HeadlinePariwara

Menyusuri Jejak Kejayaan Radio Pemda Sabang: Dari Era Kupon Request hingga Menjadi Suara Masyarakat

×

Menyusuri Jejak Kejayaan Radio Pemda Sabang: Dari Era Kupon Request hingga Menjadi Suara Masyarakat

Share this article
Penyiar RASS FM Kota Sabang sedang sedang menpaikan siaran di studio dengan dukungan perangkat penyiaran, sebagai bagian dari upaya menyampaikan informasi dan hiburan kepada masyarakat. Foto: (Suara Aceh).

SABANG – Ada masa ketika radio bukan sekadar perangkat elektronik yang menghiasi sudut rumah. Radio adalah sahabat yang menemani keseharian, tempat menitipkan salam, menyampaikan kerinduan, mengirimkan pesan cinta, hingga menjadi jembatan komunikasi antarmasyarakat. Di Kota Sabang, Aceh, kenangan itu melekat kuat pada perjalanan Radio Pemerintah Daerah (RAPEMDA), yang kemudian dikenal sebagai Radio Suara Pemerintah Daerah (RSPD), bertransformasi menjadi Radio Suara Sabang, hingga kini dikenal dengan nama RASS FM.

Perjalanan panjang radio milik Pemerintah Kota Sabang tersebut bukan sekadar cerita tentang perubahan nama, frekuensi, dan teknologi penyiaran. Di baliknya tersimpan kisah perkembangan media lokal, dinamika kehidupan masyarakat, serta kenangan lintas generasi yang menjadikan radio sebagai bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat di ujung barat Indonesia.

Radio Pemda Sabang mulai mengudara pada 1982. Pada masa itu, kehadiran radio merupakan sesuatu yang istimewa. Sarana komunikasi belum semudah sekarang. Telepon pintar, media sosial, dan aplikasi percakapan belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Untuk menyampaikan kabar, mengirim salam, atau sekadar mengetahui perkembangan daerah, masyarakat masih sangat mengandalkan media konvensional, termasuk radio.

Di tengah keterbatasan tersebut, radio hadir sebagai jendela informasi sekaligus sumber hiburan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Suara penyiar yang terdengar dari pengeras suara menjadi teman bagi warga ketika bekerja, beristirahat, maupun berkumpul bersama keluarga.

Dari RAPEMDA, radio ini kemudian menggunakan nama Radio Suara Pemerintah Daerah atau RSPD dengan frekuensi medium wave (MW). Pada masa yang sama, Kota Sabang juga mengenal Radio KP4BS yang turut mengudara melalui frekuensi MW.

Namun, RSPD memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Radio ini bahkan pernah menjadi satu-satunya pilihan radio yang tersedia di Kota Sabang. Keberadaannya menjadikan RSPD bukan hanya sebagai lembaga penyiaran milik pemerintah daerah, melainkan juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang menghadirkan informasi, hiburan, dan ruang interaksi.

Salah satu bagian paling menarik dari sejarah kejayaan RSPD adalah program permintaan lagu atau request dan titip salam. Program tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pesan kepada keluarga, sahabat, maupun orang yang istimewa di hati mereka.

Berbeda dengan sekarang, ketika permintaan lagu dapat disampaikan melalui pesan singkat atau aplikasi percakapan, pada masa kejayaan RSPD masyarakat harus menggunakan lembaran kupon untuk mengajukan permintaan lagu dan menitipkan salam.

Kupon itu memiliki arti lebih dari sekadar selembar kertas. Di baliknya terdapat keinginan untuk menyampaikan perhatian, menjaga hubungan persahabatan, atau mengungkapkan perasaan kepada seseorang melalui suara penyiar yang mengudara.

Tidak sedikit warga yang rela membeli kupon, kemudian mengantarkannya langsung ke studio RSPD. Studio radio tersebut berlokasi di Jalan Diponegoro, tepatnya di belakang gedung Dharma Wanita Kota Sabang saat ini.

Dari tempat itulah, para penyiar membacakan salam dan memutar lagu pilihan pendengar. Nama seseorang yang disebutkan melalui siaran radio dapat menghadirkan kebahagiaan tersendiri, terlebih ketika salam tersebut ditujukan kepada orang yang memiliki hubungan dekat.

Bayangkan suasana ketika seorang pendengar menunggu dengan penuh harap di depan radio. Ia ingin mendengar lagu pilihannya diputar, sekaligus menantikan salam yang ditujukan kepada orang tertentu. Ketika nama yang dinanti akhirnya disebutkan, ada kebanggaan dan kebahagiaan yang sulit digambarkan.

