BeritaHeadline

Saat Kak Ana Menikmati Panorama Negeri di Atas Awan Kilonam Geumpang

×

Saat Kak Ana Menikmati Panorama Negeri di Atas Awan Kilonam Geumpang

Share this article
Ketua TP PKK Aceh, Marlina Usman atau Kak Ana, menikmati panorama "negeri di atas awan" di Agrowisata Kilonam, Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, Minggu (2/8/2026). Foto: (Humas Aceh).

Pidie – Kabut putih yang menyelimuti perbukitan Geumpang pada pagi hari menghadirkan panorama bak negeri di atas awan. Hamparan kabut yang menggenang di lembah, berpadu dengan hijaunya pepohonan dan sejuknya udara pegunungan, menjadikan Agrowisata Kilonam sebagai salah satu destinasi wisata alam yang mulai mencuri perhatian di Aceh.

Keindahan itu pula yang dinikmati Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Usman, yang akrab disapa Kak Ana, saat berkemah bersama rombongan TP PKK Kabupaten Pidie di kawasan Agrowisata Kilonam, Kecamatan Geumpang, Sabtu (1/8/2026) malam.

Pagi harinya, sekitar pukul 07.20 WIB, Kak Ana berdiri di depan tenda sambil memandangi lembah yang tertutup hamparan kabut tebal. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, sementara udara pegunungan yang dingin menusuk kulit. Dari titik itu, hamparan awan tampak membentang di bawah kaki, menciptakan sensasi seolah berdiri di atas negeri di atas awan.

“Tempat ini sangat indah. Tidak kalah dengan daerah lain,” ujar Kak Ana sembari mengajak masyarakat dan wisatawan untuk datang menikmati langsung pesona alam Geumpang.

Agrowisata Kilonam, yang juga dikenal sebagai Kilo Nam atau Kilo 6, berada di tepi jalan lintas Geumpang–Meulaboh, sekitar enam kilometer dari Pasar Geumpang dan berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Kota Sigli.

Di balik destinasi yang kini mulai dikenal itu, tersimpan kisah sederhana. Pemilik kawasan, Safriati atau yang akrab disapa Titi, awalnya hanya mengembangkan kebun kopi, durian, dan jeruk di lahan tersebut. Namun panorama alam yang tersaji setiap pagi dan sore mengubah cara pandangnya.

“Tadinya kami berkebun. Karena pemandangannya begitu indah, kami terinspirasi membuat tempat wisata,” kata Titi, Minggu (2/8/2026).

Sejak 2024, kawasan itu mulai dikembangkan menjadi agrowisata tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai lahan perkebunan.

Kini, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas, mulai dari area berkemah di punggung bukit, air terjun setinggi sekitar 30 meter, kolam renang anak, kolam ikan, hingga kafe yang dikelilingi kebun kopi, durian, dan jeruk.

Menariknya, tidak ada tiket masuk yang dikenakan kepada wisatawan. Pengunjung cukup membayar makanan atau minuman di kafe. Bagi yang ingin bermalam, pengelola menyediakan tenda berkapasitas tiga hingga empat orang dengan tarif Rp150 ribu per malam.

Meski belum terjangkau sinyal telepon seluler, pengunjung tetap dapat mengakses internet melalui jaringan Wi-Fi yang tersedia di sekitar kafe.

Pesona utama Kilonam hadir pada dua waktu terbaik setiap hari. Saat pagi, kabut perlahan menutupi lembah dan pepohonan, menghadirkan panorama yang memanjakan mata. Menjelang sore, awan kembali turun, cahaya matahari meredup, dan suasana berubah semakin syahdu.

Menjelang pukul 10.00 WIB, kabut mulai menghilang, memperlihatkan bentangan perbukitan hijau yang mengelilingi kawasan. Kesempatan itu dimanfaatkan Kak Ana untuk mengunjungi air terjun, lalu melanjutkan perjalanan ke area kolam anak, kolam ikan, serta meninjau kebun kopi dan durian yang menjadi bagian dari konsep agrowisata tersebut.

Kunjungan Ketua TP PKK Aceh bersama rombongan menjadi penanda bahwa Agrowisata Kilonam semakin dikenal sebagai destinasi wisata alam baru di Aceh. Tanpa banyak sentuhan buatan, kekuatan utamanya justru terletak pada keaslian lanskap pegunungan, hamparan kabut yang datang dan pergi, serta ketenangan alam yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.

Bagi siapa pun yang ingin menikmati suasana pegunungan yang asri, menyaksikan matahari terbit di atas lautan kabut, atau sekadar melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan, Kilonam menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan sebuah potongan kecil surga yang tersembunyi di pedalaman Geumpang, Pidie.(*)