BeritaHeadline

APBA 2027 Dinilai Sesat! Gaji Birokrat Rp 8,14 Triliun, Pembangunan Cuma Rp 570 ,79 Miliar – Korban Banjir Ditinggalkan

×

APBA 2027 Dinilai Sesat! Gaji Birokrat Rp 8,14 Triliun, Pembangunan Cuma Rp 570 ,79 Miliar – Korban Banjir Ditinggalkan

Share this article
Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf. Foto: (Laskar Panglima Nanggroe).

BANDA ACEH – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2027 memicu kemarahan publik. Di tengah jeritan rakyat korban banjir yang belum pulih, anggaran justru dimonopoli untuk kepentingan birokrat.

Fakta mencengangkan, usulan APBA 2027 dengan pagu Rp 10,37 Triliun, namun pos belanja untuk gaji dan operasional membengkak hingga tembus Rp 8,14 Triliun. Sementara untuk pembangunan dan infrastruktur rakyat, hanya disisakan Rp 570,79 Miliar.

Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, meledak dan menyebut kebijakan ini sebagai bentuk ketidakadilan yang nyata dan tidak memihak rakyat kecil.

“Ini anggaran yang tidak punya hati nurani! Katanya fokus pemulihan pasca bencana, faktanya rakyat korban banjir dibiarkan merana. Yang kenyang cuma birokrat!” tegas Sulaiman Manaf dengan nada keras.

Menurutnya, DPRA yang seharusnya menjadi mata, telinga, dan penyambung lidah rakyat, kini dinilai buta dan tuli terhadap penderitaan rakyat Aceh.

“DPRA jangan cuma melihat dengan mata, lihatlah dengan hati! Rakyat Aceh butuh keadilan, bukan butuh tokoh drama dan figuran yang jago bersandiwara di depan rakyat!” kecamnya.

Sulaiman menilai, jika pemerintah serius berpihak pada rakyat, anggaran jumbo untuk gaji dan operasional itu seharusnya bisa dirasionalisasi.

“Potong perjalanan dinas yang tidak penting! Hentikan rapat-rapat mewah di hotel! Dari penghematan itu saja, kita bisa bangun puluhan rumah layak huni untuk korban banjir atau modal usaha untuk pemberdayaan ekonomi rakyat yang hancur akibat bencana,” bebernya.

Ia juga menyentil keras perilaku wakil rakyat yang hanya ingat rakyat saat pemilu.

“Dimana wakil rakyat saat dibutuhkan rakyat? Mereka hilang! Giliran butuh suara, baru datang merayu. Saat rakyat butuh keadilan, mereka sibuk menghitung dan menikmati dana Pokir yang fantastis. Terhanyut syahdu dalam leha-leha dana aspirasi!” ungkap Sulaiman.

Ia mengingatkan, jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

“Jangan berleha-leha di atas penderitaan rakyat Aceh! Ingat, tanggung jawab kalian sebagai pemimpin akan ditagih di Yaumil Masyar di hadapan Allah SWT. Dunia ini hanya singgahan, bukan untuk selamanya. Bersikap adillah saat kalian berkuasa!” pungkasnya.(*)