HeadlineNasional

Perang Tak Kasat Mata Iran Melawan Starlink

×

Perang Tak Kasat Mata Iran Melawan Starlink

Share this article

Fiature

Ilustrasi perang elektronik Iran: bendera Iran berkibar di atas lanskap kota dengan visual gelombang sinyal, menggambarkan upaya pengacauan komunikasi satelit dan internet berbasis luar angkasa seperti Starlink. Foto: (Media Sosial).

Di tengah langit yang sunyi, ribuan satelit Starlink melintas cepat di orbit rendah Bumi. Bagi banyak negara, satelit-satelit itu adalah simbol kebebasan akses informasi. Namun di Iran, keberadaannya justru memicu sebuah perang tak kasat mata perang yang tak melibatkan senjata api, tetapi gelombang elektromagnetik.

Ketika pemerintah Iran memperketat akses internet nasional, sebagian warga beralih ke Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX yang sulit dikendalikan dari darat. Namun, harapan itu tak berlangsung lama. Di sejumlah wilayah, koneksi Starlink dilaporkan melemah, terputus, bahkan tak dapat digunakan sama sekali.

Bukan satelitnya yang dihancurkan. Iran memilih cara lain: perang elektronik.

Menurut sejumlah analis pertahanan dan keamanan siber internasional, Iran mengerahkan perangkat jammer militer alat pemancar gangguan frekuensi tinggi untuk mengacaukan komunikasi antara antena Starlink di darat dan satelit di angkasa. Jammer ini bekerja dengan “menenggelamkan” sinyal asli dalam lautan noise elektronik, membuat data tak lagi terbaca.

Namun gangguan itu tidak berhenti di sana. Iran juga diduga mengandalkan jamming dan spoofing GPS, sebuah teknik yang mengacaukan atau memalsukan sinyal penentu lokasi. Padahal, sistem Starlink sangat bergantung pada GPS untuk menentukan posisi antena pengguna dan mengunci satelit yang tepat. Ketika sinyal lokasi salah atau hilang, koneksi pun runtuh.
“Ini seperti memberi peta palsu kepada seseorang yang sedang mencari jalan,” kata seorang pengamat perang elektronik. “Satelitnya ada, tapi terminal di darat tak tahu harus terhubung ke mana.”

Perangkat yang digunakan disebut memiliki kemampuan militer, mampu menjangkau spektrum komunikasi yang luas dari radio hingga satelit orbit rendah. Beberapa pengamat menduga teknologi tersebut merupakan hasil pengembangan dalam negeri Iran, meski tak menutup kemungkinan terinspirasi dari sistem perang elektronik negara lain yang lebih dulu maju di bidang ini.

Yang menarik, langkah Iran ini menandai perubahan cara negara mengendalikan informasi. Jika dulu pemutusan internet cukup dilakukan dengan mematikan infrastruktur kabel dan menara BTS, kini internet dari langit pun ikut diburu. Starlink, yang selama ini dipandang kebal sensor, ternyata tetap bisa diganggu asal negara memiliki kendali atas spektrum elektromagnetik.

Di sisi lain, SpaceX mengklaim terus meningkatkan ketahanan Starlink terhadap jamming, termasuk dengan pembaruan perangkat lunak dan kemampuan adaptasi frekuensi. Ini menjadikan konflik tersebut sebagai adu teknologi yang terus bergerak, di mana setiap inovasi dibalas dengan metode gangguan baru.

Perang ini nyaris tak terdengar dan tak terlihat. Tak ada ledakan, tak ada asap. Namun dampaknya nyata: layar yang tiba-tiba gelap, pesan yang tak terkirim, dan suara yang kembali teredam.

Di era digital, Iran menunjukkan bahwa menguasai gelombang bisa sama pentingnya dengan menguasai wilayah. Dan di antara satelit yang melintas cepat di atas langit, perang informasi terus berlangsung diam-diam, tapi menentukan.(*)