Banda Aceh – Wakil Ketua II KONI Aceh, Bachtiar Hasan, M.Pd., mengingatkan seluruh Pengurus Cabang (Pengcab) cabang olahraga di Aceh untuk lebih selektif dalam memilih atlet yang akan tampil pada ajang Pra Pekan Olahraga Aceh (Pra PORA) Tahun 2025.
Ia menekankan pentingnya proses pembinaan dan seleksi atlet yang matang, agar para atlet yang tampil benar-benar berasal dari hasil proses pelatihan berjenjang, bukan sekadar rekrutmen instan.
“Kita berharap Pengprov jauh-jauh hari mempersiapkan ini, baik secara administrasi maupun dalam hal pemanggilan atlet. Jangan asal comot. Atlet yang ikut Pra PORA harus benar-benar hasil pembinaan daerah,” tegas Bachtiar Hasan, Rabu (16/7/2025).
Bachtiar mengungkapkan bahwa terdapat 29 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan dalam ajang Pra PORA 2025. Beberapa cabor seperti dayung, sepak bola, dan panahan telah menyelesaikan pertandingan mereka, sementara futsal masih berlangsung.
Sementara itu, sekitar 15 cabor direncanakan menggelar Pra PORA pada Agustus mendatang, dan sisanya—sebanyak 10 cabor—akan dilaksanakan pada akhir Agustus hingga September 2025.
“Target kita, seluruh rangkaian Pra PORA sudah selesai pada September. Karena pada bulan itu juga akan digelar Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) KONI Aceh, mengingat masa jabatan Plt Ketua KONI Aceh Tgk. Anwar Ramli akan berakhir. Maka, seluruh administrasi dan keuangan harus dirampungkan di masa kepemimpinan beliau,” jelasnya.
Untuk memastikan kualitas atlet yang tampil, KONI Aceh telah membentuk tim pemandu bakat dan tim monitoring yang berasal dari unsur internal KONI maupun Pengprov. Tim ini bertugas mencari atlet-atlet potensial yang diproyeksikan lolos ke PON 2028 di NTB dan NTT.
“Khusus untuk cabor seperti sepak bola, kita belajar dari pengalaman di PON Papua. Banyak atlet tidak bisa tampil karena melebihi batas usia. Jadi kami minta PSSI Aceh benar-benar selektif dalam memilih pemain yang memenuhi syarat usia,” katanya.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan PSSI pusat yang dinilai kerap berubah-ubah, khususnya terkait aturan batas usia atlet.
“Kadang kita sudah rekrut pemain usia 20 tahun, lalu aturan berubah di tengah jalan. Kami harap PSSI pusat bisa lebih konsisten dalam menetapkan aturan,” ujarnya.
Terkait infrastruktur PORA, Bachtiar menyampaikan bahwa persiapan fisik oleh tuan rumah terus berlangsung. Beberapa venue akan mulai dikerjakan pada Agustus 2025 melalui dana APBA dan APBK, termasuk proses rehabilitasi gedung olahraga yang akan digunakan untuk PORA.
“Kita optimis, pertengahan 2026 seluruh fasilitas sudah bisa digunakan untuk mendukung suksesnya perhelatan PORA,” tutup Bachtiar.(*)












