BANDA ACEH – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., mengingatkan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) agar lebih kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menggunakan ruang digital. Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dituntut mampu membedakan fakta dan hoaks serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Pesan tersebut disampaikan Ruddi Setiawan saat menjadi pemateri Kuliah Umum Gelora Kebangsaan X yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK, Banda Aceh, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis USK, Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., serta dihadiri Dekan FKIP USK, Dr. Amiruddin, S.Pd., M.Si., bersama sivitas akademika dan mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Kapolda Aceh menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademis, tetapi juga perlu memiliki karakter yang kuat, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menurutnya, kecakapan dalam menggunakan teknologi harus diiringi kemampuan berpikir kritis agar mahasiswa tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi keliru yang berpotensi memecah belah masyarakat.
“Mahasiswa berperan penting dalam menjaga kualitas demokrasi digital melalui pemikiran kritis, verifikasi informasi, edukasi masyarakat, serta penguatan budaya dialog yang sehat di tengah perbedaan pendapat,” ujar Ruddi.
Ia menjelaskan, mahasiswa memiliki peran strategis dalam membangun ruang digital yang sehat. Pertama, menjadi intelektual organik yang tumbuh bersama masyarakat dan berkontribusi melalui pengetahuan akademis serta pemikiran kritis.
Kedua, menjadi pelopor pemeriksaan fakta (fact-checking) untuk memastikan informasi yang beredar sesuai dengan kebenaran. Ketiga, aktif menggerakkan literasi digital melalui edukasi dan kolaborasi dengan komunitas serta masyarakat.
Keempat, menghidupkan budaya diskusi dan dialog yang sehat di lingkungan kampus, sehingga perbedaan pandangan dapat disikapi secara terbuka, rasional, dan bertanggung jawab.
Kapolda menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat di ruang digital harus disertai kesadaran untuk menghormati fakta dan menjaga persatuan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berperan sebagai agen edukasi yang membantu masyarakat menghadapi banjir informasi.
“Kampus harus menjadi ruang pertukaran gagasan yang terbuka, kritis, dan tetap berpegang pada kebenaran serta fakta. Dengan demikian, mahasiswa dapat menjadi pelopor literasi digital sekaligus menjaga persatuan masyarakat di tengah derasnya arus informasi,” katanya.
Sementara itu, Dekan FKIP USK, Dr. Amiruddin, S.Pd., M.Si., mengatakan Kuliah Umum Gelora Kebangsaan merupakan agenda tahunan Program Studi PPKn. Kegiatan tersebut secara konsisten menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, mulai dari TNI, kepolisian, hingga Pemerintah Aceh.
Ia berharap kehadiran para pemateri dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap persoalan kebangsaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Amiruddin juga menyatakan FKIP USK terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan Polda Aceh, khususnya dalam kegiatan edukasi, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
“FKIP siap bekerja sama dengan kepolisian untuk mengayomi masyarakat. FKIP adalah pendidik masyarakat. Ke depan, kalau ada kegiatan kepolisian, kami siap membantu. Banyak program studi yang siap bekerja sama,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis USK, Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., turut menyampaikan apresiasi atas kesediaan Kapolda Aceh berbagi ilmu dan pengalaman dengan mahasiswa. Ia menyebut kehadiran Kapolda menjadi kehormatan bagi sivitas akademika USK.
Ramzi menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, ketika teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan memperoleh informasi.
Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin mengandalkan perangkat digital sebagai sumber informasi, bahkan terkadang lebih mempercayai informasi dari media sosial dibandingkan penjelasan dari orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya.
“Saat ini kita lebih percaya sama gadget dibanding orang lain. Bagi mahasiswa, mungkin lebih percaya yang disampaikan orang lain dibanding dosen. Inilah yang terjadi sekarang, jadi kuliah umum ini penting sekali agar kita lebih bijak mengelola informasi,” ungkapnya.(*)













