Aceh Barat – Kelompok Wirausaha Desa Alue Krueng, yang didampingi oleh Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU), berhasil menciptakan terobosan baru dengan meluncurkan tiga produk inovatif berbasis pisang. Produk-produk ini terdiri dari pupuk cair organik, keripik pisang cokelat, dan pisang sale, yang semuanya merupakan hasil dari pemanfaatan limbah pisang serta pengembangan produk turunan pisang. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata dari program pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, yang berfokus pada peningkatan nilai tambah produk lokal.
Dalam rangkaian program ini, PPK Ormawa BEM FP UTU membentuk dua kelompok wirausaha. Kelompok pertama berhasil menciptakan produk pupuk cair organik yang diberi nama “Pupis Alkrueng,” yang terbuat dari limbah pisang yang diolah secara inovatif. Produk ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Sementara itu, kelompok kedua berhasil menciptakan produk turunan pisang berupa keripik pisang cokelat dan pisang sale, yang dipasarkan dengan merek ‘Aku Pisang’. Kedua produk ini menawarkan cita rasa khas dan berpotensi menjadi produk unggulan dari Desa Alue Krueng.
Keuchik Desa Alue Krueng menyatakan rasa bangga dan sukacitanya atas keberhasilan warganya dalam menghasilkan produk-produk berkualitas yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Ia memberikan apresiasi kepada Universitas Teuku Umar yang telah memberikan perhatian dan dukungan nyata melalui pengiriman mahasiswa-mahasiswi terbaik untuk melaksanakan program bina desa. Menurutnya, keberadaan program ini telah membuka peluang baru bagi warganya untuk mengembangkan potensi lokal yang ada.
Dukungan kelembagaan dari Universitas Teuku Umar dan bimbingan intensif dari para dosen pembimbing menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini. Dosen Pembimbing Lapangan, Muhammad Reza Aulia, menyatakan komitmennya untuk terus mendampingi para mahasiswa yang berkegiatan di Desa Alue Krueng. Ia melihat potensi besar dalam produk-produk yang telah diluncurkan dan berharap agar produk-produk ini tidak hanya dikenal di Aceh Barat saja tetapi juga dapat dipasarkan ke seluruh Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.
Teungku Nih Farisni, selaku fasilitator program, turut memberikan apresiasi dan dorongan semangat kepada para mahasiswa serta mitra di Desa Alue Krueng. Menurutnya, program ini memiliki potensi besar dan berpeluang untuk menarik perhatian Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek). Farisni berharap program ini dapat diundang dalam acara nasional Abdidaya 2024 di Bali, yang akan menjadi platform besar bagi pengenalan produk unggulan Desa Alue Krueng.
Program pendampingan ini tidak hanya berfokus pada aspek produksi tetapi juga mencakup pelatihan dalam pemasaran, pengemasan, dan pengelolaan bisnis. Para mahasiswa dan warga desa bersama-sama belajar mengenai strategi pemasaran yang efektif dan cara mengelola bisnis agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan produk-produk dari Desa Alue Krueng dapat menjadi contoh sukses dalam pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Dengan keberlanjutan program pendampingan dan dukungan dari berbagai pihak, Desa Alue Krueng diharapkan dapat terus berkembang sebagai desa yang mandiri dan sejahtera. Produk-produk unggulan seperti Pupis Alkrueng dan Aku Pisang tidak hanya menjadi simbol inovasi dan kreativitas, tetapi juga pendorong utama dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. (*)













