ACEH BESAR — Riak air perlahan membelah permukaan Krueng Raba. Mesin boat mulai dinyalakan, membawa penumpang menyusuri aliran sungai yang bermuara ke kawasan pesisir Aceh Besar.
Di atas boat, suasana terasa berbeda. Angin laut menerpa wajah, sementara pemandangan alam terbentang di sepanjang perjalanan. Dari Babah Kuala, perjalanan berlanjut menyusuri kawasan Pantai Cemara, Pulo Kapuk, Lampuuk hingga Lhoknga.
Bagi sebagian orang, perjalanan ini bukan sekadar menikmati pemandangan. Menjelajah Krueng Raba juga menjadi cara untuk melihat lebih dekat potensi wisata alam sekaligus denyut ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata.
Salah seorang pemilik boat, Firman, warga Gampong Weu Raya, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, menjadi bagian dari geliat wisata tersebut. Ia mengoperasikan boat untuk membawa wisatawan maupun masyarakat yang ingin menikmati keindahan kawasan perairan Krueng Raba dan pesisir sekitarnya.
Menurut Firman, jumlah penumpang yang menggunakan jasa boat terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya dalam satu perjalanan biasanya hanya sekitar 10 orang, kini jumlahnya dapat mencapai 18 orang, terutama ketika kunjungan wisatawan meningkat.
“Sekarang bisa sampai 18 orang,” ujar Firman.
Aktivitas tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dalam sistem yang dijalankan, Firman menyebut terdapat pembagian hasil sebesar 35 persen dengan pemilik boat. Dari aktivitas tersebut, pendapatan rata-rata yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hari, meski jumlah tersebut sangat bergantung pada ramai atau tidaknya penumpang.
Bagi pengelola boat, setiap perjalanan memiliki cerita tersendiri. Ada penumpang yang datang sekadar menikmati suasana sungai, ada pula yang ingin melihat kawasan pesisir Aceh Besar dari sudut pandang berbeda.
Perjalanan menyusuri Krueng Raba menawarkan pengalaman yang tidak didapat ketika wisatawan hanya berada di daratan. Dari atas boat, garis pantai, pepohonan, perbukitan dan kawasan permukiman terlihat dalam satu bentang panorama.
Rute perjalanan yang menghubungkan Babah Kuala, Pantai Cemara, Pulo Kapuk, Lampuuk hingga Lhoknga juga memperlihatkan bahwa kawasan Aceh Besar memiliki potensi wisata yang tidak hanya bertumpu pada satu destinasi.
Potensi itu semakin menarik ketika dikemas melalui pengalaman wisata berbasis perairan. Wisatawan tidak hanya datang, mengambil gambar, kemudian pulang, tetapi dapat menikmati perjalanan dengan menyusuri sungai dan kawasan pesisir.
Bagi masyarakat seperti Firman, berkembangnya aktivitas wisata tentu menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Sementara bagi daerah, keberadaan wisata boat dapat menjadi bagian dari geliat ekonomi lokal yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan. Kebersihan sungai, keselamatan penumpang, kapasitas boat, serta kelestarian lingkungan menjadi hal penting agar wisata berbasis perairan tidak hanya ramai sesaat.
Krueng Raba dengan lanskap alamnya menawarkan ruang bagi pengembangan wisata yang lebih beragam. Jika dikelola dengan baik, perjalanan menggunakan boat dapat menjadi salah satu pengalaman wisata yang memperkenalkan sisi lain Aceh Besar kepada para pengunjung.
Di tengah suara mesin boat dan hempasan air, Firman terus membawa penumpangnya menyusuri sungai. Dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, ia ikut merawat sebuah mata pencaharian yang tumbuh dari alam dan berkembang bersama aktivitas wisata.
Bagi para penumpang, perjalanan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi Firmansyah dan masyarakat sekitar, setiap boat yang bergerak membawa harapan: bahwa sungai, laut, dan keindahan alam Aceh Besar dapat menjadi sumber kehidupan sekaligus pintu bagi tumbuhnya ekonomi masyarakat setempat.(*)














