Sabang – Kota Sabang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mempunyai posisi strategis sebagai tempat tujuan wisata yang dapat dipadukan dengan sektor pendidikan dan aktivitas agro khususnya tanaman berbasis atsiri seperti nilam, cengkeh, dan pala yang berpotensi dikembangkan di daerah ini.
Agro eduwisata merupakan bentuk wisata yang lebih menguntungkan dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku langsung pariwisata.
Agro eduwisata merupakan salah satu bentuk ekonomi kreatif di sektor pertanian yang dapat memberikan nilai tambah bagi usaha agribisnis dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani.
Akhir-akhir ini motivasi dan preferensi pengunjung objek wisata berkembang secara dinamis. Dimana, kecenderungan untuk melihat objek-objek yang spesifik dan unik seperti perpaduan antara pemandangan yang indah, olahan produk-produk tradisional dan berbahan baku alami, serta belajar di alam terbuka.
Kecenderungan ini merupakan indikasi akan permintaan objek agro eduwisata yang spesifik dan bersamaan dengan ini akan membuka peluang bagi pengembangan produk bisnis lainnya di sekitar kawasan. Hal-hal ini yang menjadi urgensi dikembangkannya suatu kawasan agro eduwisata di Kota Sabang.
Produk nilam Sabang memiliki nilai rendemen terbesar (4,2 persen) dengan konsentrasi PA nilam Sabang sebesar 27,50 persen. Nilai ini tidak berbeda signifikan dengan nilam yang berasal dari Aceh Jaya (27,77 persen).
Nilam-nilam lainnya memiliki PA sekitar nilai antara 33,31 persen hingga 34,30 persen. Walaupun demikian, apabila dihitung jumlah PA yang dihasilkan per kg berat kering sampel daun nilam.
Maka, nilam Sabang memiliki nilai terbesar (11,85 gram PA/kg bahan kering). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa nilam Sabang memiliki kualitas terbaik dan sangat besar potensinya untuk dikembangkan.
Terhadap potensi tersebut, Pemerintah Kota Sabang melalui Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan Tenaga Kerja menawarkan kesempatan bagi investor untuk menanamkan modalnya pada proyek Agro Edu Pariwisata Bango Innovation Park.
Kepala DPMPTSP Naker Sabang, Faisal Azwar, mengatakan, proyek Agro Edu Pariwisata Bango Innovation Park menawarkan kesempatan unik bagi para investor untuk memanfaatkan warisan budaya yang kaya dan potensi ekonomi industri nilam Aceh
Proyek ini terletak di wilayah Kecamatan Sukakarya, atau lima menit dari garis pantai barat Sabang yang indah dan berkendara singkat dari objek wisata populer Gua Sarang, proyek ini menggabungkan Agro-Wisata dengan kegiatan pendidikan dan komersial. Sehingga, menjadikannya tujuan wisata yang menarik bagi pengunjung dan usaha yang menguntungkan.
“Terletak hanya 5 hingga 10 menit dari Gua Sarang, yang terkenal dengan pemandangan tebingnya yang menakjubkan, memastikan arus pengunjung yang stabil,” kata Faisal Azwar, Kamis (14/8/2025).
Adapun proyek Agro Edu Pariwisata Bango Innovation Park Sabang ini memiliki total lahan seluas 30 hektare dan sudah clean and clear. Kemudian, untuk estimasi investasinya sekitar USD 23.74 million. Dengan skema bisnis build operate and transfer (BOT) or build operate own.
Faisal menyampaikan, kawasan ini akan menjadi miniatur implementasi inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak ekonomi khususnya bagi masyarakat Kota Sabang.
“Misalnya untuk minyak atsiri, di kawasan ini akan dibangun green house untuk budidaya nilam, rumah kompos, demonstration garden, unit destilasi, dan rumah produksi berbagai produk turunan nilam,” terangnya.
Selain itu, berbagai fasilitas pembelajaran dan wisata juga akan tersedia bagi masyarakat. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi faktor pendukung tumbuhnya berbagai kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata serta mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
DPMPTSP Naker: Bango Innovation Park sebagai Kawasan Wisata Berkelanjutan
Kepala DPMPTSP Naker Sabang, Faisal Azwar menyampaikan, adapun tujuan utama dari rencana investasi ini yakni pengembangan kawasan wisata berkelanjutan (sustainable tourism), mengembangkan kawasan wisata dengan menciptakan fasilitas publik yang mampu memberikan daya tarik bagi pengunjung.
Di mana, mereka dilibatkan untuk melakukan berbagai kegiatan pertanian dan proses produksi, mengakomodasi peluang ekonomi yang tumbuh dari masyarakat setempat melalui pengembangan kawasan agro eduwisata, dan
meningkatkan kualitas lingkungan pada kawasan yang akan dikembangkan.
“Proyek ini juga untuk mengembangkan potensi unggulan, nilam dan tanaman atsiri lainnya, meningkatkan pendapatan daerah, agro eduwisata dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi Kota Sabang melalui peningkatan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tuturnya.
