BeritaHeadline

Pidie Jadi Pilot Project, 95 Hektare Sawah Rusak Berat Ditargetkan Rampung 30 Hari

×

Pidie Jadi Pilot Project, 95 Hektare Sawah Rusak Berat Ditargetkan Rampung 30 Hari

Share this article
Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Dr. Safrizal ZA bersama jajaran meninjau langsung proses rehabilitasi sawah rusak berat akibat bencana hidrometeorologi di Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Foto: (Satgas PRR Wilayah Aceh).

PIDIE — Kabupaten Pidie ditetapkan sebagai pilot project rehabilitasi lahan pertanian yang rusak berat akibat bencana hidrometeorologi. Sebanyak 95 hektare sawah terdampak ditargetkan dapat dipulihkan hingga 100 persen dalam waktu 30 hari.

Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Dr. Safrizal ZA, menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung proses rehabilitasi sawah di Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Safrizal, Pidie dipilih sebagai lokasi percontohan karena luasan kerusakan relatif lebih kecil dibandingkan sejumlah kabupaten lain yang turut terdampak bencana.

“Satgas PRR telah mengerahkan alat berat untuk merehabilitasi sawah rusak berat di wilayah ini sebagai pilot project percontohan, mengingat Pidie memiliki luasan dampak yang relatif lebih kecil dibanding wilayah lain,” ujar Safrizal.

Ia mengatakan, keberhasilan rehabilitasi di Pidie nantinya akan menjadi model yang dapat diajukan kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk diterapkan di daerah lain dengan tingkat kerusakan lebih luas.

Salah satunya Kabupaten Aceh Utara yang berdasarkan pendataan mengalami kerusakan sawah mencapai sekitar 4.800 hektare. Penanganan di wilayah tersebut saat ini masih dalam tahap pengkajian, terutama terkait kebutuhan anggaran dan pola rehabilitasi yang tepat.

Untuk Pidie, Safrizal memastikan target rehabilitasi 95 hektare dapat diselesaikan 100 persen dalam waktu 30 hari. Saat peninjauan dilakukan, pekerjaan di lapangan telah memasuki hari ke-9 dan berjalan lancar.

Selain Desa Blang Cut, rehabilitasi juga sedang berlangsung di Desa Pante Beunot, Kecamatan Tiro, serta Desa Blang Pandak, Kecamatan Tangse.

Percepatan rehabilitasi tersebut mendapat apresiasi dari Satgas Kementerian Pertanian di Aceh, Dr. Drs. Agus Susanto, yang berasal dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian.

Agus menilai kolaborasi lintas sektor di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri mampu mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana.

“Pengerjaan di lapangan ini sangat cepat. Area seluas 12 hektare berhasil dikerjakan dalam kurun waktu kurang lebih 9–10 hari,” ungkap Agus.

Ia menjelaskan, kondisi lahan saat ini sudah terbuka. Material lumpur dan timbunan yang sebelumnya menutupi sawah telah dibersihkan dan dikeluarkan dari area persawahan.

Selain itu, pihaknya bersama petani juga telah menyepakati tata letak parit agar sistem pengairan lahan dapat kembali berfungsi dan sawah siap diolah serta ditanami.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Hasballah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran Satgas PRR yang terus turun langsung memantau penanganan dampak bencana di lapangan.

Menurutnya, keterlibatan langsung Satgas PRR memberikan dorongan besar terhadap percepatan pemulihan lahan pertanian masyarakat.

Ia berharap rehabilitasi sawah di Pidie dapat menjadi contoh dan model penanganan bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa dengan skala kerusakan lebih luas.

Apresiasi juga disampaikan Keuchik Blang Cut, Rusyidi, S.Pd. Ia mengaku bersyukur karena sawah masyarakat yang sebelumnya tertutup lumpur tebal kini mulai kembali terbuka dan dapat dipersiapkan untuk ditanami.

“Tinggi lumpur hingga 81 centimeter, hampir satu meter. Alhamdulillah setelah Satgas PRR turun tangan, masalah ini selesai. Terima kasih kepada Pak Safrizal, Pak Mendagri, dan seluruh pihak yang telah membantu kami di Blang Cut,” kata Rusyidi dengan wajah semringah.

Rehabilitasi tersebut diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi lahan pertanian, tetapi juga mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian pascabencana. (*)