HeadlinePariwara

Tugu Kilometer Nol, Ikon Wisata yang Menghidupkan Ekonomi UMKM Sabang

×

Tugu Kilometer Nol, Ikon Wisata yang Menghidupkan Ekonomi UMKM Sabang

Share this article
Lapak pedagang pakaian dan souvenir Sabang di kawasan wisata Tugu Kilometer Nol Sabang, yang menjadi salah satu penopang ekonomi UMKM lokal. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Di ujung barat Indonesia, berdiri sebuah monumen yang tidak hanya menjadi simbol geografis, tetapi juga denyut nadi ekonomi masyarakat Sabang: Tugu Kilometer Nol. Ikon nasional ini telah menjelma menjadi destinasi wisata utama yang memberikan pengaruh signifikan bagi kesejahteraan pelaku UMKM, mulai dari pedagang kuliner hingga penjual souvenir khas Sabang.

Setiap hari, tugu yang terletak di Kecamatan Sukakarya ini tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Arus pengunjung yang datang untuk mengabadikan momen di titik paling barat Indonesia itu menciptakan peluang ekonomi yang terus berkembang bagi warga setempat.

Pertumbuhan wisata di Tugu Kilometer Nol membawa harapan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Banyak di antara mereka yang memulai usaha dari lapak kecil, lalu berkembang secara perlahan hingga mampu menopang ekonomi keluarga.

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan perubahan itu adalah Ety, penjual rujak khas Aceh yang lapaknya sudah menjadi langganan banyak wisatawan. Selama 12 tahun berjualan di kawasan KM 0, ia melihat sendiri bagaimana destinasi ini berkembang pesat dan memberikan dampak langsung terhadap pendapatannya.

“Kalau akhir pekan, mulai Jumat sampai Minggu, keuntungan bisa dua kali lipat dari hari biasa, sampai Rp1.500.000 per hari,” ujar Ety, Minggu (05/10/2025).
Sementara pada momen libur panjang, ia bahkan mampu meraup untung hingga Rp3 juta–4 juta per hari.

Angka penjualan rujak pun meningkat tajam seiring ramainya wisatawan. Pada hari biasa, ia hanya mampu menjual 5–25 cup. Namun saat akhir pekan, angka itu melonjak drastis hingga 150 cup. Bahkan ketika musim liburan tiba, rujak Ety bisa terjual antara 300 hingga 400 cup per hari.

“Biasanya satu rol itu untuk 50 cup. Tapi kalau hari ramai, bisa habis tiga kali lipat lebih. Alhamdulillah, sudah banyak yang kenal rujak saya, dari warga Sabang sampai turis luar,” tambahnya sambil tersenyum.

Tidak hanya kuliner yang berkembang. Souvenir khas Sabang juga menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi di kawasan KM Nol. Di sepanjang area wisata, deretan pedagang menyediakan berbagai pilihan oleh-oleh bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan dari Sabang.

Ami, salah satu pedagang baju dan aksesoris Sabang, merasakan betul dinamika pengunjung yang berpengaruh pada pendapatannya.

“Kalau hari biasa, pembeli cuma sekitar 10 orang. Tapi kalau akhir pekan dan libur panjang, bisa sampai 50–100 orang,” ungkap Ami.

Keuntungan yang didapat pun bervariasi. Pada hari biasa, ia bisa membawa pulang pendapatan sekitar Rp500 ribu per hari. Sementara pada akhir pekan, angkanya melonjak tajam menjadi Rp1 juta hingga Rp2,5 juta per hari, tergantung keramaian.

“Barang yang saya jual macam-macam. Ada baju kaos Sabang, tunik, cardigan, baju anak-anak, sampai aksesoris Sabang dengan harga mulai Rp35 ribu sampai Rp120 ribu. Pengunjung suka karena motifnya khas,” ujarnya.

Ami juga menjelaskan bahwa persaingan pedagang di kawasan tersebut cukup tinggi, mengingat banyaknya pelapak yang menjual produk serupa. Namun menurutnya, setiap pedagang tetap memiliki pelanggan masing-masing karena perbedaan kualitas dan variasi barang.

Tugu Kilometer Nol bukan hanya monumen yang menandakan titik paling barat Indonesia. Ia adalah pengalaman wisata itu sendiri mengabadikan foto di depan tugu, menikmati angin laut, menyaksikan pemandangan alam Pulau Weh, hingga mencicipi kuliner lokal yang lezat.

Kawasan ini telah berkembang menjadi ruang publik yang hangat bagi semua kalangan. Area parkir diperluas, pedagang ditata, spot foto ditingkatkan, dan fasilitas umum diperbaiki untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Hal ini membuat kawasan KM Nol semakin diminati setiap tahunnya.

Bagi masyarakat setempat, tingginya kunjungan wisatawan menjadi berkah. Wisatawan yang datang tidak hanya sekadar melihat tugu, tetapi juga menikmati berbagai kuliner lokal, membeli souvenir, memotret panorama alam, hingga menyaksikan sunset di garis cakrawala.

Bahkan di beberapa waktu tertentu, lokasi ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara besar tingkat nasional maupun internasional, termasuk kegiatan sepeda, touring otomotif, hingga event budaya Sabang–Weh.

Sebagai salah satu pusat ekonomi mikro terbesar di Sabang, keberlanjutan kawasan wisata Kilometer Nol menjadi harapan besar para pedagang. Mereka berharap pemerintah terus mendukung dan menata kawasan tersebut agar semakin nyaman bagi wisatawan.

Mulai dari penyediaan tempat usaha yang tertata rapi, peningkatan fasilitas umum, hingga pemberian pelatihan kepada UMKM tentang manajemen usaha dan pemasaran digital.

Dengan pengelolaan yang baik dan konsisten, Tugu Kilometer Nol tidak hanya akan menjadi ikon nasional yang dikenal luas, tetapi juga pusat ekonomi kreatif Sabang yang kuat dan mandiri.

Bagi masyarakat Sabang, Tugu KM Nol bukan sekadar monumen, tetapi simbol harapan bahwa pariwisata dapat menjadi pendorong ekonomi lokal. Setiap wisatawan yang datang berarti berkah bagi pedagang kecil, nelayan, transportasi lokal, hingga pelaku jasa lainnya.

Ketika para wisatawan tersenyum, membeli souvenir, menikmati rujak, atau mengabadikan foto, di balik itu semua ada pelaku UMKM yang turut tersenyum karena ekonomi keluarga mereka ikut bergerak.

Dengan terus meningkatnya popularitas Sabang sebagai destinasi wisata nasional dan internasional, masa depan UMKM di kawasan KM Nol diprediksi akan semakin cerah. Pada akhirnya, Tugu Kilometer Nol bukan hanya titik penghubung Indonesia, tetapi juga titik perjuangan dan kemajuan masyarakat Sabang.(*)

Advertorial.