Sabang – Pulau Weh tidak hanya dikenal sebagai surga wisata bahari, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang kuat dari masa Perang Dunia II. Salah satu peninggalan yang masih tegak hingga hari ini adalah Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang, sebuah fasilitas medis rahasia peninggalan Jepang yang dibangun pada tahun 1942. Meskipun keberadaannya tertutup waktu dan rimbunnya alam, tempat ini tetap menjadi saksi bisu perjuangan, keberanian, dan strategi militer yang pernah terjadi di ujung barat Nusantara.
Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang berdiri di kawasan perbukitan yang strategis, jauh dari jangkauan musuh. Pada masa pendudukan Jepang, Sabang diposisikan sebagai titik militer penting berkat pelabuhan alamnya yang luas. Kota kecil ini menjadi salah satu benteng pertahanan Jepang di Asia Tenggara, sehingga kehadiran fasilitas medis bawah tanah menjadi kebutuhan vital dalam mempertahankan pasukan.
Pada tahun 1942, Jepang mulai membangun berbagai fasilitas militer di Sabang including benteng, lorong bawah tanah, meriam artileri, hingga Rumah Sakit Bawah Tanah ini. Fasilitas tersebut dirancang untuk mengantisipasi serangan udara Sekutu yang saat itu menjadi ancaman nyata.
Pemerhati sejarah Sabang, Albina Arrahman, menjelaskan bahwa pembangunan rumah sakit ini merupakan langkah strategis Jepang untuk memastikan kelangsungan perawatan prajurit di tengah gempuran perang.
“Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang dibangun khusus untuk melindungi tenaga medis dan pasien dari potensi serangan udara musuh. Struktur bawah tanahnya membuat fasilitas ini aman digunakan sebagai pusat perawatan prajurit yang terluka,” ujar Albina, Minggu (12/10/2025).
Sebagai fasilitas medis, rumah sakit ini memiliki ruang perawatan, ruang operasi, serta ruang penyimpanan obat yang cukup lengkap untuk ukuran masa peperangan. Tidak hanya itu, sistem ventilasi juga dirancang secara cermat agar sirkulasi udara tetap berjalan meski seluruh bangunan berada di bawah permukaan tanah.
Meski kini sebagian bangunannya sudah tertutup pepohonan dan tanah, Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang masih menyisakan struktur lorong-lorong gelap yang menjadi pengingat akan masa-masa genting perang. Dalam kondisi minim cahaya, para tenaga medis pada masa Jepang bekerja dalam tekanan luar biasa, merawat para tentara yang terluka dari berbagai serangan.
Albina menuturkan bahwa para tenaga medis kala itu bekerja dalam kondisi yang tidak ideal. Logistik yang terbatas, kondisi perang yang kacau, serta ancaman serangan udara membuat rumah sakit ini menjadi tempat perjuangan yang sesungguhnya.
“Para tenaga medis tetap berjuang merawat prajurit meski berada di tengah situasi perang yang tidak menentu,” tambahnya.
Setelah Perang Dunia II berakhir dan Jepang meninggalkan Indonesia, rumah sakit ini secara perlahan ditinggalkan. Semakin sedikit orang yang mengetahui keberadaannya, hingga bangunannya mulai tertutup oleh alam Sabang yang terus tumbuh subur. Namun bagi pencinta sejarah, tempat ini tetap menjadi simbol ketabahan dan pengorbanan.
Menanggapi nilai sejarah yang sangat tinggi ini, Pemerintah Kota Sabang melalui Dinas Pariwisata terus mendorong pelestarian Rumah Sakit Bawah Tanah sebagai aset wisata sejarah penting. Kepala Dinas Pariwisata Sabang, Harry Susethia, menegaskan bahwa situs ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi bagian dari identitas Sabang yang harus dijaga.
“Sabang bukan hanya tentang pantai dan laut, tetapi juga memiliki sejarah yang kuat seperti Rumah Sakit Bawah Tanah ini. Kami melihat potensi besar untuk mengembangkan wisata sejarah agar wisatawan bisa mengenal sisi lain Sabang,” kata Harry.
Menurutnya, pengembangan wisata sejarah akan menambah warna baru bagi pariwisata Sabang. Wisatawan tidak hanya datang untuk snorkeling, diving, atau menikmati alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang masa perang yang pernah berlangsung di kota ini.
Harry menegaskan bahwa upaya pelestarian terus didorong pemerintah, mulai dari pemetaan ulang situs, penataan akses wisata, penyediaan papan informasi sejarah, hingga membuka peluang kerja sama dengan komunitas sejarah.
“Situs ini bisa menjadi media edukasi bagi generasi muda dan wisatawan untuk mengenal perjuangan masa lalu. Identitas Sabang sebagai kota bersejarah jelas terlihat dari peninggalan seperti ini,” tambahnya.
Meski kondisinya tidak sempurna, Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang kini menjadi salah satu destinasi sejarah yang menarik kunjungan wisatawan. Banyak pengunjung datang karena penasaran ingin melihat langsung bagaimana struktur fasilitas medis bawah tanah dibuat pada era perang. Ada yang datang sebagai peneliti, pencinta sejarah, fotografer, hingga wisatawan biasa yang ingin merasakan atmosfer berbeda dari destinasi lain di Sabang.
Lorong-lorong gelap, dinding semen tebal, dan pintu masuk yang tersembunyi di antara pepohonan menghadirkan sensasi misterius yang memancing rasa ingin tahu. Ketika melangkah masuk, pengunjung seakan diajak kembali ke masa tahun 1940-an—masa ketika Sabang berada di bawah bayang-bayang perang dunia.
Bagi sebagian orang, Rumah Sakit Bawah Tanah memberikan pengalaman wisata reflektif. Tempat ini membuat pengunjung menyadari betapa keras kehidupan prajurit dan tenaga medis pada masa perang, sekaligus menghargai betapa damainya kehidupan saat ini.
Kehadiran destinasi seperti Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang menjadi peluang besar bagi Sabang untuk memperkaya identitas pariwisatanya. Wisata sejarah dapat berdampingan dengan wisata alam untuk menciptakan paket lengkap yang menarik wisatawan berbagai minat.
Dengan memadukan pesona alam dan sejarah, Sabang memiliki potensi besar menjadi kota wisata yang tidak hanya indah tetapi juga kaya edukasi. Pemerintah juga melihat bahwa wisata sejarah dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan karena mereka akan mengunjungi lebih banyak destinasi.
Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang menjadi simbol bahwa pariwisata tidak hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang cerita. Cerita itulah yang membuat sebuah destinasi memiliki jiwa dan daya tarik yang bertahan lebih lama.
Meski waktu terus berjalan, Rumah Sakit Bawah Tanah tetap berdiri sebagai pengingat akan masa yang penuh konflik. Dalam sunyi dan remang lorong-lorongnya, tersimpan kisah tentang keberanian, ketabahan, dan pengorbanan mereka yang berjuang pada masanya.
Bagi Sabang, rumah sakit ini bukan sekadar peninggalan. Ia adalah warisan yang memperkaya identitas kota dan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Dengan pelestarian yang tepat dan pengelolaan pariwisata yang bijaksana, Rumah Sakit Bawah Tanah Sabang akan terus menjadi saksi bisu sejarah sekaligus destinasi edukatif bagi generasi mendatang.(*)
Advertorial.













