HeadlineNasional

Masjid Raya Baiturrahman dan Denyut Wisata Aceh yang Terus Bergerak

×

Masjid Raya Baiturrahman dan Denyut Wisata Aceh yang Terus Bergerak

Share this article
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, dipadati masyarakat saat berlangsungnya sebuah acara keagamaan, dengan latar ikon masjid kebanggaan rakyat Aceh. Foto: (Humas Disbudpar Aceh).

Banda Aceh – Sore itu, halaman Masjid Raya Baiturrahman tampak lebih hidup dari biasanya. Ribuan masyarakat memadati pelataran masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut. Sebagian duduk bersila di atas sajadah, sebagian lain berjalan perlahan menikmati suasana, sementara kubah hitam masjid berdiri megah di bawah langit Banda Aceh yang mulai beranjak senja.

Masjid yang menjadi saksi sejarah panjang Aceh ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga magnet wisata religi yang tak pernah kehilangan pesonanya. Setiap hari, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk beribadah, berfoto, atau sekadar merasakan ketenangan di jantung Kota Banda Aceh.

Fenomena itu sejalan dengan meningkatnya pergerakan wisatawan ke Aceh sepanjang tahun 2025. Hingga November 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Provinsi Aceh tercatat mencapai 18,3 juta perjalanan, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 12,9 juta kunjungan. Wisatawan nusantara masih menjadi tulang punggung utama pergerakan wisata, sementara wisatawan mancanegara juga terus menunjukkan tren positif.

Puncak kunjungan terjadi pada April 2025, bertepatan dengan libur panjang. Saat itu, berbagai destinasi wisata Aceh mulai dari pantai, pegunungan, hingga wisata religi dipadati pengunjung. Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu destinasi yang nyaris tak pernah sepi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, menyebut tingginya minat wisatawan menunjukkan bahwa Aceh tetap memiliki daya tarik kuat. Wisata alam yang eksotis, kekayaan budaya, serta wisata religi menjadi kombinasi yang membuat Aceh selalu dirindukan.

Namun, perjalanan pariwisata Aceh tahun ini tidak sepenuhnya mulus. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, khususnya di kawasan tengah Aceh, sempat berdampak pada beberapa destinasi wisata. Akses terputus, fasilitas rusak, dan aktivitas wisata terhenti sementara.

Meski demikian, optimisme tetap terjaga. Pemerintah bersama berbagai pihak terus melakukan penanganan dan pemulihan pascabencana. Harapannya, denyut pariwisata Aceh dapat kembali normal dan bahkan tumbuh lebih kuat.

Di tengah tantangan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh menjadi simbol keteguhan, sekaligus harapan. Di sinilah wisata, sejarah, dan spiritualitas berpadu, mencerminkan wajah Aceh yang ramah, religius, dan penuh daya tarik.

Ketika senja perlahan turun dan azan berkumandang, pengunjung pun larut dalam suasana khusyuk. Bagi banyak wisatawan, momen itu bukan sekadar perjalanan, melainkan pengalaman batin yang membuat mereka ingin kembali. Dan Aceh, dengan segala keindahannya, selalu punya cara untuk menyambut mereka kembali.(*)