Beranda Aceh IIA Gelar Diskusi Membedah Argumentasi Pelarangan Ilmu Kalam

IIA Gelar Diskusi Membedah Argumentasi Pelarangan Ilmu Kalam

79
0
BERBAGI

Banda Aceh – Lembaga Islamic Institute Of Aceh (IIA) menggelar diskusi stigma miring atas Ilmu kalam yang membedah argumentasi pelarangan belajar ilmu kalam dan kaintannya dengan akidah. Kegiatan ini berlangsung secara daring, Pada Kamis Malam, (05/08/2021).

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Islamic Institute of Aceh (IIA) dengan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), Akrab dan Bersama Institute. Diskusi yang dimulai pada Pukul 20.45 Wib tersebut dipantu oleh moderator, Fitra Ramadhani, Alumni Akidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar Kairo.

Diskusi ini menghadirkan pembicara tunggal, yang diisi oleh DR. Tgk. Amri Fatmi, Lc. MA, yang memaparkan tantang pentingnya mempelajari ilmu kalam. Pada kesempatan itu Amri Fatmi menjelaskan bahwa di Al-Azhar Ilmu kalam diajarkan sama dengan Ilmu tauhid atau ilmu akidah, ushuluddin, meski berbeda nama dalam penyebutan namun hakikatnya adalah sama.

“Kalau misalnya kita menolak bahwa ilmu kalam itu tidak ada, atau harus kita jauhi, lalu kita belajar akidah dari mana? Dari ilmu mana? Kalau kita menganggap ilmu tauhid, ilmu akidah, dan ilmu ushuluddin itu sama, sekarang ada pelarangan terhadap ilmu kalam, memangnya ilmu kalam itu bukan ilmu tauhid? Ilmu kalam bukan ilmu akidah? Ilmu kalam bukan ilmu ushuluddin? Kalau kita terima ini adalah ilmu yang satu, lalu kita buang ilmu kalam dan ilmu ini semua, maka kita belajar akidah -yang bukan masalah fikih-, kembali kepada ilmu apa? Kembali kepada al-Qur’an dan hadis? Al-Qur’an dan Hadis sumber ilmu kalam, bukan ilmu kalam itu sendiri.” kata Amri Fatmi.

Memang para ulama salaf seperti Imam Syafi’i misalnya, disebutkan dalam sejarah, melarang ilmu kalam, “kalau seandainya orang mengetahui apa yang ada dalam ilmu kalam itu, maka mereka akan lari seperti mereka lari dari pada singa.” Begitu juga dengan Imam Malik, “bahwa siapa yang mencari agama ini dengan ilmu kalam maka dia menjadi zindiq.”

Nukilan-nukilan di atas menunjukkan bahwa pembahasan ilmu kalam pada masa Imam Syafi’i dan Imam Malik tidaklah sama dengan pembahasan ilmu kalam pada masa setelahnya. Tema yang mencuat tentang ilmu kalam adalah pembahasan kalamullah, atau mereka yang membuat syubhat menulis dengan al-kalam fi kadza, yang udah menjadi tradisi dalam penulisan mereka. Sehingga tampak ilmu kalam itu sangat mengerikan sekali. Jadi tujuan pelarangannya untuk menjaga agar orang awam tidak terjerumus ke dalam syubhat mereka.

Amri Fatmi juga menyimpulkan Ilmu kalam sebagai ilmu akidah, sebagai ilmu ushuluddin, yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah dimatangkan oleh Abu Hasan Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi yang mampu memperkuat argumen terhadap akidah dan agama islam dan mampu mehilangkan syubhat-syubhat yang ada. Kalau demikian adanya maka sungguh ilmu kalam ini ilmu yang sangat terpuji atau ilmu yang tidak pantas ditolak. Begitu pula pengikut Imam Syaf’i banyak mengikuti Abu Hasan Asy’ari dalam akidah, bahkan pengikut Imam Malik mayoritas berakidah Asy’ari. Jadi pelarangan ilmu kalam harus kita tempatkan pada fasenya saat ilmu itu belum matang.

Kemudian lanjutnya, “bukan hanya masalah kalam yang diperbincangkan pada abad ke-2 H, ilmu hadis juga. Bahkan hadis juga merupakan penyebab munculnya pemahaman yang menyimpang, ketika belum matangnya ilmu hadis. dalam mukaddimah Takwil Mukhtalaf Hadis, Ibnu Qutaibah menyebutkan bahwa periwayatan hadis yang saling bertentangan telah menyebabkan perpecahan di kalangan ummat Islam, sehingga menjurus pada saling mengkafirkan. Namun setelah ilmu hadis matang maka ia menjadi ilmu yang sangat mulia. Pantas kita menyimpulkan dari pernyataan Ibnu Qutaibah di atas bahwa kita harus berhati-hati dari hadis karena hadis akan mengarahkan kita kepada pemahaman yang menyimpang?, ujarnya.[R]