Selain itu, juga untuk hilirisasi komoditas pertanian semestinya menjadi salah satu program prioritas yang mesti digalakkan, karena peningkatan nilai produk hilir komoditas pertanian sangat jauh dibanding bahan baku.
Sebagian besar negara produsen (mayoritas negara berkembang) hanya menjadi pemasok bahan baku, sementara hilirisasi dan perdagangannya dikuasai oleh negara maju.
Demikian halnya di level domestik. Aceh khususnya, belum mampu menikmati perbaikan kesejahteraan karena masih mengandalkan perdagangan bahan baku yang memiliki margin relatif kecil.
Proses hilirisasi dan pengolahan produk turunan sebagian besar komoditas unggulan pertanian Aceh masih terjadi di luar Aceh. Padahal, perdagangan produk derivasi inilah yang justru memiliki share margin terbesar.
“Pengembangan Agro edu wisata akan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian, industri, perdagangan, pariwisata, dan industri terkait lainnya, seperti akomodasi, transportasi, dan kuliner,” ucapnya.
Tak hanya itu, lanjut Faisal, proyek investasi ini juga memperkenalkan Sabang ke pasar Global, Agro eduwisata dapat menjadi cara untuk memperkenalkan Kota Sabang ke pasar global dengan produk ekonomi kreatif dan khas daerah.
Kemudian, Sabang juga dapat menawarkan produk wisata yang lebih beragam, tidak hanya wisata alam dan bahari, tetapi juga Agro eduwisata, yang dapat menarik segmen pasar berbeda.
“Dengan mempertimbangkan potensi ini, Pemerintah Kota Sabang terus berupaya mengembangkan Agro edu wisata sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi kota Sabang,” jelas Faisal.
Prospek Pasar Hilirisasi Nilam dan Atsiri Aceh
Kepala DPMPTSP Naker Kota Sabang, Faisal Azwar, mengatakan bahwa Bango Innovation Park merupakan salah satu proyek prioritas daerah yang dirancang untuk memberikan nilai tambah ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Ini bukan hanya investasi di sektor industri, tapi juga di sektor masa depan: riset, edukasi, hingga ekowisata. Nilam Sabang dengan kadar patchouli alcohol tinggi adalah modal besar untuk dikembangkan,” ungkap Faisal.
Penyusunan proyek ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya konsultan profesional, ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, serta dukungan Bank Indonesia.
Bank Indonesia melalui program Regional Investment Relations Unit (RIRU) bersama DPMPTSP Aceh membantu penyusunan feasibility study (FS) yang menjadi dasar kelayakan investasi.
“FS ini syarat penting agar proyek bisa masuk daftar Clean and Clear (CnC) sekaligus mendapat status Investment Project Ready to Offer (IPRO),” ujarnya.
Proyek ini juga telah perkenalkan dan dipresentasikan dalam forum Aceh Global Sustainable Investment Dialogue (AGASID) 2024 serta forum internasional ASEAN Integration in the Multipolar World di Singapura.
Faisal menjelaskan, terkait prospek pasar, hilirisasi nilam dan atsiri di dalam dan luar negeri sangat menjanjikan, terutama dalam 3–5 tahun mendatang.
Apalagi, minyak nilam Aceh dikenal dengan kualitas tinggi, terutama kandungan patchouli alcohol yang sangat diminati industri parfum Eropa
Ada potensi peningkatan nilai tambah dari pengolahan nilam jika menjadi produk turunan seperti parfum, kosmetik, dan produk farmasi sangat besar.
“Contohnya, harga minyak nilam mentah yang sebelumnya hanya Rp300 ribu per kilogram bisa melonjak menjadi Rp1,7 juta per kilogram setelah melalui proses hilirisasi,” ujarnya.
Selain parfum, minyak nilam juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk lain, seperti kosmetik, obat-obatan herbal, dan produk perawatan tubuh lainnya, karena kandungan antiseptik dan antiinflamasi yang dimilikinya.
Faisal menuturkan, potensi ini bisa digarap, karena Pemerintah Kota Sabang dibantu berbagai lembaga riset, seperti Universitas Syiah Kuala (USK) terus aktif mendorong pengembangan hilirisasi nilam melalui berbagai program dan penelitian.
Ia menegaskan, hilirisasi nilam tidak hanya menguntungkan sektor pertanian dan industri, tetapi juga sektor farmasi dan kesehatan, serta membuka peluang untuk perdagangan karbon karena potensinya sebagai penyerap CO2.
Meskipun ada prospek pasar, produksi nilam di Sabang dan Aceh juga masih menghadapi tantangan, seperti kebutuhan lahan yang luas dan potensi kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan baru.
Kemudian, ketergantungan pada bahan baku mentah. Saat ini, sebagian besar ekspor atsiri Indonesia masih berupa bahan baku mentah. Perlu didorong industrialisasi yang lebih kuat untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Menurutnya, hilirisasi nilam membutuhkan kemitraan yang kuat antara petani, industri, lembaga riset, dan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan produksi dan pemasaran.
