BeritaHeadline

Dua Santri Ruhul Qur’ani Juara LBFT XXXI Regional Aceh Barat-Nagan Raya

×

Dua Santri Ruhul Qur’ani Juara LBFT XXXI Regional Aceh Barat-Nagan Raya

Share this article

MEULABOH — Dua santri Dayah Ruhul Qur’ani Islamic Boarding School Meulaboh (RQ) meraih juara pertama dalam Lomba Berhitung Fakultas Teknik (LBFT) XXXI tingkat sekolah menengah regional Aceh Barat dan Nagan Raya.

Keduanya berhasil menjadi juara pertama pada kategori masing-masing dalam kompetisi yang berlangsung di Aula Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Barat tersebut.

Ghaisan Zafir Hafuza, santri kelas X Madrasah Aliyah (MA) Ruhul Qur’ani, meraih Juara 1 LBFT tingkat SMA/MA sederajat.

Sementara Jibril Al Fata, santri kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ruhul Qur’ani, menjadi Juara 1 LBFT tingkat SMP/MTs sederajat.

Kompetisi tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai sekolah di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya.

LBFT merupakan kompetisi berhitung yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK). Tahun ini, LBFT memasuki penyelenggaraan ke-31 dan digelar di sejumlah wilayah di Aceh sebelum berlanjut ke tahapan berikutnya.

Kompetisi mencakup sejumlah jenjang, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga kategori umum.

14 dari 15 santri RQ lolos penyisihan

Dominasi santri Ruhul Qur’ani sudah terlihat sejak babak penyisihan.

Pada kategori MA, RQ mengirimkan 15 santri. Sebanyak 14 di antaranya berhasil lolos ke tahap berikutnya.

Sementara pada kategori MTs, dari 20 santri yang dikirim, sebanyak 13 orang berhasil melaju ke babak selanjutnya.

Kekuatan RQ semakin terlihat pada babak final. Dari 10 peserta final kategori MA, lima di antaranya merupakan santri RQ.

Di kategori MTs, RQ kembali menempatkan empat santri di babak final.

Pendamping sekaligus pelatih tim RQ, Risa Khairiah, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari latihan yang dilakukan secara konsisten dan terstruktur.

“Alhamdulillah, hasil jerih payah siang malam yang dilakukan anak-anak membuahkan hasil maksimal,” ujar Risa.

Menurut Risa, persiapan menghadapi kompetisi dilakukan melalui pola latihan rutin. Setiap santri diberikan satu paket soal untuk dikerjakan setiap hari selama satu minggu.

Latihan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi dan pengarahan secara tatap muka yang dilakukan empat kali dalam sepekan selama dua minggu menjelang perlombaan.

Menurut dia, pembinaan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar kemenangan. Latihan juga bertujuan membangun kebiasaan belajar serta meningkatkan kemampuan berhitung para santri.

“Semoga ke depan minat belajar matematika santri semakin meningkat, sehingga bisa berkesempatan mengikuti lebih banyak event lain,” katanya.

Risa yang juga merupakan guru pada MIN 4 Nagan Raya itu mengajak santri yang ingin mengikuti kompetisi serupa agar mempersiapkan diri sejak jauh hari.

Persiapan, kata dia, dapat dilakukan melalui proses seleksi dan pembinaan secara berkelanjutan.

Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Ghaisan dan Jibril yang mampu bersaing dengan peserta dari sejumlah sekolah unggulan di regional Aceh Barat dan Nagan Raya.

“Selamat kepada Ghaisan dan Jibril yang mendapat juara. Sudah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan di regional Aceh Barat dan Nagan Raya. Semoga bisa tampil lebih baik di tingkat provinsi nanti,” ujarnya.

Risa juga meminta santri yang belum meraih juara untuk tetap bersemangat. Menurut dia, keikutsertaan dalam kompetisi merupakan pengalaman penting untuk meningkatkan kemampuan.

Ia berharap pembinaan berhitung di Ruhul Qur’ani dapat terus dikembangkan menjadi model pembelajaran yang menyenangkan.

Dengan demikian, pembinaan tidak hanya meningkatkan kemampuan berhitung, tetapi juga menumbuhkan minat santri terhadap matematika dan mendorong mereka mengikuti berbagai kompetisi akademik.

Pimpinan Dayah Ruhul Qur’ani, Kamil Syafruddin, mengapresiasi capaian para santri sekaligus kerja keras pembimbing yang telah mempersiapkan tim menghadapi kompetisi.

Menurut Kamil, LBFT menjadi salah satu arena untuk mengukur kemampuan santri RQ, khususnya dalam menghadapi soal yang membutuhkan kecepatan berhitung dan ketepatan dalam menentukan jawaban.

“LBFT menjadi arena bagi kita untuk menakar sejauh mana kemampuan santri Ruhul Qur’ani dalam hal kecepatan berhitung. Alhamdulillah, hasil yang diraih menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing,” ujar Kamil.

Ia menilai keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan kemampuan individu santri, tetapi juga proses pembinaan yang dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.

Kamil turut memberikan apresiasi kepada seluruh santri yang telah mengikuti kompetisi, termasuk mereka yang belum berhasil meraih juara.

Menurutnya, keberanian mengikuti kompetisi merupakan bagian penting dalam membentuk mental sekaligus mengembangkan kemampuan akademik santri.

“Kompetisi bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga menjadi ruang bagi santri untuk mengukur kemampuan, mendapatkan pengalaman dan terus memperbaiki diri,” ujarnya.