HeadlineOpini

Aroma Bara di Samahani: Tradisi yang Tak Pernah Padam

×

Aroma Bara di Samahani: Tradisi yang Tak Pernah Padam

Share this article

OPINI

Ikan tongkol berukuran besar dibakar di atas bara api menggunakan cara tradisional di kawasan Samahani, Aceh Besar. Kuliner khas ini menjadi favorit masyarakat, terutama saat Ramadan, dengan cita rasa gurih dan aroma asap yang menggugah selera. Foto: Evi Susanti.

Oleh :Evi Susanti, S.H.
Ketua Komunitas Literasi Kayang, Banda Aceh

Ramadan selalu menghadirkan cerita. Bukan hanya tentang ibadah yang kian khusyuk, tetapi juga tentang kebersamaan yang terjalin di meja makan saat azan magrib berkumandang. Di tengah beragam sajian modern yang semakin menjamur, ada satu kuliner sederhana yang tetap bertahan dan justru menjadi primadona: ikan bakar Samahani.

Di sepanjang jalan lintas Medan–Banda Aceh, khususnya di Mukim Samahani yang berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, aroma ikan bakar seolah menjadi penanda khas wilayah tersebut. Asap tipis yang mengepul dari bara api, berpadu dengan wangi bumbu sederhana, mampu menggugah selera siapa saja yang melintas.

Ikan bakar Samahani bukan sekadar hidangan. Ia adalah identitas, tradisi, sekaligus denyut ekonomi masyarakat setempat. Para pedagang seperti Pak Saiful dengan brand “Ikan Panggang Awak Away”-nya mempertahankan cara pengolahan tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Ikan tongkol berukuran besar direndam dalam campuran cuka aren, garam, dan jeruk purut bumbu yang tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak keistimewaannya.

Tidak ada saus instan atau bumbu pabrikan yang berlebihan. Kesederhanaan itu menghasilkan cita rasa yang jujur: gurih, segar, dan sedikit asam yang menyatu sempurna. Ikan kemudian ditusuk dengan bilah bambu agar tetap utuh saat dibakar di atas bara.
Proses pembakaran tradisional inilah yang menciptakan aroma asap khas sesuatu yang sulit ditiru oleh alat pemanggang modern.

Dalam konteks Ramadan, ikan bakar Samahani memiliki makna lebih. Ia menjadi simbol kebersamaan keluarga. Dibungkus rapi untuk dibawa pulang, lalu disajikan bersama nasi putih hangat dan sambal kecap pedas, hidangan ini terasa begitu istimewa. Kesederhanaannya justru mengajarkan esensi Ramadan: tidak berlebih-lebihan, tetapi penuh rasa syukur.

Lebih dari itu, kuliner ini juga menunjukkan bagaimana tradisi lokal mampu bertahan di tengah arus globalisasi. Di saat berbagai makanan cepat saji dan tren kuliner kekinian bermunculan, ikan bakar Samahani tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Ia membuktikan bahwa kekuatan rasa dan keaslian proses tidak mudah tergantikan.

Dari sudut pandang sosial, geliat penjualan ikan bakar di sepanjang jalan di Samahani juga menggerakkan roda ekonomi warga. Ramadan menjadi momentum peningkatan pendapatan bagi para pedagang. Setiap pembelian bukan hanya soal menikmati makanan lezat, tetapi juga bentuk dukungan terhadap usaha lokal.

Kita sering berbicara tentang pelestarian budaya, namun lupa bahwa budaya tidak hanya hidup di museum atau panggung seni. Ia hidup di dapur, di pasar, di pinggir jalan, dan di tangan para pedagang kecil yang setia menjaga resep turun-temurun. Ikan bakar Samahani adalah salah satu wujud nyata budaya kuliner Aceh yang patut dijaga dan dipromosikan.

Menikmati ikan bakar Samahani saat berbuka puasa bukan sekadar memanjakan lidah. Ia adalah cara sederhana untuk merayakan tradisi, mempererat kebersamaan, dan menghargai kerja keras masyarakat lokal. Di tengah mentari yang terik atau senja yang perlahan meredup menjelang azan, aroma ikan bakar itu seolah mengingatkan kita bahwa kenikmatan sejati sering kali lahir dari hal-hal yang sederhana.

Ramadan mengajarkan keseimbangan antara menahan diri dan mensyukuri nikmat. Dan di Samahani, keseimbangan itu terasa dalam setiap gigitan ikan bakar yang gurih dan hangat.
Semoga cita rasa ini terus lestari, bukan hanya sebagai kuliner musiman Ramadan, tetapi sebagai kebanggaan Aceh yang diwariskan dari generasi ke generasi.(*)