaga ekosistem laut agar tetap alami dan nyaman dikunjungi,” ujar Irwansyah.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian kawasan. Warga setempat rutin mengingatkan pengunjung untuk tidak merusak terumbu karang maupun membuang sampah sembarangan. Upaya ini dilakukan agar daya tarik alami Pulau Klah tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Sebagai pulau yang tidak berpenghuni, Pulau Klah menawarkan suasana sunyi dan eksklusif. Tidak ada bangunan permanen maupun fasilitas komersial besar di atasnya. Hal ini justru menjadi nilai lebih bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk kota.
Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Klah adalah saat cuaca cerah, terutama pada pagi hingga sore hari. Pada kondisi laut yang tenang, kejernihan air terlihat maksimal dan aktivitas snorkeling menjadi lebih aman. Sementara menjelang senja, panorama langit yang berubah warna menciptakan suasana romantis yang memikat.
Pemerintah Kota Sabang terus mendorong pengelolaan Pulau Klah berbasis keberlanjutan. Konsep wisata ramah lingkungan menjadi prioritas agar pertumbuhan kunjungan tidak berdampak negatif terhadap ekosistem laut. Edukasi kepada wisatawan dan pelaku usaha lokal terus dilakukan untuk memastikan praktik pariwisata yang bertanggung jawab.
Pulau Klah menjadi pelengkap pesona bahari Sabang yang selama ini dikenal dengan destinasi unggulan seperti Pantai Iboih dan Tugu Kilometer Nol Indonesia. Keberadaannya memperkuat citra Sabang sebagai gerbang wisata paling barat Indonesia yang kaya akan panorama alam dan keindahan bawah laut.
Dengan kombinasi petualangan bawah laut dan relaksasi di ketinggian, Pulau Klah menghadirkan pengalaman wisata yang utuh. Di tempat ini, wisatawan dapat menyelam di antara terumbu karang pada pagi hari, lalu menikmati panorama matahari terbenam dari puncak perbukitan di sore hari.
Di ujung barat Nusantara, Pulau Klah berdiri sebagai simbol harmoni antara alam dan manusia. Keasrian yang masih terjaga menjadi pengingat bahwa potensi wisata tidak selalu harus dibangun dengan gemerlap fasilitas, melainkan dapat tumbuh dari keindahan alami yang dirawat bersama.(*)













