Banda Aceh – Lembaga Institute for Statistics and Socio-Ecological Development (ISSED) merilis elektabilitas pasangan calon Wali Kota dan Wali Kota Banda Aceh 2024, dan menunjukkan pasangan nomor urut 1 Illiza Sa’aduddin Djamal-Afdhal Khalilullah mengungguli tiga pasangan lainnya dengan angka 46,78 persen.
Hasil survei demokrasi dan analisis sentimen publik Kota Banda Aceh dirilis ISSED dalam
Survei pertama dilakukan pada Juli 2024 di 80 desa dalam sembilan kecamatan di Kota Banda Aceh dengan jumlah sampel 1.155 responden. Margin of error survei 2,87 persen.
Sedangkan survei kedua digelar pada 11-18 November 2024 dengan metodologi dan rancangan survei descriptive statistics dan cross-tabulation analysis (crosstab).
“Sampel dipilih secara acak di 9 kecamatan, 9 desa dan 900 responden. Margin Of Error survei tersebut 3,26 persen,” katanya.
Dari hasil survei itu, diketahui elektabilitas Illiza berada di puncak dengan pertanyaan ‘jika Pilkada dilaksanakan pada hari ini, siapa dari 4 paslon wali kota berikut Anda pilih?’. Berikut hasil survei berdasarkan nomor urut paslon:
1. Illiza Sa’aduddin Djamal-Afdhal Khalilullah: 46,78 persen
2. Zainal Arifin-Mulia Rahman: 4,33 persen
3. Aminullah Usman-Isnaini Husda: 13,56 persen
4. Teuku Irwan Djohan-Khairul Amal: 21,67 persen
Tidak menjawab: 13,6 persen.
Sementara itu, untuk elektabilitas calon wali kota tanpa pasangan yang dilakukan pada Juli 2024 juga menunjukkan Illiza lebih unggul dibandingkan tiga orang lainnya. Hasil survei itu adalah:
1. Illiza: 57,32 persen
2. –
3. Aminullah: 10,39 persen
4. Irwan Djohan: 26,84 persen
Tidak menjawab: 2,68 persen
“Ketika kita melakukan survei pada bulan Juli, kita belum memasukkan nama pak Zainal, tapi saat itu kita memasukkan nama pak Pj wali kota Amiruddin,” tuturnya.
Sementara ketika dilakukan survei November, elektabilitas calon wali kota adalah:
1. Illiza: 46,78 persen
2. Zainal Arifin: 4,33 persen
3. Aminullah: 13,56 persen
4. Irwan: 21,68 persen
Tidak menjawab: 13,67 persen
Menurutnya, 17 persen pemilih mengaku pernah mengubah pilihannya sejak diumumkan pasangan calon. Mereka kebanyakan mengubah sekali dan ada juga pemilih mengaku mengubah lebih dari dua kali.
“Alasan mereka mengubah pilihannya di antaranya karena ketidaksesuaian visi misi (51,33 persen), paslon terlibat dalam kasus tertentu (37,11), kecakapan dalam debat (27,44 persen), dan beberapa alasan lainnya,” tutup Nurfajri Aldi. (*)












