DaerahHeadline

Posko Tanggap Darurat Aceh Besar Kesulitan Kirim Data Kebencanaan akibat Gangguan Internet

×

Posko Tanggap Darurat Aceh Besar Kesulitan Kirim Data Kebencanaan akibat Gangguan Internet

Share this article
Suasana rapat evaluasi dan koordinasi penanganan bencana, di Posko BPBD Aceh Besar, Sibreh Keumude, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar, Senin (1/12/2025). Foto: (Suara Aceh).

Aceh Besar – Posko Penanganan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Aceh Besar Tahun 2025 mengalami kendala serius dalam proses pelaporan dan pembaruan data kebencanaan. Minimnya akses jaringan internet membuat tim posko kesulitan mengirimkan laporan harian, mengakses peta digital, hingga melakukan koordinasi logistik dengan berbagai instansi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terdampak lainnya.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, menjelaskan bahwa posko Bencana Aceh Besar sejak awal sudah diinstruksikan untuk siaga penuh pasca banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Meski dampak bencana di Aceh Besar tidak semasif kabupaten lain, Aceh Besar memiliki peran strategis sebagai daerah penyangga dan pusat mobilisasi informasi.

“Kami diperintahkan untuk mendirikan posko guna memantau situasi. Di Aceh Besar ada sekitar 13 kecamatan yang terdampak banjir genangan dan semuanya sudah kita tangani. Namun posko ini juga menjadi tempat masyarakat mencari informasi tentang keluarga mereka di daerah-daerah yang parah seperti Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan Langsa,” ujar Ridwan Jamil, Selasa (3/12/2025).

Menurut Ridwan, persoalan paling krusial saat ini adalah gangguan jaringan internet dan telekomunikasi. Kondisi tersebut membuat petugas harus berjalan beberapa kilometer hanya untuk menemukan titik sinyal.

“Petugas kita harus berpindah hingga 3–4 kilometer, itu pun belum tentu dapat sinyal. Akibatnya laporan perkembangan situasi sering terlambat dikirim ke provinsi dan pusat,” ungkapnya.

Gangguan jaringan juga berdampak pada koordinasi antarposko, komunikasi dengan keluarga korban, dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Ridwan menegaskan bahwa situasi ini membutuhkan dukungan perangkat komunikasi darurat seperti VSAT, Starlink, atau mobile WiFi agar koordinasi dapat berjalan efektif.

“Ini darurat. Kita sangat membutuhkan internet agar seluruh data dari lapangan bisa dilaporkan real-time. Tanpa jaringan, distribusi bantuan pun ikut terhambat,” katanya.

Saat ini, Aceh Besar menyiapkan lebih dari 30 personel setiap hari di posko untuk memantau perkembangan, menerima laporan masyarakat, hingga mengoordinasikan bantuan dari berbagai komunitas, BUMN, hingga organisasi kemahasiswaan.

Selain itu, posko juga menginisiasi bantuan bagi mahasiswa perantau dari daerah terdampak yang tidak dapat menerima kiriman dari keluarga akibat gangguan listrik dan jaringan.

Ridwan mengimbau masyarakat Aceh Besar agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu-isu yang tidak benar, termasuk terkait kelangkaan BBM.

“Kami sudah turun bersama Forkopimda dan Pertamina. Untuk Aceh Besar dan Banda Aceh, stok BBM masih aman. Tidak ada kelangkaan akibat bencana,” tegas Ridwan.

Pantuan Suara Aceh Hingga Selasa malam, aktivitas posko terus berjalan meski dengan berbagai keterbatasan. Petugas masih menunggu pemulihan jaringan listrik dan internet agar proses tanggap darurat bisa berlangsung lebih cepat dan akurat.(*)