Meulaboh – Dalam upaya merawat dan memperkuat literasi seni dan budaya lokal, para anggota Sanggar Seni Meusyuhue Ruhul Qurani antusias mengikuti Pelatihan Hikayat yang berlangsung selama dua hari, pada 15–16 September 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelas Hikayat Aceh dan bertempat di Aula VIP KM Kupi, Meulaboh.
Pelatihan ini menghadirkan Heri Maslijar, seorang dosen, pelaku, sekaligus peneliti seni dan budaya Aceh, sebagai pemateri utama. Kehadiran pelatihan ini menjadi ruang edukatif untuk meregenerasi penutur serta penikmat hikayat di kalangan generasi muda.
Dalam penyampaian materinya, Heri Maslijar menekankan bahwa hikayat bukan sekadar seni tutur penenang tidur atau hiburan masa lalu, melainkan media nilai, sejarah, dan identitas kolektif masyarakat Aceh.
“Hikayat adalah pilar penting dalam struktur kebudayaan Aceh. Melalui ritme, narasi, dan sastra lisan ini, leluhur kita menyampaikan filsafat hidup, etika, dan nilai-nilai keislaman. Mengajarkan hikayat kepada generasi muda hari ini adalah bentuk penyelamatan peradaban,” ujar Heri Maslijar di hadapan para peserta.
Ketua Panitia Pelaksana, Saiful Amri, dalam sambutan dan arahannya menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat para peserta dari Sanggar Seni Meusyuhue Ruhul Qurani. Ia menegaskan pentingnya konsistensi dalam menjaga warisan tradisi di tengah gempuran modernisasi.
“Kami berharap pelatihan selama dua hari ini tidak berhenti di dalam ruangan saja. Para anggota sanggar diharapkan mampu menyerap ilmu yang diberikan, mempraktikkannya, dan menjadi garda terdepan dalam merawat serta mensyiarkan sastra tutur Aceh di lingkungan masyarakat,” tutur Saiful Amri saat membuka acara secara resmi.
Melalui pelatihan ini, Kelas Hikayat Aceh bersama Sanggar Seni Meusyuhue Ruhul Qurani berkomitmen untuk terus menghidupkan tradisi lisan Aceh agar tetap relevan, dipahami, dan dicintai oleh generasi mendatang.













