Opini

Siti Zulaikha: Dari Hasrat Menuju Kesucian Cinta

×

Siti Zulaikha: Dari Hasrat Menuju Kesucian Cinta

Share this article

OPINI

Dosen FAI Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh, Muhammad Syarif. Foto: (Media Sosial).

Oleh: Muhammad Syarif, Dosen FAI Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

KISAH Siti Zulaikha adalah salah satu narasi paling reflektif dalam khazanah spiritual dan sastra Islam. Ia bukan sekadar cerita tentang cinta terlarang, melainkan potret pergulatan batin manusia antara hasrat, kuasa, penyesalan, dan pada akhirnya, kesadaran. Membaca ulang kisah ini hari ini terasa seperti bercermin bahwa zaman boleh berubah, tetapi dinamika hati manusia tetap sama.

Zulaikha digambarkan sebagai perempuan yang memiliki segalanya: kehormatan, kekayaan, dan kedudukan sosial. Namun kelimpahan dunia tidak menjamin ketenangan batin. Ketika Yusuf hadir dengan ketampanan dan kemuliaan akhlaknya, Zulaikha mengalami guncangan emosional yang perlahan berubah menjadi obsesi. Di sinilah kisah ini menjadi sangat manusiawi bahwa cinta, jika tidak diarahkan, dapat berubah menjadi dorongan yang melampaui batas.

Sering kali Zulaikha dibaca sebagai simbol kegagalan menahan nafsu. Padahal, bila ditelaah lebih dalam, ia justru mewakili kejujuran manusia dalam menghadapi kelemahannya. Ia tidak jatuh karena kebencian atau niat buruk, tetapi karena perasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Dari sini kita belajar bahwa persoalan terbesar bukan pada hadirnya rasa, melainkan pada bagaimana manusia mengelolanya.

Konteks ini terasa semakin relevan di era modern. Kita hidup dalam budaya yang kerap merayakan hasrat ketertarikan dipamerkan, batas dianggap penghalang, dan keinginan sering disamakan dengan hak. Dalam situasi seperti itu, kisah Zulaikha mengingatkan bahwa perasaan tanpa kendali dapat mendorong seseorang melanggar nilai, bahkan melukai dirinya sendiri.

Namun kekuatan kisah ini tidak berhenti pada kejatuhan. Justru makna terdalamnya terletak pada keberanian untuk berubah. Zulaikha tidak terus bersembunyi di balik pembenaran. Ia menanggung malu, kehilangan kedudukan, dan menjalani kesendirian panjang. Dalam proses sunyi itulah cintanya bertransformasi dari keinginan memiliki menjadi kerinduan yang lebih jernih dan spiritual.

Perjalanan ini menegaskan satu hal penting: cinta yang memaksa hanya melahirkan kehancuran, sementara cinta yang disadari akan menuntun pada kematangan jiwa.
Kisah Zulaikha juga menghadirkan refleksi tajam tentang relasi kuasa. Ia adalah bangsawan dengan pengaruh besar, sedangkan Yusuf berada pada posisi rentan.
Ketimpangan ini mengajarkan bahwa cinta tidak boleh bertumpu pada dominasi baik karena jabatan, status sosial, usia, maupun kekuasaan. Ketika kuasa digunakan untuk memenuhi hasrat pribadi, cinta kehilangan maknanya dan berubah menjadi penindasan.

Di sisi lain, Yusuf memperlihatkan dimensi cinta yang lebih tinggi: kemampuan menahan diri. Ia memilih pergi daripada terjerumus, memilih kehilangan daripada menggadaikan prinsip. Dalam dunia yang serba cepat dan instan, sikap seperti ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya adalah bentuk keberanian moral yang langka.

Lebih jauh lagi, kisah ini membawa harapan: bahwa masa lalu tidak selalu menentukan masa depan. Cinta yang awalnya lahir dari nafsu dapat dimurnikan melalui kesadaran dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dari Zulaikha kita belajar bahwa pertobatan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan spiritual.

Barangkali itulah alasan kisah ini terus hidup lintas zaman. Ia bukan hanya tentang seorang perempuan yang jatuh cinta, tetapi tentang manusia yang belajar mencintai dengan benar. Bahwa cinta tidak selalu harus diikuti, tetapi harus dipahami; tidak selalu harus dimiliki, tetapi harus dimurnikan.

Di tengah dunia yang semakin kabur membedakan antara cinta dan hasrat, Zulaikha mengingatkan kita bahwa cinta sejati selalu berjalan beriringan dengan adab, kesadaran, dan tanggung jawab. Sebab pada akhirnya, cinta yang paling menenangkan bukanlah yang sekadar memuaskan keinginan, melainkan yang mendekatkan manusia pada kemuliaan dirinya.(*)