Sabang – Komitmen menjaga kelestarian satwa laut langka kembali ditegaskan Pemerintah Kota Sabang melalui peluncuran Kawasan Ekowisata Penyu Ie Meulee di Pantai Keramat, Jumat (23/1/2026).
Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam, dirangkai dengan edukasi lingkungan, penandatanganan Deklarasi Ie Meulee, serta pelepasan 82 ekor tukik penyu sisik ke laut.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam penguatan Sabang sebagai kota wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan dan berbasis konservasi. Kawasan Ie Meulee diproyeksikan sebagai pusat konservasi, edukasi, dan wisata ramah lingkungan yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) merupakan satwa laut yang dilindungi dan tergolong langka. Habitatnya tersebar terbatas di beberapa wilayah pesisir tropis, termasuk di Sabang. Keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem laut dan pesisir.
Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa pelestarian penyu sisik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Penyu sisik adalah hewan langka yang harus kita lestarikan. Harapan kita kepada warga Ie Meulee dan seluruh masyarakat Sabang agar terus menjaga ekosistemnya. Terima kasih kepada kelompok konservasi yang selama ini telah bekerja keras menjaga penyu sisik ini,” ujar Zulkifli.
Pemerintah Kota Sabang berkomitmen menjaga habitat alami penyu, termasuk dengan membatasi pembangunan yang berpotensi mengganggu ekosistem pesisir. Anggaran gampong juga akan diarahkan untuk mendukung perlindungan kawasan konservasi di Ie Meulee.
Pengembangan Ekowisata Penyu Ie Meulee dirancang sebagai model wisata berbasis konservasi. Konsep ini mengedepankan keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Rencana pembangunan penangkaran penyu, penyediaan pos pantau, serta patroli kawasan akan diperkuat melalui regulasi berupa Peraturan Wali Kota dan penguatan qanun. Dukungan dari Pemerintah Aceh hingga kementerian terkait juga diharapkan dapat mempercepat realisasi pengembangan kawasan tersebut.
Melalui ekowisata, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama konservasi. Wisatawan nantinya dapat belajar langsung tentang siklus hidup penyu, pentingnya menjaga vegetasi pantai, serta dampak sampah plastik terhadap biota laut.
Momentum launching turut ditandai dengan penandatanganan Deklarasi Ie Meulee oleh Wali Kota Sabang bersama unsur Forkopimda dan tamu undangan. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen kolektif dalam menjaga kelestarian penyu sisik dan ekosistem pesisir Pantai Keramat.
Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, kelompok konservasi, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi utama keberhasilan program ini. Tanpa kolaborasi, upaya konservasi sulit berjalan optimal.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan 82 ekor tukik hasil relokasi telur penyu yang diselamatkan dari potensi gangguan di habitat alaminya. Pelepasan dilakukan langsung oleh Wali Kota bersama Forkopimda, tamu undangan, serta melibatkan siswa SD Negeri 5 Sabang dan TK Negeri 7 Sabang.
Keterlibatan anak-anak menjadi bagian dari edukasi lingkungan sejak dini, menanamkan kesadaran bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan.
Konservasi Bahari Ie Meulee, Marzuki, menjelaskan bahwa pelepasan ini merupakan yang pertama di Kota Sabang. Ia menegaskan bahwa Pantai Keramat Ie Meulee yang ditumbuhi pohon pandan merupakan ekosistem alami penyu sisik dan tidak boleh dirusak.
Secara ilmiah, penyu memiliki insting kembali ke pantai tempat ia menetas untuk bertelur. Artinya, tukik yang dilepas hari ini berpotensi kembali ke Ie Meulee sekitar 20–25 tahun mendatang.
“Prosesnya panjang. Karena itu ekosistemnya harus benar-benar kita jaga. Perlindungan habitat dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan konservasi,” jelasnya.
Pengembangan Ekowisata Penyu Ie Meulee diharapkan memberi dampak positif ganda: pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi lokal. Wisata berbasis konservasi membuka peluang usaha baru, mulai dari pemandu wisata, homestay, kuliner, hingga produk UMKM ramah lingkungan.
Dengan tetap menjaga keseimbangan alam, Sabang dapat memperkuat citranya sebagai destinasi wisata bahari yang bertanggung jawab dan berkelas internasional.
Launching Ekowisata Penyu Ie Meulee bukan sekadar seremoni, melainkan langkah nyata menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dari Ie Meulee, pesan konservasi digaungkan: menjaga penyu berarti menjaga laut, menjaga laut berarti menjaga kehidupan.
Pemerintah Kota Sabang optimistis, dengan kolaborasi semua pihak, kawasan ini akan menjadi contoh sukses pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat di Aceh bahkan nasional. Dari Ie Meulee untuk masa depan Sabang melangkah pasti menjaga warisan alam demi generasi mendatang.(*)













