Oleh: Dr. Muhammad Syarif, S.Pd.I., M.A. Dosen Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh
KEPERGIAN Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto pada 13 Juni 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Di usia 86 tahun, tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017 itu mengakhiri perjalanan panjang pengabdiannya kepada tanah yang sangat dicintainya. Namun, seperti halnya para tokoh besar dalam sejarah, wafatnya Abu Doto tidak hanya menghadirkan kesedihan, melainkan juga mengundang refleksi tentang jejak perjuangan dan warisan yang telah ia tinggalkan.
Dalam sejarah Aceh modern, Abu Doto bukan sekadar seorang dokter atau mantan gubernur. Ia adalah sosok yang hadir dalam berbagai fase penting perjalanan Aceh, mulai dari masa konflik, proses perdamaian, hingga era pembangunan pascakonflik. Perjalanan hidupnya mencerminkan bagaimana seseorang dapat mengabdikan diri kepada masyarakat melalui berbagai peran sesuai kebutuhan zaman.
Sebagai dokter, Abu Doto memulai karier pengabdiannya dengan membantu masyarakat di bidang kesehatan. Namun, dinamika sosial dan politik Aceh yang berkembang pada masa itu membawanya memasuki ruang perjuangan yang lebih luas. Ia tidak memilih menjadi penonton ketika Aceh berada dalam pusaran konflik berkepanjangan. Sebaliknya, ia mengambil posisi sebagai bagian dari upaya mencari jalan keluar bagi masa depan daerah ini.
Di sinilah nama Abu Doto kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perdamaian Aceh. Perdamaian yang saat ini dinikmati masyarakat bukanlah hadiah yang datang begitu saja. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang penuh tantangan, dialog, kompromi, dan pengorbanan. Banyak tokoh berkontribusi dalam proses tersebut, dan Abu Doto termasuk salah satu figur yang memainkan peran strategis dalam membangun komunikasi serta memperjuangkan penyelesaian konflik melalui jalan damai.
Sering kali generasi muda Aceh hari ini tidak sepenuhnya memahami betapa mahal harga sebuah perdamaian. Mereka tumbuh dalam suasana yang relatif aman, bebas bepergian, belajar, bekerja, dan membangun masa depan tanpa dibayangi ketakutan yang pernah dirasakan generasi sebelumnya. Padahal, kondisi yang mereka nikmati saat ini merupakan buah dari perjuangan panjang banyak pihak yang meyakini bahwa dialog lebih bermakna daripada pertumpahan darah.
Karena itu, mengenang Abu Doto bukan hanya mengenang seorang individu, melainkan juga mengingat kembali nilai perdamaian yang telah mengubah wajah Aceh. Perdamaian bukan sekadar berhentinya konflik, tetapi juga terbukanya ruang bagi pembangunan, pendidikan, investasi, dan kehidupan sosial yang lebih baik. Tanpa perdamaian, berbagai capaian pembangunan yang ada saat ini mungkin tidak akan pernah terwujud.
Setelah perdamaian tercapai, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa hasil perjuangan tersebut dapat diterjemahkan dalam bentuk kesejahteraan masyarakat. Saat memimpin Aceh sebagai gubernur, Abu Doto berusaha menjalankan amanah tersebut. Tentu, seperti pemimpin lainnya, kebijakannya tidak lepas dari kritik dan perbedaan pandangan. Dalam sistem demokrasi, hal itu merupakan sesuatu yang wajar dan bahkan diperlukan.
Namun, sejarah tidak hanya menilai seseorang dari keberhasilan atau kekurangan selama memegang jabatan. Sejarah juga melihat konteks zaman, kontribusi, serta dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat. Dalam perspektif tersebut, Abu Doto telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perjalanan Aceh. Ia menjadi bagian dari generasi yang membantu mengantarkan Aceh keluar dari konflik menuju kehidupan yang lebih damai dan terbuka.
Kepergian Abu Doto juga menjadi pengingat bahwa Aceh masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Persoalan ekonomi, kualitas pendidikan, pengangguran, penguatan sumber daya manusia, hingga menjaga persatuan masyarakat tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Dalam konteks ini, semangat pengabdian yang ditunjukkan Abu Doto menjadi relevan untuk diwariskan kepada generasi muda.
Ada setidaknya tiga pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan hidupnya. Pertama, pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai profesi dan bidang kehidupan. Kedua, dialog dan komunikasi selalu menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan perbedaan. Ketiga, perdamaian harus terus dijaga karena menjadi fondasi utama bagi pembangunan dan kemajuan daerah.
Pada akhirnya, sejarah akan menempatkan setiap tokoh sesuai dengan kontribusi yang telah diberikannya. Abu Doto telah meninggalkan jejak sebagai dokter, pejuang, tokoh perdamaian, dan pemimpin daerah. Jejak tersebut akan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh, bukan semata-mata karena jabatan yang pernah diembannya, tetapi karena peran yang dimainkannya pada saat-saat penting dalam perjalanan daerah ini.
Seorang tokoh boleh berpulang, tetapi nilai-nilai yang diperjuangkannya tidak boleh ikut terkubur. Warisan terbesar Abu Doto bukanlah kekuasaan atau kedudukan, melainkan keyakinan bahwa perdamaian, pengabdian, dan kepedulian terhadap masyarakat adalah fondasi bagi masa depan Aceh yang lebih baik.
Selamat jalan, Abu Doto. Aceh akan selalu mengenang jejak pengabdianmu.(*)
Penulis merupakan Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam (FAI) USM Banda Aceh.












