DaerahHeadline

Bupati Ismail: Banjir Aceh Utara Lebih Parah dari Tsunami, 25 Kecamatan Lumpuh Tanpa Sinyal

×

Bupati Ismail: Banjir Aceh Utara Lebih Parah dari Tsunami, 25 Kecamatan Lumpuh Tanpa Sinyal

Share this article
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., MM menyampaikan kondisi banjir besar yang melumpuhkan 25 dari 27 kecamatan di Aceh Utara. Ia menegaskan bencana tersebut lebih parah dari tsunami, namun tidak viral akibat padamnya listrik dan jaringan komunikasi di wilayah terdampak. Foto: (Tangkapan Layar Media Sosial).

ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., MM mengungkapkan bahwa bencana banjir yang melanda wilayahnya jauh lebih parah dibandingkan tsunami, namun luput dari perhatian nasional karena lumpuhnya jaringan listrik dan telekomunikasi di hampir seluruh daerah terdampak.

Dari total 27 kecamatan di Aceh Utara, sebanyak 25 kecamatan terdampak langsung banjir besar. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah-wilayah terisolasi tidak mampu menyampaikan informasi ke luar daerah, sehingga bencana tidak viral di media sosial.
“Bagaimana saya mau rasa apa, kami tidak tahu ada banjir di luar sana. Di Aceh Utara, sinyal HP mati total, Telkom mati, listrik padam. Kami hanya bisa melihat rumah hanyut, sarana ibadah hanyut, bahkan manusia hanyut di bawah arus,” ujar Ismail dengan suara bergetar.

Ia menjelaskan, warga hanya bisa bertahan di atap rumah dan atap meunasah tanpa bisa meminta bantuan secara daring. Menurutnya, beberapa wilayah lain sempat viral karena berada di kawasan perkotaan atau infrastruktur vital seperti jembatan putus, sementara kondisi di pedalaman Aceh Utara luput dari sorotan.
“Mungkin viralnya di Bireun karena jembatan putus, atau di Teming karena kota. Tapi di Aceh Utara, hampir seluruh kecamatan terdampak dan tidak ada sinyal untuk memviralkan kondisi kami,” katanya.

Ismail juga mengaku pernah menangis meminta bantuan pesawat kepada pemerintah pusat untuk mengirim logistik ke daerah-daerah yang benar-benar terisolasi. Ia menyebut banyak gampong hancur total akibat perubahan alur sungai secara drastis.
“Dari hulu sampai ke hilir, gampong-gampong dibuat muara baru. Satu gampong bisa lima sampai tujuh muara baru. Rumah-rumah masyarakat tidak ada lagi,” ungkapnya.

Bupati menilai bencana ini lebih dahsyat daripada tsunami karena dampaknya merata dari pegunungan hingga pesisir. Ia menyayangkan minimnya kehadiran pejabat pusat akibat kurangnya informasi lapangan.

Meski demikian, Ismail menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wakil Komisi V DPR RI dan Ketua MPR RI yang turun langsung ke Aceh Utara. Ia bahkan menolak agenda penyambutan resmi demi membawa para pejabat melihat langsung kondisi terparah di lapangan.
“Saya bilang, tidak usah saya hadir di bandara. Saya mau di tempat kejadian, supaya mereka lihat kondisi yang sebenarnya. Ini tidak saya besar-besarkan,” tegasnya.(*)