BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar gotong royong di sejumlah titik di ibu kota Provinsi Aceh, Jumat (2/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang diinisiasi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Gotong royong tersebut melibatkan jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh bersama unsur Forkopimda, di antaranya Kodim, Polres, dan Kejaksaan. Kegiatan dilaksanakan secara serentak di beberapa kawasan strategis, mulai dari Pasar Al-Mahirah, sekitar Masjid Raya Baiturrahman, titik nol kilometer Banda Aceh, hingga sepanjang jalur menuju Pelabuhan Ulee Lheue.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat, nyaman, serta tertata. Selain membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sampah dan kebersihan fasilitas umum.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan gotong royong merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap Jumat. Namun, kegiatan tersebut semakin penting dilakukan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan meningkatnya kebutuhan untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih.
“Ini sebenarnya kegiatan rutin kita setiap Jumat. Apalagi iklim kita sedang tidak baik-baik saja. Kita juga harus mengantisipasi hidrometeorologi, baik El Nino maupun kekeringan. Tetapi yang paling penting adalah menjaga lingkungan agar bersih,” ujar Illiza saat diwawancarai di sela-sela kegiatan gotong royong di kawasan Pasar Al-Mahirah.
Menurutnya, kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat. Lingkungan yang bersih tidak hanya menciptakan suasana kota yang nyaman, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat serta membantu mengurangi berbagai persoalan lingkungan.
Karena itu, kegiatan gotong royong tidak boleh hanya dipandang sebagai aktivitas membersihkan sampah secara berkala. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.
Pelaksanaan gotong royong di kawasan Pasar Al-Mahirah memiliki arti penting karena pasar merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat dengan intensitas kegiatan yang tinggi setiap hari.
Aktivitas jual beli yang melibatkan pedagang, pembeli, dan berbagai pelaku usaha lainnya berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menumpuk dan mengganggu kebersihan, kenyamanan, serta kesehatan lingkungan pasar.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh ingin memberikan contoh langsung sekaligus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan kepada masyarakat, khususnya para pedagang dan pengunjung pasar.
Illiza berharap, kebiasaan menjaga kebersihan dapat tumbuh menjadi bagian dari perilaku sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, kebersihan pasar dan kawasan publik lainnya tidak hanya terjaga ketika kegiatan gotong royong berlangsung, tetapi juga menjadi budaya yang diterapkan secara berkelanjutan.
“Kita berharap upaya menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi kesadaran seluruh masyarakat, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan Forkopimda,” ucap Illiza.
Ia menegaskan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani persoalan kebersihan. Dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, mulai dari kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, hingga memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Selain menggalakkan gotong royong, Illiza juga mendorong pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya, baik rumah tangga, pasar, perkantoran, maupun tempat usaha.
Menurutnya, sampah yang dihasilkan masyarakat perlu dikelola secara tepat agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik sejak awal.
Sampah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan bahan makanan, dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan melalui program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Pengelolaan sampah dari sumbernya sangat penting, terutama sampah organik yang dapat diolah menjadi kompos,” menjadi salah satu penekanan dalam upaya yang didorong Pemerintah Kota Banda Aceh.
Melalui pengelolaan tersebut, volume sampah residu yang dibawa ke TPA diharapkan dapat berkurang. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, pemanfaatan sampah organik juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Banda Aceh berharap, kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat diterapkan secara konsisten, bukan hanya ketika ada kegiatan gotong royong. Dukungan masyarakat menjadi kunci agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif.
Gerakan Indonesia ASRI menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah. Semangat tersebut sejalan dengan pelaksanaan gotong royong rutin yang selama ini dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh bersama unsur Forkopimda.
Pembersihan kawasan pasar, tempat ibadah, titik nol kilometer, dan jalur menuju Pelabuhan Ulee Lheue juga menjadi bagian dari perhatian terhadap kebersihan ruang publik dan kawasan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Melalui keterlibatan berbagai unsur, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan teladan kepada masyarakat sekaligus memperkuat budaya gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sosial warga Banda Aceh.
Illiza mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Menurutnya, kota yang bersih tidak hanya bergantung pada kegiatan pemerintah, tetapi juga ditentukan oleh kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah dan merawat lingkungan.
Dengan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, Forkopimda, pelaku usaha, dan masyarakat, Banda Aceh diharapkan semakin bersih, sehat, dan nyaman bagi warga maupun pengunjung.
Gotong royong setiap Jumat pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan bersama yang menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab seluruh warga kota. (*)
PARIWARA.













