Aceh Besar – Dinas Kesehatan Aceh Besar telah melakukan berbagai upaya mengejar angka imunisasi, termasuk dengan memberikan pelatihan atau peningkatan kapasitas surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) bagi tenaga kesehatan di kabupaten setempat.
Langkah itu penting mengingat capaian imunisasi yang rendah saat pandemi COVID-19 lalu, telah mempengaruhi peningkatan kasus PD3I hari ini di Aceh Besar.
“Sehingga menjadi tanggung jawab kita semua dari Pemerintah Pusat sampai daerah untuk melakukan Sub PIN Polio dengan 2 putaran di seluruh Aceh, khususnya Aceh Besar,” kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Anita beberapa waktu lalu.
Anita menyampaikan, peran dari tim surveilans kesehatan atau Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) yang memiliki kemampuan dalam hal penyelidikan kasus sangat penting.
Karena, jika SDM yang tidak kompeten menjadi salah satu hambatan dalam merespon secara cepat pada saat ada temuan kasus PD3I. Walaupun saat ini jumlah petugas surveilans di Aceh Besar masih kurang.
“Sehingga, untuk pelaporan sistem kewaspadaan dini respon sering dibantu oleh nakes non surveilans atau nakes lainnya,” tuturnya.
Ia menuturkan, imunisasi di Aceh Besar masih rendah, sehingga terjadi lonjakan kasus seperti campak, pertusis, rubella, difteri. Padahal, seharusnya itu dapat dicegah dengan imunisasi.
Maka untuk itu, permasalahan ini harus menjadi perhatian surveilans di lapangan dalam hal pencegahan dan memutuskan rantai penularan baik dalam hal pemeriksaan kontak erat.
Kemudian, pemberian profilaksis dan imunisasi secara massal, dengan tetap melakukan sosialisasi manfaat imunisasi untuk pengendalian dan pencegahan PD3I di Aceh Besar. Dirinya berharap, dengan adanya pelatihan, para petugas kesehatan terutama surveilans Puskesmas dapat meningkatkan pengetahuan, lebih proaktif dan maksimal dalam menganalisa masalah mulai dari pengumpulan, pengolahan data dan alternatif penanggulangannya.
“Sehingga dapat menurunkan angka penularan suatu penyakit, baik yang berpotensi wabah atau KLB seperti Difteri, campak, pertusis, dan yang bersifat pandemi seperti COVID-19,” harap Anita. (*)
Pariwara.













