Oleh : Nurul Farida, Mahasiswa KPI USM Banda Aceh.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga letusan gunung berapi kerap terjadi dan menimbulkan kerugian besar, baik secara material maupun korban jiwa. Selama ini, bencana sering dipahami semata-mata sebagai peristiwa alam. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, karena dalam banyak kasus, perilaku manusia turut memperparah dampak bencana.
Kerusakan lingkungan menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko bencana. Penebangan hutan secara ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan telah melemahkan daya dukung alam. Ketika hujan deras turun, tanah tidak lagi mampu menyerap air dengan optimal sehingga banjir dan longsor menjadi sulit dihindari. Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya berkaitan dengan kekuatan alam, tetapi juga mencerminkan rendahnya kepedulian manusia terhadap lingkungan.
Selain persoalan lingkungan, kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana juga masih menjadi tantangan serius. Minimnya edukasi kebencanaan, kurangnya sosialisasi, serta terbatasnya sarana evakuasi membuat masyarakat berada dalam posisi rentan. Ketika bencana datang secara tiba-tiba, kepanikan sering terjadi dan justru memperbesar jumlah korban.
Pemerintah memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana. Tidak cukup hanya hadir saat bencana terjadi, pemerintah juga harus menaruh perhatian besar pada upaya pencegahan dan mitigasi. Perencanaan pembangunan semestinya mempertimbangkan aspek lingkungan dan risiko bencana, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan juga harus dilakukan secara konsisten agar kerusakan alam tidak terus berlanjut.
Di sisi lain, masyarakat pun memegang peran penting. Kesadaran menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, dan mendukung program pelestarian alam. Partisipasi aktif dalam pelatihan dan edukasi kebencanaan juga menjadi kunci agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat.
Bencana alam sejatinya tidak hanya patut dipandang sebagai musibah, tetapi juga sebagai peringatan bagi manusia untuk mengevaluasi cara memperlakukan alam. Jika keseimbangan lingkungan terus diabaikan, maka bencana akan berulang dengan dampak yang semakin besar. Sebaliknya, dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan bencana, risiko serta dampaknya dapat diminimalkan.
Dengan demikian, penanganan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama. Melalui kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata, manusia dapat hidup lebih selaras dengan alam serta mewariskan lingkungan yang lebih aman bagi generasi mendatang.(*)













