HeadlinePemerintah

Wali Kota Banda Aceh Kritik Keras Pelayanan PLN Aceh

×

Wali Kota Banda Aceh Kritik Keras Pelayanan PLN Aceh

Share this article
Wali Kota Banda Aceh, Iliza Sa’aduddin Jamal Meminta PLN melakukan perbaikan sistem dan memberikan Pelayanan terbaik kepada masyarakat Jelang Ramadhan . Foto: (Humas Pemko Banda Aceh).

Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Iliza Sa’aduddin Jamal, menyampaikan keprihatinannya terhadap berulangnya gangguan listrik yang dialami warga Banda Aceh dan sekitarnya, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada publik, Iliza menegaskan bahwa permasalahan pemadaman listrik tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat hingga berhari-hari.

“Saya sendiri yang tidak ada kaitan dengan PLN sama seperti masyarakat lainnya, ikut terkena dampaknya,” ujar Iliza. Ia menegaskan bahwa kondisi yang terus berulang harus menjadi perhatian serius agar tidak kembali terjadi. “Setiap menjelang puasa mati lampu dulu. Alasannya agar nanti saat puasa tidak mati lampu. Tapi faktanya, saat puasa dan hari raya pun tetap mati.”

Iliza menekankan bahwa masalah tidak berhenti ketika listrik kembali menyala. Kondisi jaringan yang panjang dan bercabang, terutama di wilayah ujung, menyebabkan gangguan lanjutan bahkan ketika pasokan mulai normal. “Ketika hampir normal, tiba-tiba mati lagi. Itulah yang membuat masyarakat semakin terpukul.”

Wali Kota juga meluruskan isu yang berkembang bahwa pasokan listrik Aceh diduga diutamakan ke Medan. Ia menegaskan tidak ada pernyataan atau kebijakan yang mengutamakan daerah lain dibanding Aceh.

“Saya mau luruskan itu. Tidak ada statement yang menyatakan listrik di Aceh diutamakan ke Medan. Kalau saya salah, silakan saya dicopot. Jangan sampai masyarakat merasa Aceh dinomorduakan,” tegasnya.

Iliza berharap PLN membangun sistem komunikasi yang lebih baik dan efektif agar masyarakat mendapatkan kepastian terkait jadwal pemadaman, proses perbaikan, dan estimasi pemulihan.

“Ini kan pelayanan. Masyarakat butuh kepastian. Jangan diperkirakan hidup nanti malam, tapi ternyata tidak. Diperkirakan lusa hidup, ternyata tetap mati. Ketidakpastian inilah yang membuat masyarakat marah,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa proses pemulihan pascalistrik padam tidak sesederhana menghidupkan mesin. Terdapat delapan tahapan teknis yang memerlukan waktu hingga delapan jam, mulai dari mengaktifkan pompa hingga menstabilkan tekanan di jaringan. “Tahapan ini tidak bisa langsung dibebani seperti solar. Ini memerlukan proses dan kehati-hatian.”

Iliza menegaskan bahwa mengemban amanah sebagai pemimpin bukan hal mudah. Ia mengajak semua pihak, termasuk penyelenggara layanan publik, untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan tidak mengabaikan tanggung jawab.

“Amanah itu berat. Apa yang kita lakukan nanti akan diminta pertanggungjawaban. Dengan masyarakat mungkin kita bisa berkilah, tapi dengan Allah tidak. Maka di manapun kita berada, itu adalah ladang ibadah kita.”

Dengan penegasan ini, Wali Kota Banda Aceh berharap perbaikan sistem, komunikasi, dan pelayanan kelistrikan dapat dilakukan segera agar masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang khususnya menjelang Ramadan.(*)