Oleh: Dr. Muhammad Syarif, S.Pd.I, MA, Dosen FAI Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh.
Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Namun, peringatan ini kerap terjebak pada seremoni simbolik ceramah, spanduk, dan rutinitas tahunan tanpa upaya serius menggali pesan substantifnya. Padahal, Isra Mi’raj menyimpan makna mendalam yang sangat relevan dengan problem masyarakat modern: krisis makna hidup, krisis moral, dan krisis spiritual.
Al-Qur’an secara tegas mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Isra ayat 1. Isra Mi’raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Di tengah kehilangan, tekanan, dan penolakan dakwah, Allah justru “mengangkat” Nabi melalui peristiwa agung yang melampaui logika manusia. Pesannya jelas: ketika manusia berada di titik terendah, jalan keluar sejati sering kali bukan berasal dari dunia, melainkan dari kedekatan dengan Tuhan.
Konteks ini sangat relevan dengan realitas hari ini. Masyarakat modern hidup di bawah tekanan ekonomi, kompetisi sosial, kecemasan mental, dan ketidakpastian masa depan. Keberhasilan sering direduksi pada ukuran material, jabatan, dan popularitas. Akibatnya, banyak orang tampak sukses secara sosial, namun rapuh secara batin. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa manusia tidak cukup “naik” secara status, tetapi juga harus “naik” secara spiritual.
Puncak Isra Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu, yang diterima langsung Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat. Hal ini menegaskan kedudukan shalat sebagai fondasi utama kehidupan beriman. Dalam konteks kekinian, shalat seharusnya dimaknai sebagai sarana pembentukan karakter melatih disiplin, kejujuran, pengendalian diri, serta kesadaran moral dalam kehidupan sosial.
Krisis moral yang melanda masyarakat korupsi, kekerasan, intoleransi, dan rendahnya etika publik tidak dapat diselesaikan hanya dengan regulasi dan sanksi hukum. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perubahan sosial harus dimulai dari pembenahan spiritual individu. Shalat yang benar akan melahirkan perilaku sosial yang benar; tanpa spiritualitas, hukum kehilangan ruh, dan etika menjadi kering makna.
Isra Mi’raj juga memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan. Masjidil Aqsha sebagai titik awal Mi’raj menegaskan keterhubungan umat Islam lintas wilayah dan bangsa. Spirit peristiwa ini mendorong kepedulian terhadap keadilan, persatuan, dan penderitaan kemanusiaan global.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis, melainkan cermin bagi kehidupan hari ini. Ia mengajak manusia kembali menemukan makna hidup melalui kedekatan dengan Allah, kualitas ibadah yang lebih baik, serta tanggung jawab sosial yang berkeadaban. Tanpa perubahan sikap dan perilaku, peringatan Isra Mi’raj hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna sejatinya.(*)












