BANDA ACEH – Tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil mengembangkan inovasi membran penyaring air berbahan dasar limbah kulit manggis yang memiliki sifat antibakteri dan mampu menyisihkan logam berat dalam air tercemar.
Inovasi tersebut memanfaatkan xanthone, senyawa alami yang terkandung dalam kulit manggis, sebagai agen antibakteri. Selain menawarkan solusi ramah lingkungan, penelitian ini juga memberikan nilai tambah bagi limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Riset tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 oleh tim yang diketuai Adisti Juliani, bersama Adzkia Syahra dan Jihan Sakinah Alwi, di bawah bimbingan Prof. Dr. Nasrul, S.T., M.T.
Penelitian mereka mengusung judul “Inovasi Membran Antifouling dan Antibakteri Polietersulfon Termodifikasi Polietilenglikol-Graphene Oxide Berbasis Xanthone Kulit Manggis untuk Penyisihan Logam Timbal pada Air.”
Dalam pengembangannya, tim memadukan polietilenglikol (PEG) untuk meningkatkan sifat hidrofilik membran sehingga proses penyaringan menjadi lebih optimal. Sementara itu, penambahan graphene oxide (GO) berfungsi memperkuat kemampuan membran dalam menyisihkan logam berat, khususnya timbal (Pb).
Kombinasi material tersebut menghasilkan membran yang tidak hanya memiliki sifat antibakteri, tetapi juga lebih tahan terhadap penyumbatan (antifouling) dan efektif dalam mengolah air yang tercemar logam berat.
“Kami berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan teknologi penyaringan air yang lebih efektif di masa depan, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas air sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan,” ujar Ketua Tim PKM-RE, Adisti Juliani.
Menurut tim peneliti, pemilihan timbal sebagai target penyisihan didasarkan pada tingginya potensi logam tersebut sebagai polutan perairan akibat aktivitas industri. Kandungan timbal dalam air diketahui dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu keseimbangan ekosistem apabila tidak ditangani secara tepat.
Selain melakukan penelitian di laboratorium, tim juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai teknologi membran dan perkembangan riset melalui akun Instagram @pkmre.pegostin, sehingga publik dapat mengikuti proses inovasi yang sedang dikembangkan.
Melalui semangat riset dan kolaborasi, tim berharap inovasi berbasis limbah kulit manggis ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam menghadirkan teknologi pengolahan air yang lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu menjawab berbagai persoalan lingkungan, khususnya di Aceh.(*)












