BeritaHeadline

TNI Bangun Jembatan Gantung di Dabun Gelang, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT ke-81 RI

×

TNI Bangun Jembatan Gantung di Dabun Gelang, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT ke-81 RI

Share this article
Personel TNI dari Yon TP 855/Raksaka Dharma melanjutkan pembangunan jembatan gantung di Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, Gayo Lues. Foto: ( Satgas PRR Aceh)

Blangkejeren – Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Gayo Lues terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu proyek strategis yang kini menjadi harapan masyarakat adalah pembangunan jembatan gantung di Desa Kendawi, Kecamatan Dabun Gelang, yang dikerjakan oleh personel TNI. Hingga akhir Juli 2026, progres pembangunan jembatan tersebut telah melampaui 50 persen dan ditargetkan selesai sebelum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.

Jembatan gantung itu dibangun di lokasi bekas jembatan beton permanen yang hancur diterjang banjir bandang pada akhir November tahun lalu. Kehadiran jembatan baru tersebut sangat dinantikan karena menjadi akses utama yang menghubungkan enam desa di Kecamatan Dabun Gelang.

Di tengah proses pembangunan, TNI bersama masyarakat juga memastikan aktivitas warga tetap berjalan dengan membangun jembatan sling sebagai jalur alternatif. Selain itu, satu unit perahu karet (rubber boat) disiagakan di lokasi sebagai sarana penyeberangan apabila kondisi sungai tidak memungkinkan dilalui melalui jembatan darurat.

Komandan Peleton (Danton) dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yon TP) 855/Raksaka Dharma, Peltu Nurdin, mengatakan pembangunan jembatan gantung telah berlangsung sekitar satu bulan dua minggu.

Menurutnya, pekerjaan berjalan sesuai rencana meski menghadapi tantangan kondisi medan dan cuaca di kawasan pegunungan.

“Perkembangan pembangunannya telah mencapai sekitar 50 persen. Salah satu abutment jembatan sudah selesai dibangun dan pekerjaan terus dilanjutkan setiap hari,” ujar Peltu Nurdin, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, seluruh personel yang terlibat berupaya memaksimalkan pekerjaan agar target penyelesaian dapat tercapai tepat waktu. Dukungan masyarakat sekitar juga dinilai sangat membantu kelancaran proses pembangunan.

Sebelumnya, Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Posko Nasional Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin, telah meninjau langsung lokasi pembangunan jembatan pada 20 Juli 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Guslin melihat secara langsung perkembangan pembangunan sekaligus memberikan semangat kepada personel TNI yang bekerja di lapangan.

Pada kesempatan yang sama, Dandim 0113/Gayo Lues, Letkol Arm. Fran Desiafan Eka Saputra, S.H., menyampaikan optimisme bahwa pembangunan jembatan gantung dapat diselesaikan sesuai target.

“Apabila tidak ada kendala berarti, jembatan gantung ini akan selesai sebelum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Pembangunan jembatan gantung memiliki arti penting bagi masyarakat Dabun Gelang. Sejak jembatan beton roboh diterjang banjir bandang, mobilitas warga menjadi sangat terbatas.

Jembatan tersebut sebelumnya menjadi akses utama bagi masyarakat enam desa untuk menuju pusat kecamatan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga mengangkut hasil pertanian.

Selama masa pembangunan, warga harus memanfaatkan jembatan sling dan perahu karet yang disediakan TNI agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik tetap dapat berlangsung.

Sejumlah warga Desa Kendawi juga menyampaikan harapan agar informasi mengenai kondisi di lapangan diberitakan secara menyeluruh dan berimbang.

Mereka menyesalkan beredarnya sejumlah unggahan di media sosial yang hanya menampilkan siswa sekolah melintasi jembatan sling tanpa menjelaskan bahwa pada saat yang sama TNI sedang membangun jembatan permanen di lokasi tersebut.

Menurut warga, penyajian informasi yang tidak utuh berpotensi menimbulkan persepsi keliru di masyarakat dan mengabaikan kerja keras para personel TNI bersama pemerintah dalam mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana.

“Kalau mau mewartakan, sampaikan secara lengkap. Informasi jangan dipenggal-penggal,” ujar salah seorang warga.

Masyarakat berharap seluruh pihak dapat memberikan dukungan positif terhadap proses rehabilitasi dan rekonstruksi sehingga pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat.

Kerusakan jembatan Kendawi bermula saat banjir bandang melanda kawasan tersebut pada akhir November tahun lalu.

Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama hampir sepekan, ditambah pengaruh siklon tropis, menyebabkan debit Krueng Tripe yang berhulu di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) meningkat drastis.

Arus sungai yang sangat deras membawa material berupa lumpur, batu, serta gelondongan kayu berukuran besar yang menghantam berbagai bangunan di sepanjang aliran sungai.

Jembatan beton permanen Desa Kendawi tidak mampu menahan besarnya tekanan arus dan akhirnya roboh serta terseret ke badan sungai.

Selain memutus akses transportasi warga, bencana tersebut juga mengakibatkan kerusakan berat pada sejumlah fasilitas pendidikan, di antaranya SD Negeri 5 Dabun Gelang dan SMP Satu Atap Kendawi.

Agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues memindahkan sementara proses pembelajaran ke meunasah (surau) yang berada di desa tersebut. Langkah itu juga dilakukan agar pembangunan jembatan gantung dapat berjalan tanpa mengganggu aktivitas pendidikan.

Secara terpisah, Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Dr. Safrizal ZA, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel TNI yang telah bekerja membangun jembatan gantung sejak lebih dari satu bulan terakhir.

Menurutnya, pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian penting dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana di Aceh.

“Terima kasih kepada personel TNI yang sedang bekerja membangun jembatan sejak satu bulan lalu. Mudah-mudahan jembatan gantung tersebut selesai sesuai jadwal yang telah direncanakan sehingga dapat segera dimanfaatkan masyarakat,” kata Safrizal, Jumat (31/7/2026).

Safrizal juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat yang terus bergotong royong membantu proses pemulihan di Desa Kendawi.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, TNI, dan masyarakat menjadi modal utama dalam mempercepat pembangunan kembali wilayah yang terdampak bencana.

“Partisipasi masyarakat yang telah berlangsung selama ini turut saya berikan apresiasi. Mudah-mudahan sinergitas ini dapat terus terjaga sehingga seluruh proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan dengan baik serta memberi manfaat bagi masyarakat,” harap Safrizal.(*)

Editor: Redaksi