Salah seorang penyiar sedang memandu siaran di Radio RASS FM dalam upaya menyampaikan informasi dan hiburan kepada masyarakat. Foto: (Suara Aceh).

Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, pada masa itu, momen semacam ini memiliki nilai emosional yang sangat besar. Radio menjadi perantara komunikasi yang menghadirkan kedekatan di tengah keterbatasan teknologi.

Kupon request pun menjadi bagian dari cerita sosial masyarakat Sabang. Setiap permintaan lagu menyimpan kisah tersendiri, mulai dari persahabatan, hubungan kekeluargaan, hingga ungkapan kasih sayang yang disampaikan secara tidak langsung.

Selain program request lagu dan titip salam, RSPD juga dikenal melalui acara berbalas pantun dan pembacaan puisi. Kedua program tersebut menjadi warna tersendiri dalam siaran radio yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri.

Berbalas pantun menghadirkan suasana akrab dan menghibur. Pendengar dapat menikmati permainan kata yang mengundang senyum, sekaligus mengenal kekayaan tradisi bertutur yang telah lama tumbuh dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Sementara itu, pembacaan puisi memberikan ruang bagi pendengar untuk menyampaikan perasaan, kerinduan, dan pemikiran melalui rangkaian kata. Radio menjadi tempat bagi masyarakat untuk memperdengarkan karya dan ekspresi mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Program-program tersebut memperlihatkan bahwa radio memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi dan memutar lagu. Radio juga dapat menjadi ruang kebudayaan, tempat kreativitas tumbuh, tradisi dipertahankan, dan hubungan antarmasyarakat diperkuat.

Keistimewaan RSPD pada masa itu terletak pada kedekatannya dengan pendengar. Masyarakat bukan sekadar penerima siaran, melainkan bagian dari cerita yang dibangun setiap hari melalui gelombang radio. Interaksi tersebut menciptakan ikatan emosional yang membuat keberadaan RSPD begitu membekas dalam ingatan masyarakat Sabang.

Perjalanan RSPD memasuki babak baru pada 2006, ketika radio ini mengalami perubahan frekuensi dari medium wave (MW) menjadi frequency modulation (FM). Perubahan tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan Wali Kota Sabang saat itu dan diikuti dengan pergantian nama menjadi Radio Suara Sabang.

Transformasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah radio pemerintah daerah itu. Peralihan frekuensi menandai upaya menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi penyiaran dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Nama Radio Suara Sabang sekaligus mempertegas identitas radio sebagai media yang tumbuh bersama masyarakat dan daerahnya. Meski nama serta frekuensinya berubah, jejak sejarah yang dibangun sejak 1982 tetap menjadi bagian penting dari perjalanan lembaga penyiaran tersebut.

Pergantian identitas tidak berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Sejarah RAPEMDA dan RSPD justru menjadi fondasi yang memperkaya perjalanan Radio Suara Sabang hingga dikenal sebagai RASS FM.

Kehadiran Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia Stasiun Produksi (LPP RRI SP) Sabang pada akhir Juli 2010 juga menjadi bagian dari perkembangan dunia penyiaran di Kota Sabang.

Dari sisi lokasi, perjalanan radio pemerintah daerah ini turut mengalami perkembangan. Sejak awal berdiri, RSPD berpusat di Jalan Diponegoro, tepatnya di belakang gedung Dharma Wanita Kota Sabang. Lokasi tersebut menjadi saksi perjalanan panjang, mulai dari era kupon request hingga perubahan teknologi penyiaran.

Dalam perkembangannya, RASS FM menempati salah satu gedung Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Kota Sabang yang berada di Jalan Sabang–Balohan, kawasan Baypass Sabang.

Dengan kekuatan pancaran sekitar 100 hingga 250 watt berdasarkan informasi yang tersedia, RASS FM terus menjalankan perannya sebagai media penyiaran lokal. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi, radio daerah tetap memiliki peluang untuk menjangkau masyarakat melalui informasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perubahan zaman membawa tantangan yang berbeda bagi dunia penyiaran. Jika dahulu masyarakat harus datang ke studio untuk menyerahkan kupon request, sekarang komunikasi dapat berlangsung hanya melalui beberapa sentuhan pada layar telepon pintar.

Pilihan hiburan dan sumber informasi juga semakin beragam. Masyarakat dapat mengakses musik, berita, dan berbagai program melalui internet kapan saja. Kondisi ini menuntut radio lokal untuk terus berinovasi agar tetap relevan dan mampu mempertahankan kepercayaan pendengarnya.