Secara keseluruhan, prospek pasar hilirisasi nilam dan atsiri di Sabang, sangat menjanjikan.
“Dengan dukungan yang berkelanjutan dari berbagai pihak, Aceh memiliki potensi besar untuk menjadi pusat industri nilam dan atsiri yang kompetitif di pasar global, sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” imbuh Faisal.
Lokasi Strategis Investasi, Banyak Kemudahan dan Kenyamanan
Sabang memiliki keunggulan sebagai lokasi pengembangan karena kualitas nilamnya yang sangat baik, dengan kandungan patchouli alcohol mencapai 34 persen. Dukungan lahan yang masih luas membuat produksi nilam di Sabang berpotensi terus ditingkatkan.
Faisal menjelaskan, Sabang merupakan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, sehingga pemerintah bisa memberikan penawaran insentif fiskal berupa bebas bea masuk, bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
“Ada juga insentif non-fiskal berupa percepatan perizinan, penyediaan data investasi, fasilitasi teknis, hingga dukungan infrastruktur,” kata Faisal.
Dirinya menegaskan, Bango Innovation Park tidak hanya berfokus pada industri, tapi juga pariwisata dan edukasi. Wisatawan akan dapat menikmati kebun nilam, rumah kaca, taman penelitian, workshop pembuatan produk nilam, hingga pusat edukasi.
Adapun fasilitas yang direncanakan antara lain, area kebun dan konservasi nilam, laboratorium riset dan rumah kaca, pusat workshop produk turunan nilam, galeri edukasi, kafe, restoran, serta gedung acara.
“Kalau untuk produk turunan yang dikembangkan meliputi minyak nilam murni, sabun, lilin aromaterapi, salep, parfum, diffuser, minyak gosok, hingga inovasi kuliner berbahan aroma nilam,” ujarnya.
Pemerintah Sabang, lanjut Faisal, telah menyiapkan strategi pemasaran terhadap proyek investasi yang ditawarkan ini, seperti pengembangan paket wisata agro edukasi, promosi digital melalui website resmi, media sosial, dan influencer.
Selanjutnya, kerja sama dengan agen perjalanan, partisipasi dalam pameran produk nasional dan internasional, penjualan langsung di lokasi wisata dan melalui platform e-commerce.
“Dengan strategi ini, produk nilam Sabang diharapkan mampu menembus pasar internasional sekaligus memperkuat posisi sebagai destinasi wisata edukasi,” tegasnya.
Sementara itu, terkait skema pengelolaan investasi ini, tambah Faisal, nantinya bakal dijalankan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Di mana, pemerintah menyiapkan aset atau lahan dan fasilitas dasar, sementara pihak swasta mengurus pembiayaan, pembangunan, dan pengoperasian.
“Skema di mana sektor swasta bertanggung jawab untuk membiayai, membangun, dan mengoperasikan proyek infrastruktur selama jangka waktu tertentu. Setelah masa konsesi berakhir, aset tersebut dikembalikan kepada pemerintah,” ucapnya.
Dalam kesempatan ini, Faisal juga menegaskan bahwa terhadap investasi di Sabang, pemerintah memastikan dukungan penuh untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi investor melalui beberapa langkah strategis.
Diantaranya, menjadikan Sabang sebagai kawasan destinasi investasi dengan berbagai kemudahan dan insentif. Meningkatkan infrastruktur dan fasilitas pendukung, serta memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum.
Lalu, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terkait, termasuk Bank Indonesia, untuk memberikan dukungan informasi dan regulasi yang jelas bagi investor.
Ia menekankan, pemerintah telah menetapkan Kota Sabang sebagai salah satu kawasan yang diprioritaskan untuk investasi, dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan.
Karena itu, pemerintah terus meningkatkan kualitas infrastruktur dan fasilitas pendukung, seperti pelabuhan dan sarana transportasi, menjadi fokus utama untuk menarik minat investor.
“Pemerintah juga berupaya memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum bagi investor, termasuk dalam hal perizinan dan regulasi,” katanya.
Tak hanya itu, pemerintah juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti Bank Indonesia, untuk memberikan dukungan informasi, konsultasi, dan pendampingan bagi investor.
Lalu, melakukan analisis pasar yang komprehensif dan memberikan kebijakan insentif investasi yang jelas dan menarik untuk mendorong minat investor.
Pemerintah Kota Sabang berharap, langkah-langkah ini dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif dan menarik bagi investor, baik dalam maupun luar negeri.
“Dengan strategi yang tepat, kami optimis Bango Innovation Park akan menjadi magnet investasi global, sekaligus membawa manfaat nyata bagi masyarakat Sabang dan Aceh pada umumnya,” pungkas Faisal Azwar.(*)
PARIWARA.













