Beranda Headline Memilih Pemimpin dan Wakil Rakyat yang Paham Agama

Memilih Pemimpin dan Wakil Rakyat yang Paham Agama

Tgk. Misbar As-Salmani Komandan Santri Bela Negara se Aceh & PW PMI Provinsi Aceh. Foto: Dok: Suaraaceh.net

Oleh: Tgk. Misbar As-Salmani

Banda Aceh – TAHUN berganti tahun, bulan berganti bulan, detik berganti detik, dan saatnya menentukan pemimpin juga hanya tinggal menghitung hari, 14 Februari 2024. Tentu kita sedang dihadapkan dengan pilihan para calon pemimpin dari berbagai partai politik atau gabungan partai politik baik pengusung ataupun partai pendukung, baik untuk legislatif maupun eksekutif, yaitu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan menentukan kebijakan bangsa untuk lima tahun kedepan.

Kita merasakan bagaimana masyarakat sudah terkotak-kotak dengan dukungan dan timnya masing-masing, ada yang sampai hilangnya persaudaraan, melahirkan permusuhan bahkan ada yang sampai mempertaruhkan nyawa demi membela calon pemimpin yang didukung.

Siapapun wakil rakyat dan pemimpin terpilih, tentu kita selalu ingin merasakan negeri ini menjadi lebih baik dan bermartabat, rakyat yang aman damai, taat kepada Allah dan patuh pada aturan pemimpin, sehingga menjadi negeri yang thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang dicintai oleh Allah serta Rasulullah Saw.

Kebaikan suatu bangsa terletak pada seorang pemimpin yang dalam istilah agama disebut dengan “umara” dengan dibimbing oleh para orang berilmu yang paham dengan tata kelola bangsa ini, serta dengan senantiasa mendengarkan nasihat dan pendapat para ulama.

Terkait dengan pemimpin harus baik dan bijaksana, ini sebagaimana hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, bahwa diantara tanda kiamat adalah ketika Allah hilangkan ilmu dari dunia ini, dengan meninggalnya para ulama, ketika itu akan muncul pemimpin dari kalangan orang-orang jahil atau bodoh pengetahuan agama.

Ini artinya bahwa jika disaat sebuah negeri sudah dipimpin oleh orang jahil, tentu rakyat juga akan menjadi terombang ambing dan bahkan bisa saja maksiat akan terus merajalela.

Kenapa demikian? Tentu karena para pemimpin tidak paham agama dan tidak punya kebijakan untuk berfikir untuk tegaknya aturan Allah khususnya diwilayah yang dipimpinnya, atau bahkan bisa saja ia sendiri juga menjadi bahagian dari pelaku maksiat itu, baik dengan korupsi, kulusi dan nepotisme (KKN), atau dalam bentuk maksiat-maksiat lainnya.

Fakta yang begitu banyak kita dapati saat ini, para pemimpin lebih cenderung memikirkan diri atau kelompoknya semata, bahkan memberikan jabatan juga bukan karena keahlian, namun lebih karena kekerabatan, kedekatan atau kepartaian.

Rakyat tentu berharap kepada seluruh para calon legislatif atupun eksekutif yang saat ini sedang melakukan proses kampanye, agar tidak melakukan praktek manipolitik dan pelanggaran aturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebab itu semua merupakan suatu perbuatan haram, baik dari segi aturan kepemiluan, tinjauan agama bahkan di Aceh juga sudah di fatwakan haram oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Kita berharap kepada seluruh masyarakat agar bijak dalam memilih seorang pemimpin, jangan sampai hanya dengan bayaran uang recehan kita rela menggadaikan pilihah pada orang yang sebetulnya belum layak untuk menjadi wakil rakyat atau pemimpin bangsa, karena disaat salah memilih pemimpin maka rakyat juga yang akan menanggung akibatnya, jadi pilihlah pemimpin atas dasar agama yang mampu mensejahterakan rakyat dan menjadikan bangsa ini yang thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. Semoga!. (*)

Penulis merupakan Komandan Santri Bela Negara se Aceh & PW PMI Provinsi Aceh.