Sabang – Di tengah kemajuan pariwisata Sabang yang dikenal dengan pesona bahari dan situs-situs bersejarahnya, terdapat sebuah lokasi yang menyimpan jejak perjalanan panjang kota ini sejak masa kolonial: Taman Ria. Terletak tidak jauh dari pusat kota, taman ini telah melalui banyak perubahan nama, fungsi, dan generasi menjadi ruang publik yang menyimpan kenangan kolektif masyarakat Sabang dari zaman ke zaman.
Keberadaan Taman Ria tidak hanya menjadi bukti perkembangan tata kota, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial dan budaya yang mengikuti perjalanan Sabang selama lebih dari seabad. Sejak pertama kali dibangun tahun 1896, taman ini telah menjadi saksi berbagai era yang membentuk identitas Sabang hari ini.
Taman Ria awalnya dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1896, saat Sabang diproyeksikan sebagai pangkalan perdagangan dan pelabuhan strategis. Pada saat itu kawasan Sabang mulai dipenuhi bangunan pemerintahan, gudang, dan fasilitas publik bagi pejabat kolonial, termasuk sebuah taman yang diberi nama Taman Raja-Raja.
Pemerhati Sejarah Kota Sabang, Jamin Seda, menjelaskan bahwa taman ini menjadi salah satu fasilitas rekreasi pertama yang dibangun Belanda di Sabang.
“Taman Raja-Raja menjadi tempat favorit untuk bersantai bagi pejabat kolonial dan warga. Di sana terdapat kursi ratu yang didedikasikan untuk Ratu Wihelmina dari Belanda,” ungkap Jamin, Minggu (19/10/2025).
Kursi ratu tersebut menjadi ikon taman dan simbol penghormatan terhadap monarki Belanda, sekaligus memperlihatkan kuatnya pengaruh kolonial pada masa itu.
Dengan arsitektur taman ala Eropa dan hamparan pepohonan yang rapi, Taman Raja-Raja menjadi titik pertemuan penting bagi masyarakat Sabang, tempat berlangsungnya acara resmi hingga pertemuan informal antarwarga.
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, Sabang juga mengalami banyak perubahan. Identitas kolonial perlahan ditanggalkan, termasuk dalam penamaan kawasan kota. Pada tahun 1970, pemerintah setempat mengganti nama Taman Raja-Raja menjadi Taman Gembira.
Pergantian nama ini bukan hanya seremoni administratif, tetapi mencerminkan semangat baru masyarakat Sabang yang memasuki masa pembangunan dan optimisme nasional.
“Perubahan nama ini mencerminkan semangat baru dan optimisme masyarakat Sabang. Taman Gembira menjadi tempat berkumpul keluarga, tempat bermain anak, dan lokasi berbagai kegiatan masyarakat,” jelas Jamin.
Pada masa itu, Taman Gembira menjadi salah satu ruang publik paling populer di Sabang. Warga memanfaatkannya sebagai lokasi bersantai, merayakan acara komunitas, hingga berkegiatan seni dan budaya. Anak-anak sering bermain di taman, sementara orang tua duduk menikmati suasana rindang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, terutama pada dekade 1980-an hingga awal 2000-an, taman ini kembali mengalami perubahan nama menjadi Taman Ria, nama yang masih digunakan hingga sekarang.
Nama ini dianggap lebih dekat dengan masyarakat dan mencerminkan fungsi taman sebagai ruang rekreasi. Pada masa itu, Taman Ria semakin berkembang dengan hadirnya area bermain, tempat duduk, jalur santai, hingga fasilitas penunjang lainnya.
Meski berbagai bangunan baru bermunculan di Sabang, Taman Ria tetap hidup sebagai ruang publik yang menyimpan memori kolektif warga. Banyak generasi Sabang yang memiliki cerita masa kecil di taman ini dari bersepeda, bermain layang-layang, hingga berkumpul bersama teman di sore hari.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya destinasi wisata baru seperti Pantai Iboih, KM 0 Indonesia, Danau Aneuk Laot, hingga Sabang Fair, Taman Ria mulai jarang dikunjungi warga dan wisatawan. Padahal, taman ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Jamin Seda menilai, revitalisasi taman sangat penting agar nilai warisan sejarahnya tetap terjaga.
“Upaya perbaikan dan restorasi yang dilakukan warga menjelang HUT RI ke-79 diharapkan dapat mengembalikan daya tariknya. Ini akan melestarikan warisan sejarah sekaligus memperbarui fasilitas yang ada,” ujarnya.
Gerakan perbaikan yang dilakukan warga seperti pengecatan, pembersihan area, penanaman pohon baru, dan penataan ulang taman, menunjukkan bahwa masyarakat Sabang masih memiliki kecintaan tinggi terhadap ruang publik bersejarah ini.
Taman Ria bukan hanya sekadar lokasi rekreasi, tetapi juga:
1. Sumber Pengetahuan Sejarah
Generasi muda dapat mempelajari jejak kolonialisme, perubahan sosial pasca-kemerdekaan, hingga perkembangan urban Sabang dari masa ke masa.
2. Ruang Rekreasi Keluarga
Dengan tata ruang yang ditata kembali, Taman Ria dapat menjadi tempat hiburan murah meriah bagi masyarakat.
3. Ruang Seni dan Budaya
Sejak dulu taman ini sering digunakan untuk pertunjukan seni, bazar, hingga pentas budaya. Potensi ini masih sangat mungkin dikembangkan.
4. Titik Wisata Sejarah Sabang
Taman Ria dapat menjadi bagian dari paket wisata sejarah bersama Simpang Garuda, Masjid Babussalam, Benteng-Benteng Jepang, dan Rumah Sakit Bawah Tanah.
Dengan posisinya yang strategis di tengah kota dan nilai sejarahnya yang sangat kuat, Taman Ria memiliki potensi besar untuk dihidupkan kembali sebagai salah satu ikon wisata sejarah. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal diharapkan dapat berkolaborasi untuk merancang program revitalisasi berkelanjutan.
Dengan penataan ulang yang tepat mulai dari pencahayaan, fasilitas umum, ruang terbuka hijau, hingga signage sejarah Taman Ria mampu kembali mencuri perhatian warga dan wisatawan, sebagaimana dulu ketika ia masih bernama Taman Raja-Raja.
Bagi Sabang, taman ini bukan hanya ruang publik, tetapi cermin perjalanan kota dari era kolonial, masa kemerdekaan, hingga Sabang hari ini yang tumbuh sebagai kota wisata yang tenang, asri, dan penuh cerita.
Taman Ria telah melihat banyak wajah zaman. Kini saatnya taman ini kembali menjadi ruang kebanggaan masyarakat Sabang dan bagian penting dari promosi wisata sejarah di Pulau Weh.(*)
Advertorial.













