Banda Aceh – Kebersihan kota merupakan cerminan kualitas hidup masyarakatnya. Kota yang bersih bukan hanya menghadirkan kenyamanan visual, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi kesehatan publik, kelestarian lingkungan, serta citra daerah di mata pendatang. Karena itu, pengelolaan sampah yang baik harus menjadi perhatian bersama baik pemerintah maupun masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, menegaskan pentingnya kedisiplinan dalam jadwal pengangkutan sampah sebagai salah satu kunci utama menjaga kebersihan kota. Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga harus diimbangi dengan pelayanan pengangkutan yang tepat waktu dan teratur.
Ia menilai bahwa keteraturan armada pengangkut sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Ketika jadwal jelas dan konsisten, warga akan lebih mudah menyesuaikan waktu pembuangan sampah sehingga tidak terjadi penumpukan di pinggir jalan atau depan rumah.
“Saya meminta agar DLHK3 Banda Aceh dapat lebih disiplin dalam menerapkan jadwal pengangkutan sampah sesuai waktu dan lokasi yang telah ditentukan. Jika jadwal berubah dan tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka potensi penumpukan akan semakin besar dan dapat menimbulkan masalah baru di lingkungan masyarakat,” ujar Tuanku Muhammad.
Menurutnya, pengendalian sampah adalah sistem yang saling berkaitan. Jika satu mata rantai terganggu misalnya keterlambatan armada maka dampaknya bisa langsung dirasakan warga, mulai dari bau tidak sedap hingga risiko kesehatan.
Tuanku juga menekankan pentingnya penguatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait jadwal pengangkutan. Informasi yang jelas akan membantu warga berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ia menyarankan agar setiap perubahan jadwal akibat kendala teknis, seperti kerusakan kendaraan atau hambatan operasional lainnya, harus segera disampaikan melalui kanal resmi, baik media sosial maupun jalur pemberitaan pemerintah. Transparansi informasi dinilai mampu mencegah kesalahpahaman sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan kebersihan.
“Penentuan jadwal harus pasti. Jika ada perubahan, harus segera dikabarkan. Tanpa informasi yang jelas, sampah bisa menumpuk di tepi jalan dan depan rumah warga. Bahkan jika tidak segera diangkut hingga malam, bau akan semakin menyengat dan berpotensi mengundang anjing liar yang mengacak-acak sampah,” jelasnya.
Sebagai contoh, Tuanku menyoroti perubahan jadwal pengangkutan di kawasan Jalan T. Lamgugob yang kini dinilai tidak menentu. Sebelumnya, armada biasanya melintas sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, sehingga warga telah terbiasa menempatkan sampah sebelum jam tersebut. Namun belakangan, ketidakpastian waktu pengangkutan membuat sebagian sampah tertahan lebih lama di luar rumah.
Kondisi ini, menurutnya, bukan hanya mengurangi estetika lingkungan, tetapi juga dapat memicu masalah baru seperti meningkatnya keberadaan hewan liar. Ia mengingatkan bahwa persoalan kecil yang dibiarkan berlarut dapat berkembang menjadi tantangan besar bagi kebersihan kota.
Meski demikian, Tuanku Muhammad juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya menuntut pelayanan, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah dan warga adalah kunci keberhasilan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Pemerintah Kota Banda Aceh melalui DLHK3 telah menyediakan armada pengangkutan dan melakukan pengawasan. Namun keberhasilan program kebersihan sangat bergantung pada peran aktif masyarakat untuk disiplin membuang sampah sesuai jadwal dan di lokasi yang telah ditentukan,” katanya.
Ia berharap kesadaran kolektif dapat terus tumbuh, sehingga upaya menciptakan Banda Aceh sebagai kota yang bersih, sehat, dan nyaman dapat terwujud secara nyata. Lingkungan yang terjaga tidak hanya memberi manfaat bagi generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi masa depan.
Di tengah pertumbuhan kota dan meningkatnya aktivitas masyarakat, tantangan pengelolaan sampah tentu semakin kompleks. Karena itu, peningkatan kualitas layanan, kedisiplinan operasional, serta komunikasi yang efektif menjadi langkah strategis yang harus terus diperkuat.
Dengan komitmen bersama, Banda Aceh berpeluang besar menjadi contoh kota yang berhasil mengelola kebersihan secara modern dan partisipatif. Disiplin jadwal pengangkutan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari gerakan kolektif untuk membangun lingkungan yang lebih baik.
Pada akhirnya, kebersihan bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Ia adalah hasil dari kerja sama, kepedulian, dan konsistensi seluruh elemen kota. Ketika pemerintah hadir dengan layanan yang optimal dan masyarakat mendukung dengan perilaku yang tertib, maka wajah kota yang bersih dan sehat bukan lagi sekadar harapan melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama.(*)













