Banda Aceh – Skala bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah di Aceh terus meluas. Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa data terdampak meningkat tajam dalam 24 jam terakhir.
Hingga Senin malam (1/12/2025), tercatat 8.000 kota/desa terdampak, dengan rincian 226 kota dan 3.310 desa. Jumlah korban terdampak mencapai 1.418.832 jiwa atau 214.382 kepala keluarga.
“Tadi pagi masih 1.000 desa, sekarang sudah 3.310 desa. Situasi berkembang sangat cepat dan terus kami perbarui, ” ungkap M. Nasir.
Jumlah korban jiwa juga mengalami peningkatan signifikan.
Luka ringan: 1.435 orang
Luka berat: 403 orang
Meninggal dunia: 173 orang (tadi siang 150)
Hilang: 204 orang
Nasir mengatakan bahwa kondisi medan yang berat dan akses yang terputus membuat proses pencarian dan evakuasi berlangsung sangat sulit.
Jumlah titik pengungsian melonjak drastis dalam beberapa jam terakhir.
Titik pengungsian: 828 lokasi (sebelumnya 400 lebih)
Jumlah KK mengungsi: 97.305 KK
Jumlah jiwa mengungsi: 443.001 jiwa
“Ada peningkatan dua kali lipat dari laporan siang tadi. Banyak warga baru bisa dievakuasi setelah akses terbuka, terutama dari daerah terisolir,” jelasnya.
Kerusakan fisik akibat terjangan banjir dan longsor juga tercatat meningkat tajam:
Fasilitas umum:
Perkantoran: 138 unit
Tempat ibadah: 51 unit
Sekolah: 201 unit
Pesantren: 4 unit
Akses transportasi:
Kerusakan jalan: 302 titik (awal hanya 32)
Jembatan rusak/putus: 152 unit
Nasir menjelaskan, banyak ruas jalan yang hanyut, amblas, atau terkelupas aspalnya akibat tekanan air yang sangat kuat.
Pemukiman dan sektor ekonomi:
Rumah rusak: 77.049 unit
Ternak mati: 182 ekor
Sawah rusak: 139.444 hektare
Kebun rusak: 12.012 hektare
“Banyak sawah tertimbun material longsor sehingga harus diolah dari awal. Dampak ekonomi akan sangat besar,” kata Nasir.
Data Pos Komando mencatat:
Logistik masuk: 16.713 unit
Logistik tersalurkan: 9.507 unit
Sisa stok: 7.285 unit
Bantuan tambahan dijadwalkan datang dari BNPB, kementerian, lembaga nasional, serta masyarakat Aceh yang terus mengirimkan dukungan.
Nasir menegaskan bahwa pendataan akan terus dilakukan hingga 11 Desember 2025 karena dipastikan masih ada jalan, jembatan, dan fasilitas umum yang belum teridentifikasi akibat lokasi yang sulit dijangkau.(*)













