BeritaHeadline

Bangkit dari Puing Bencana, Usaha Mikro Mayasari Tuai Pujian Ketua Satgas PRR Aceh

×

Bangkit dari Puing Bencana, Usaha Mikro Mayasari Tuai Pujian Ketua Satgas PRR Aceh

Share this article
Mayasari (36), penyintas banjir Aceh Tamiang, melayani pembeli di kios sederhana yang dibangunnya dari bekas pos ronda di depan Huntara Tamiang 2, Karang Baru. Foto: (Humas PRR Wilayah Aceh).

Aceh Tamiang – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 merenggut banyak hal dari kehidupan Mayasari (36). Rumahnya di Perumahan BTN Satelit Graha, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, rusak diterjang banjir. Namun, musibah itu tidak mematahkan semangat ibu empat anak tersebut untuk bangkit.

Saat banjir besar melanda Aceh Tamiang, Mayasari sedang bekerja sebagai juru masak di sebuah kilang di Negeri Sembilan, Malaysia. Begitu mengetahui keluarganya menjadi korban bencana, ia memutuskan pulang ke Tanah Air meski harus meninggalkan pekerjaannya.

Sekitar sepekan setelah banjir, ia tiba di Aceh Tamiang. Pemandangan yang dilihatnya membuat hati luluh. Lumpur, puing-puing, dan rumah-rumah yang rusak menyambut kepulangannya.

Tak lama kemudian, ia menemukan keempat anak dan ibunya berada di pengungsian. Rumah tak lagi bisa dihuni. Bersama keluarga besarnya yang juga terdampak, Mayasari harus memulai hidup dari nol.

Perumahan BTN Satelit Graha memang telah lama dikenal warga sebagai kawasan yang kerap dilanda banjir akibat luapan Sungai Tamiang. Namun, banjir yang terjadi pada 26 November 2025 menjadi yang paling dahsyat dalam sejarah kawasan tersebut.

Di tengah keterbatasan hidup di pengungsian, Mayasari memilih tidak larut dalam kesedihan. Dengan sisa uang yang dimilikinya, ia mulai berjualan teh hijau.

> “Dengan sisa uang yang ada di kantong, saya berinisiatif berjualan teh hijau di pengungsian,” ujar Mayasari saat ditemui di kiosnya di depan SMP Negeri 1 Karang Baru, Rabu (5/8/2026).

 

Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, pemerintah memindahkan 87 kepala keluarga, termasuk Mayasari, ke Huntara Tamiang 2 yang berada di depan SMP Negeri 1 Karang Baru.

Di lokasi hunian sementara itu, usaha kecilnya terus berkembang. Ia bahkan menerapkan promosi “beli dua gratis satu” sebagai bentuk berbagi selama Ramadan sekaligus menarik pelanggan.

Sedikit demi sedikit usahanya berkembang. Setelah memiliki tabungan, Mayasari membenahi sebuah pos ronda yang sudah tidak terpakai di depan huntara menjadi kios sederhana untuk melanjutkan usahanya.

“Alhamdulillah, berkat ngumpulin recehan, cukuplah untuk menambah uang belanja,” katanya.

Di tengah perjuangan membangun kembali ekonomi keluarga, Mayasari juga harus menghadapi duka lain. Ibunya meninggal dunia sekitar 100 hari sebelum wawancara dilakukan.

Kini kios kecil miliknya tidak hanya menjual teh hijau. Ia juga menyediakan kopi sachet, berbagai minuman kemasan, serta BBM eceran untuk warga sekitar dan pengguna jalan.

Selain penghuni Huntara Tamiang 2, pelanggan kiosnya berasal dari siswa SMP Negeri 1 Karang Baru serta masyarakat yang melintas.

Menurut Mayasari, banyak ibu-ibu penghuni huntara yang juga berinisiatif membuka usaha kecil sebagai upaya menopang ekonomi keluarga.

“Kami saling mendukung. Dari kita untuk kita,” ujarnya.

Ketua Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, mengapresiasi semangat Mayasari yang mampu bangkit di tengah keterbatasan.

Menurut Safrizal, semangat para penyintas membangun usaha menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

“Pemerintah memberikan dukungan melalui bantuan modal usaha bagi penyintas yang memenuhi syarat. Bantuan stimulan ekonomi sebesar Rp5 juta per kepala keluarga telah disalurkan untuk membantu memulai usaha,” ujar Safrizal.

Ia berharap semangat yang ditunjukkan Mayasari dapat menjadi inspirasi bagi penyintas lainnya agar terus berusaha membangun kembali kehidupan mereka.

Safrizal juga mengingatkan agar usaha yang dijalankan tetap memperhatikan aspek keamanan pangan dan perlindungan anak.

“Jaga kualitas minuman yang dijual, jangan menjual rokok kepada anak-anak. Semoga usahanya terus berkembang dan membawa berkah,” pesan Safrizal.(*)