BANDA ACEH – Kepercayaan masyarakat Aceh terhadap layanan perbankan syariah terus menguat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan jumlah nasabah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) Regional Aceh yang hingga Juli 2026 mencapai 5,3 juta nasabah, atau meningkat 31,76 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Pertumbuhan tersebut ditopang penguatan fondasi teknologi dan kapasitas digital BSI, termasuk optimalisasi teknologi informasi (IT) serta perluasan layanan e-channel yang semakin menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Aceh.
Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, mengatakan semakin kuatnya preferensi masyarakat terhadap perbankan syariah turut memberikan efek berganda terhadap pertumbuhan bisnis BSI di Aceh.
Menurutnya, penguatan tersebut didukung oleh jaringan layanan BSI yang terus diperluas. Saat ini, BSI memiliki lebih dari 138 outlet di Aceh, didukung 20.822 BSI Agen dan lebih dari 56.567 merchant QRIS.
“Preferensi masyarakat terhadap perbankan syariah semakin kuat. Ini tentu memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan bisnis BSI di wilayah Aceh,” ujar Imsak.
Dari sisi intermediasi, kinerja BSI Regional Aceh juga menunjukkan pertumbuhan positif. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp22,3 triliun, sementara penyaluran pembiayaan mencapai Rp26,1 triliun.
Kualitas pembiayaan juga tetap terjaga dengan tingkat kualitas pembiayaan sebesar 97,47 persen, membaik dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 96,55 persen.
Dipercaya Layani Tabungan Haji dan Bisnis Emas
Sebagai bank yang memperkuat perannya dalam ekosistem haji dan umrah, BSI di Aceh kini dipercaya melayani lebih dari 422 ribu nasabah Tabungan Haji.
Di sisi lain, pengembangan bisnis emas turut menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis BSI di Aceh. Sebagai Bank Emas atau Bullion Bank, BSI Regional Aceh saat ini mengelola sekitar 106 kilogram emas, meningkat 246 persen secara tahunan.
Bisnis emas eksisting melalui layanan cicil emas dan gadai emas juga mencatat pertumbuhan sebesar 50,51 persen YoY. Pertumbuhan tersebut turut menopang Fee Based Income (FBI) BSI yang meningkat 18,11 persen secara tahunan di Regional Aceh.
Imsak mengatakan penguatan layanan digital menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman perbankan yang semakin terintegrasi kepada nasabah.
Menurutnya, BYOND by BSI menjadi pintu awal bagi nasabah untuk mengakses berbagai kebutuhan finansial dalam satu platform, mulai dari transaksi harian, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, layanan haji hingga berbagai layanan keuangan lainnya.
Sementara itu, secara nasional BSI juga mencatat kinerja keuangan yang solid hingga triwulan II 2026.
Hingga Juni 2026, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun, tumbuh 11 persen secara tahunan. Pertumbuhan laba tersebut didukung ekspansi bisnis yang berkualitas, meningkatnya kontribusi bisnis emas serta semakin kuatnya penghimpunan dana.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 22 persen menjadi Rp393 triliun, didorong peningkatan dana murah atau CASA yang mencapai Rp238 triliun.
Komposisi CASA tersebut terdiri dari tabungan sebesar Rp173 triliun dan giro sebesar Rp65,5 triliun. Struktur pendanaan yang semakin efisien turut menekan Cost of Fund (CoF) menjadi 2,19 persen.
Efisiensi tersebut memberikan ruang bagi BSI untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga profitabilitas di tengah dinamika industri perbankan.
Pada sisi intermediasi, pertumbuhan pembiayaan BSI terjadi di berbagai segmen. Pembiayaan wholesale mencapai Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp55,83 triliun, sedangkan pembiayaan konsumer mencapai Rp189,25 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan tersebut tetap dibarengi dengan kualitas aset yang terjaga. Hal itu tercermin dari NPF Gross sebesar 1,80 persen dan NPF Net sebesar 0,33 persen.
Diversifikasi sumber pendapatan juga semakin kuat. Fee Based Income (FBI) BSI meningkat 38,15 persen menjadi Rp4,1 triliun, ditopang pertumbuhan ekosistem bisnis BSI, termasuk bisnis emas dan transaksi digital.
Secara keseluruhan, total aset BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp464,5 triliun, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan penguatan kinerja BSI tidak hanya berasal dari ekspansi pembiayaan, tetapi juga dari peningkatan transaksi digital, bisnis emas, penghimpunan dana, serta pengembangan ekosistem layanan keuangan syariah yang semakin terintegrasi.(*)













