BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Banda Aceh untuk mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam mengembangkan usaha.
Menurut Illiza, penguasaan teknologi menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku UMKM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas, memperluas jangkauan pemasaran, serta mengembangkan berbagai aspek bisnis secara lebih efektif.
Hal tersebut disampaikan Illiza saat menjelaskan pelaksanaan pelatihan dasar AI bagi pelaku UMKM di Banda Aceh. Kegiatan selama dua hari tersebut diikuti sekitar 400 peserta.
Illiza mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan saat ini merupakan tahap awal atau latihan dasar untuk memperkenalkan pemanfaatan teknologi AI kepada para pelaku UMKM. Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyiapkan program lanjutan agar peserta tidak hanya mengenal teknologi tersebut, tetapi juga mampu menggunakannya untuk mendukung kegiatan usaha.
“Ini adalah latihan basic hari ini yang kita laksanakan dan pada tahun depan insyaallah di bulan Februari akan ada pelatihan lanjutan untuk para pelaku UMKM kita. Selama dua hari ini sekitar 400 yang akan mengikuti pelatihan dan nanti ke depan mereka juga akan mendapatkan pelatihan untuk peningkatan kapasitas untuk mengadopsi AI ini,” kata Illiza.
Ia menjelaskan, pelatihan lanjutan direncanakan berlangsung pada Februari 2027. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah kota untuk meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam mengikuti perkembangan teknologi digital.
Melalui tahapan pelatihan yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat memahami penggunaan AI secara lebih mendalam dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing usaha. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi pengetahuan baru, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Illiza optimistis pelaku UMKM Banda Aceh memiliki kemampuan untuk beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan teknologi. Menurutnya, perkembangan AI perlu disambut sebagai peluang untuk mendorong kemajuan usaha, bukan dianggap sebagai sesuatu yang sulit dijangkau oleh pelaku usaha kecil.
“Saya optimis kalau mereka akan lebih cepat bisa mengadopsi perubahan zaman dengan menggunakan AI ini. Jadi kita gandeng anak Aceh juga dari startup yang sudah menghasilkan produk-produk di bidang teknologi ini juga cukup bagus perkembangan di Kota Banda Aceh,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan program tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh turut melibatkan sumber daya manusia lokal, termasuk pelatih yang berasal dari Aceh. Para pelatih tersebut diharapkan dapat membantu peserta memahami materi pelatihan dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM.
Keterlibatan anak-anak muda Aceh yang telah mengembangkan produk teknologi juga menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha dan ekosistem digital lokal.
Illiza menilai perkembangan perusahaan rintisan atau *startup* di Banda Aceh menunjukkan potensi yang baik. Karena itu, pemerintah kota berupaya membuka ruang agar talenta lokal di bidang teknologi dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.
Selain pelatihan AI, Pemko Banda Aceh juga menyiapkan proyek percontohan atau *piloting project* Garuda Spark. Program tersebut direncanakan mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Banda Aceh Academy.
Illiza menyebutkan, proyek percontohan tersebut akan dikembangkan di sebuah gedung yang saat ini sedang dipersiapkan pemerintah kota. Gedung itu ditargetkan selesai pada akhir 2026 dan diharapkan menjadi salah satu ruang pengembangan talenta serta perusahaan rintisan di Banda Aceh.
“Jadi maka kami juga menjabat piloting project untuk Garuda Spark yang akan disupport oleh Komdigi dan Banda Aceh Academy di gedung yang kita sedang persiapkan, insyaallah selesai di tahun ini. Di sana juga ada Garuda Spark yang juga melahirkan para startup ke depan untuk meningkatkan juga jumlah para startup yang ada di Kota Banda Aceh,” pungkas Illiza.
Persiapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi. Keberadaan ruang pengembangan diharapkan dapat membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan ide, menciptakan produk digital, serta membangun usaha rintisan.
Bagi pelaku UMKM, perkembangan ekosistem teknologi lokal juga berpotensi membuka peluang kerja sama dengan para pengembang produk digital. Kolaborasi tersebut dapat mendorong lahirnya solusi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan usaha, termasuk dalam pengelolaan bisnis dan pemasaran.
Pemanfaatan AI sendiri semakin relevan di tengah perubahan pola konsumsi dan persaingan usaha yang semakin dinamis. Pelaku UMKM dituntut untuk terus meningkatkan kemampuan agar dapat mengikuti kebutuhan pasar serta memanfaatkan berbagai sarana digital yang tersedia.
Melalui pelatihan dasar yang diikuti sekitar 400 peserta, Pemko Banda Aceh mulai memperkenalkan pemanfaatan AI kepada kelompok usaha di tingkat lokal. Rencana pelatihan lanjutan pada Februari 2027 diharapkan dapat memperkuat kemampuan peserta sehingga penerapan teknologi dapat dilakukan secara lebih optimal.
Di sisi lain, pengembangan Garuda Spark diharapkan memperluas dukungan terhadap pertumbuhan startup lokal. Dengan melibatkan pelatih, pengembang teknologi, pelaku UMKM, serta dukungan pemerintah dan lembaga terkait, Banda Aceh diarahkan untuk memiliki ekosistem digital yang semakin berkembang.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah Kota Banda Aceh dalam mendorong transformasi digital, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperkuat daya saing UMKM dan industri kreatif berbasis teknologi di daerah.(*)
PARIWARA.













