HeadlinePariwara

Tradisi Adat Iboih Tetap Kokoh di Tengah Pesatnya Pariwisata Sabang

×

Tradisi Adat Iboih Tetap Kokoh di Tengah Pesatnya Pariwisata Sabang

Share this article
Sejumlah boat wisata tampak terparkir dan tidak beroperasi saat prosesi fardu kifayah berlangsung di Gampong Iboih. Penghentian aktivitas wisata menjadi bentuk penghormatan terhadap adat istiadat masyarakat setempat. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Gampong Iboih selama ini dikenal luas sebagai pusat wisata bahari Pulau Weh. Kejernihan lautnya, keindahan Pantai Iboih, serta pesona bawah laut Pulau Rubiah menjadikannya destinasi unggulan yang dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Namun di balik kemajuan pariwisata yang terus berkembang, masyarakat Iboih tetap memegang teguh adat tradisi warisan Indatu. Bahkan hingga kini, setiap momentum adat dan peringatan keagamaan, seluruh aktivitas wisata di Iboih dihentikan sementara hingga prosesi adat selesai.

Inilah yang menjadikan Iboih tidak hanya istimewa dari sisi alam, tetapi juga dari sisi budaya. Desa wisata ini menjadi contoh bagaimana masyarakat mempertahankan identitas leluhur tanpa mengorbankan perkembangan sektor pariwisata.

Sejak puluhan tahun silam, masyarakat Iboih telah sepakat bahwa setiap gelar tradisi adat, peringatan keagamaan, maupun prosesi sosial kemasyarakatan harus dijalankan dengan penuh hikmah dan kehormatan. Ketika tradisi dilaksanakan, seluruh aktivitas wisata dihentikan sementara.

Penghentian sementara aktivitas wisata ini berlaku pada sejumlah prosesi adat dan peringatan penting, di antaranya:

1. Idul Fitri

2. Idul Adha

3. Khanduri Laot

4. Fardu Kifayah (prosesi kemalangan)

5. Khanduri Maulid Nabi

6. Peringatan Hari Kemerdekaan

7. Peringatan Tsunami Aceh

Pada momen-momen tersebut, seluruh pelaku usaha di kawasan wisata Iboih mulai dari operator boat, penyedia alat snorkeling, pemilik homestay, hingga pedagang menutup sementara pelayanan mereka.

Adat ini tetap dipertahankan hingga kini, kendati Iboih telah menjelma menjadi desa wisata internasional.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, ST., MT., memberikan apresiasi besar atas keteguhan masyarakat Iboih dalam menjaga adat sekaligus memperkuat identitas budaya.

“Sejak puluhan tahun lalu masyarakat Iboih sudah menjalankan ini, dan alhamdulillah hingga sekarang masih terjaga. Selain menjadi salah satu pelestarian warisan Indatu, hal ini juga menjadi ikon unik,” ujar Harry, Selasa (16/9/2025).

Menurut Harry, tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Iboih memiliki prinsip kuat dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan wisata dan kekayaan budaya. Penghentian sementara aktivitas wisata bukan dianggap hambatan, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

Harry menjelaskan bahwa durasi penghentian aktivitas wisata disesuaikan dengan jenis prosesi adat yang berlangsung. Untuk fardu kifayah, waktu penghentian biasanya hanya beberapa jam hingga prosesi pemakaman selesai.

Namun untuk tradisi besar seperti:

Khanduri Laot,Khanduri Maulid Nabi, atau peringatan hari-hari besar tertentu, aktivitas wisata dapat dihentikan selama satu hingga tiga hari.

“Seluruh pelaku usaha di kawasan wisata Iboih dengan kesadaran penuh mematuhi aturan adat tersebut. Ini merupakan komitmen bersama yang mencerminkan kecintaan masyarakat terhadap adat budaya,” tambah Harry.

Kesadaran kolektif ini menjadi ciri khas Iboih sebuah desa wisata yang tidak hanya menawarkan pengalaman bahari, tetapi juga pengalaman budaya yang mendalam.

Meski wisata dihentikan sementara, hal tersebut tidak berdampak buruk pada perkembangan pariwisata di Iboih. Justru sebaliknya, tradisi adat memberi nilai tambah bagi desa ini.

Banyak wisatawan tertarik mempelajari bagaimana masyarakat Iboih menjaga keseimbangan antara budaya dan wisata. Ada pula wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan prosesi adat secara langsung karena nilai spiritual dan kekentalan tradisinya.

Tradisi Iboih menjadi bukti nyata bahwa pariwisata berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan dan ekonomi, tetapi juga pelestarian budaya.

“Iboih konsisten menjaga adat di tengah kemajuan pariwisata. Ini menjadi contoh nyata bahwa budaya dan sektor wisata bisa berjalan beriringan. Tradisi di Iboih adalah kekuatan yang harus terus dipertahankan. Bukan saja menjaga warisan Indatu, tapi juga memberi nilai tambah bagi wisatawan,” tegas Harry.

Iboih bukan sekadar gerbang menuju dunia bawah laut Rubiah ia adalah representasi dari konsep pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism). Kearifan lokal dan adat istiadat menjadi fondasi utama dalam mengatur interaksi antara wisata dan kehidupan warga.

Dalam banyak kesempatan, wisatawan mengaku terkesan melihat:

bagaimana masyarakat kompak menghentikan seluruh aktivitas usaha demi adat,bagaimana prosesi adat dilakukan secara gotong royong,bagaimana nilai-nilai leluhur tetap dihormati, serta bagaimana masyarakat tetap ramah dan terbuka terhadap wisatawan meski tengah menjalankan tradisi.

Fenomena ini menjadi pengalaman otentik bagi wisatawan yang ingin mengenal Aceh dan Sabang lebih dekat.

Pemerintah Kota Sabang terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian tradisi sebagai bagian dari konsep pariwisata berkelanjutan yang kini menjadi pedoman nasional.

Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk:

fasilitasi kegiatan adat,pembinaan Pokdarwis,penataan kawasan wisata,promosi wisata budaya, dan integrasi konsep adat dengan kebijakan pariwisata kota.

Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Iboih kini berkembang menjadi destinasi yang bukan hanya dikenal karena lautnya yang indah, tetapi juga karena kekayaan budayanya.

Di tengah derasnya arus wisata global, tidak banyak destinasi yang mampu mempertahankan adat hingga ke akar. Namun Iboih berhasil menjembatani keduanya. Di sini, kemajuan pariwisata tidak menenggelamkan adat justru adat menjadi nafas yang memperkuat identitas Iboih sebagai desa wisata yang berkarakter.

Wisatawan yang datang tidak hanya menemukan keindahan alam Sabang, tetapi juga menemukan nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal yang tidak mudah ditemukan di destinasi lain.

Iboih adalah contoh nyata bagaimana masyarakat dapat menjadi garda terdepan pelestarian budaya, sekaligus bagian penting dari ekosistem pariwisata yang harmonis.

Di saat dunia pariwisata berlomba-lomba menawarkan atraksi modern, Iboih menawarkan sesuatu yang jauh lebih bernilai: autentisitas. Dan itulah yang membuatnya istimewa.(*)