Banda Aceh – Zuhhad Naafil, alumnus Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), saat ini tengah menempuh studi Magister Entrepreneurship & Innovation di The University of Queensland (UQ), Brisbane, Australia. Ia menjadi salah satu penerima Beasiswa LPDP 2024, beasiswa dari pemerintah Indonesia.
Sebagai wirausahawan muda, Zuhhad membawa misi pribadi: memberdayakan sesama dan berkontribusi nyata bagi Aceh, tanah kelahirannya. Pilihannya jatuh pada UQ bukan tanpa alasan.
“UQ memiliki ekosistem kewirausahaan yang sangat hidup, terutama melalui UQ Ventures, yang memberi ruang ideal bagi mahasiswa untuk belajar, tumbuh, dan membangun jaringan lintas budaya,” ujarnya.
Selain itu, struktur program studi yang relevan dan terhubung langsung dengan dunia industri menjadi daya tarik tersendiri. Ia menyoroti pengaruh dosen inspiratif seperti Dr. Henry Burgers, yang membimbing mata kuliah Building Innovation Capability.
Menyesuaikan Diri, Merangkul Perbedaan
Setibanya di Brisbane, Zuhhad menghadapi perbedaan budaya yang mencolok—terutama dalam gaya komunikasi masyarakat Australia yang cenderung lugas dan langsung. Meski awalnya terasa kaku dibandingkan dengan kehangatan khas Indonesia, ia perlahan menyesuaikan diri.
“Dari sisi akademik, pembelajaran di UQ terasa inklusif dan menyenangkan,” katanya.
Ia aktif melakukan interaksi interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Jerman, Prancis, Jepang, hingga Amerika Latin. Perbedaan aksen dan perspektif membuat setiap diskusi jadi sarat wawasan.
Untuk menyesuaikan diri, Zuhhad melakukan langkah proaktif: datang lebih awal ke kampus, mengenal lokasi kelas, hingga mempelajari contoh tugas dari semester sebelumnya melalui perpustakaan digital.
Di Luar Kampus: Antara Bulu Tangkis dan Pitching Bisnis
Tak hanya fokus belajar, Zuhhad juga aktif di luar kelas. Ia mengikuti berbagai kegiatan UQ Ventures, seperti iLab Pitching Night, di mana mahasiswa menampilkan ide bisnis mereka di hadapan juri untuk memperebutkan dana pengembangan.
Selain itu, ia mengikuti turnamen bulu tangkis dan menjadi pelatih paruh waktu saat liburan semester. Aktivitas ini bukan hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga sebagai cara membangun jejaring internasional.
Meski jauh dari tanah air, Zuhhad tetap mengikuti perkembangan sosial, ekonomi, dan politik Indonesia. Ia aktif berdiskusi bersama Komunitas Berpikir (KOPIKIR) dan terus menjalin komunikasi dengan wirausahawan di Aceh dan Tanah Air.
Belajar untuk Kembali dan Memberi
Bagi Zuhhad, belajar ke luar negeri bukanlah jeda dari Indonesia, melainkan investasi untuk pulang dengan visi yang lebih matang.
“Menjadi mahasiswa internasional bukan sekedar kuliah di luar negeri. Ini tentang bertumbuh sebagai pribadi, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri untuk memberi dampak nyata,” tuturnya.
Ia berharap bisa menginspirasi anak-anak muda Aceh untuk melihat potensi di sekitarnya dan mengubahnya menjadi peluang usaha. Zuhhad menekankan bahwa generasi muda tak bisa terus bergantung pada lapangan kerja formal yang terbatas.
“Mereka harus berani mencipta, berinovasi, dan menjadi pemimpin perubahan,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, ia menutup dengan kalimat penuh makna:
“Ilmu itu seperti sebilah pisau—bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mengupas buah bagi orang-orang tercinta. Ilmu memberi kita kekuatan untuk melindungi dan memberi.” (*)













