HeadlineOpini

Generasi Muda Aceh: Terkoneksi dengan Dunia, Terputus dari Akar Budaya

×

Generasi Muda Aceh: Terkoneksi dengan Dunia, Terputus dari Akar Budaya

Share this article

OPINI

Mahasiswi KPI Universitas Serambi Mekkah (USM), Banda Aceh. Fitri Ulandari. Foto: Suara Aceh.

Oleh: Fitri Ulandari.

Adat istiadat Aceh bukan sekadar tradisi, melainkan identitas yang membentuk karakter, nilai, dan jati diri masyarakat sejak berabad-abad silam. Ia adalah warisan leluhur yang seharusnya menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Namun, di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu masif, adat kini seolah menjadi “asing” di tanahnya sendiri—terutama di mata generasi muda.

Kita menyaksikan satu fenomena yang mengkhawatirkan: anak-anak muda Aceh hari ini lebih fasih menyanyikan lagu Korea, mengikuti tren TikTok, atau meniru gaya hidup selebriti luar negeri, ketimbang memahami makna peusijuek, menarikan tari Saman, atau terlibat dalam musyawarah adat. Bukan karena mereka tidak cinta budaya, tetapi karena budaya kita tidak lagi dihadirkan dalam ruang-ruang yang mereka tinggali.

Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya pewarisan nilai adat dalam keluarga dan institusi pendidikan. Di rumah, adat jarang dijadikan bahan cerita atau teladan. Di sekolah, pelajaran tentang budaya lokal sering kali hanya menjadi pelengkap, bukan prioritas. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa merasa memiliki—dan karena itu, tidak merasa perlu untuk melestarikan.

Ironisnya, para tokoh masyarakat dan orang tua yang seharusnya menjadi panutan justru sering larut dalam hiruk-pikuk kehidupan modern. Fungsi adat sebagai perekat sosial mulai diabaikan. Ketika generasi sebelumnya tidak lagi menjalankan adat dengan sungguh-sungguh, bagaimana mungkin generasi setelahnya bisa merasa terikat?

Namun, menyalahkan generasi muda bukanlah solusi. Tantangannya kini adalah bagaimana menghadirkan kembali adat dalam bahasa dan gaya yang mereka pahami. Pelestarian budaya tak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama. Kita perlu pendekatan baru: konten kreatif di media sosial, festival budaya yang dikemas modern, pelibatan anak muda dalam produksi seni tradisi, hingga integrasi pendidikan adat ke dalam kurikulum secara aktif dan menyenangkan.

Melupakan adat berarti kehilangan akar. Dan tanpa akar, pohon identitas akan mudah roboh diterpa angin zaman. Jika kita ingin anak-anak muda tetap bangga menyebut diri mereka orang Aceh, maka adat harus dihidupkan kembali—bukan sebagai beban masa lalu, tetapi sebagai inspirasi masa depan.(*)