Namun, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan arti penting radio. Media penyiaran lokal memiliki keunggulan berupa kedekatan dengan masyarakat, pemahaman terhadap persoalan daerah, serta kemampuan menyampaikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan warga setempat.

Dalam konteks tersebut, RASS FM memiliki modal sejarah yang kuat. Perjalanan sejak 1982 menunjukkan bahwa radio ini telah melewati berbagai perubahan, mulai dari keterbatasan sarana komunikasi, pergantian identitas, hingga penyesuaian terhadap perkembangan teknologi.

Saat ini, RASS FM dinakhodai oleh Penyiar 7 dan berada di bawah Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Kota Sabang. Keberlangsungan radio ini diharapkan tidak hanya sebatas menjaga agar siaran tetap mengudara, tetapi juga merawat warisan sejarah sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

Sebagai media milik pemerintah daerah, RASS FM memiliki peran strategis dalam memperkuat komunikasi publik. Melalui program informasi, dialog, edukasi, hiburan, dan pelestarian budaya lokal, radio dapat menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah dengan masyarakat.

Radio juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi pembangunan, membuka kesempatan bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, serta mengangkat berbagai potensi daerah yang belum banyak dikenal.

Di Kota Sabang yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan potensi pariwisata, peran tersebut menjadi semakin relevan. RASS FM dapat menjadi media untuk memperkenalkan cerita lokal, mendokumentasikan pengalaman para tokoh, mengangkat kehidupan masyarakat, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri.

Salah satu langkah yang layak dilakukan adalah menghimpun kembali kenangan para pendengar, mantan penyiar, dan insan radio yang pernah menjadi bagian dari perjalanan RAPEMDA maupun RSPD. Cerita tentang kupon request lagu, penyiar yang membacakan titip salam, serta program berbalas pantun dan puisi merupakan bagian dari sejarah sosial Kota Sabang yang berharga.

Kenangan tersebut dapat didokumentasikan melalui program khusus, wawancara dengan pelaku sejarah, maupun arsip siaran yang dapat diakses generasi berikutnya. Dengan demikian, radio tidak hanya menjadi media yang menyampaikan informasi masa kini, tetapi juga penjaga ingatan kolektif masyarakat.

Kejayaan sebuah radio tidak semata-mata diukur dari luas jangkauan pancaran, besarnya daya pemancar, atau kecanggihan peralatan studio. Kejayaan juga tercermin dari seberapa dalam radio itu tertanam dalam ingatan masyarakat, seberapa besar manfaatnya bagi publik, serta seberapa kuat ikatan emosional yang berhasil dibangun.

RSPD pernah memiliki tempat istimewa karena mampu menghadirkan kedekatan yang nyata. Lembaran kupon yang diantarkan ke studio menjadi simbol kesungguhan masyarakat dalam menyampaikan pesan, meski harus meluangkan waktu dan tenaga.

Di balik setiap permintaan lagu, terdapat kisah kehidupan yang tumbuh bersama suara penyiar. Ada persahabatan yang dipelihara, kerinduan yang disampaikan, dan perhatian yang menemukan jalannya melalui gelombang radio.

Kini, kupon mungkin tinggal kenangan. Permintaan lagu dapat dikirimkan secara digital, sedangkan informasi bergerak semakin cepat. Namun, nilai yang membuat RSPD dicintai seharusnya tetap hidup, yakni kedekatan, keakraban, keterbukaan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Dari RAPEMDA pada 1982, berlanjut menjadi RSPD, kemudian bertransformasi menjadi Radio Suara Sabang hingga dikenal sebagai RASS FM, perjalanan panjang ini merupakan bagian dari sejarah Kota Sabang yang patut dijaga.

RASS FM bukan sekadar lembaga penyiaran milik pemerintah daerah. Ia adalah saksi perjalanan zaman, penjaga kenangan, dan bagian dari identitas masyarakat Sabang.

Kejayaan masa lalu menjadi warisan berharga, sementara keberlanjutannya pada masa kini merupakan tanggung jawab bersama. Dengan inovasi, program yang relevan, serta komitmen melayani kepentingan publik, RASS FM diharapkan terus menjadi suara masyarakat yang dekat, dipercaya, dan dicintai oleh generasi mendatang.

Sebab, teknologi boleh berganti, nama dapat berubah, dan generasi pendengar terus berganti. Namun, suara yang tumbuh bersama masyarakat akan selalu meninggalkan jejak dalam perjalanan sebuah kota. (*)

PARIWARA.