Oleh: Bung Syarif
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Perjalanan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh lamanya usia, tetapi juga oleh kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. Demikian pula dengan Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh yang telah menjadi salah satu wadah pembinaan generasi muda Islam di Aceh selama lebih dari empat dekade.
Remaja Masjid Raya Baiturrahman berdiri pada tahun 1984 atas prakarsa Drs. Ameer Hamzah, Zaini Yusuf, dan Basri A. Bakar. Sejak awal, organisasi ini berada di bawah binaan Pengurus Masjid Raya Baiturrahman dengan anggota yang berasal dari aktivis masjid, guru TPQ Plus Baiturrahman, aktivis ISKADA, serta pengelola pustaka masjid.
Pada masa awal, kepemimpinan organisasi ditunjuk langsung oleh pengurus masjid. Zaini Yusuf menjadi ketua pertama, kemudian dilanjutkan oleh Basri A. Bakar pada periode 1992–1996. Aktivitas organisasi pada masa tersebut belum berkembang secara optimal karena berbagai keterbatasan, termasuk kesibukan pengurus yang melanjutkan pendidikan.
Tonggak kebangkitan organisasi mulai terlihat ketika Drs. Ameer Hamzah dipercaya memimpin. Pada masa ini lahir berbagai program penting, di antaranya pengembangan TPA Baiturrahman yang kemudian berkembang menjadi TPQ Plus Baiturrahman, serta penerbitan Tabloid Gema Baiturrahman sebagai media dakwah dan informasi keislaman.
Perkembangan organisasi semakin tertata ketika dipimpin Drs. Sayed Muhammad Husen periode 1999–2003. Pada masa inilah Musyawarah Besar (Mubes) pertama diselenggarakan pada 12 September 1999. Melalui forum tersebut disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang menjadi landasan organisasi, sekaligus menetapkan masa kepengurusan selama tiga tahun melalui mekanisme Mubes. Selain itu, dibentuk pula Baitul Qirad sebagai embrio pengembangan ekonomi syariah di lingkungan remaja masjid.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Shafwan Bendadeh, SHI pada periode 2003–2006. Ia memperkuat sistem kaderisasi dengan menjadikan pengkaderan sebagai syarat menjadi pengurus. Brigade Masjid dihidupkan kembali sebagai bagian dari penguatan syiar dan ketertiban masjid, sementara sistem anggaran tahunan organisasi mulai diterapkan.
Namun, baru setahun berjalan, Aceh dilanda bencana gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 yang menghancurkan hampir seluruh aset organisasi. Aktivitas Remaja Masjid Raya Baiturrahman pun sempat terhenti.
Melalui Mubes III pada 19 September 2006, Muhammad Syarif, SHI terpilih sebagai Ketua Umum periode 2006–2009. Kepengurusan baru memulai proses membangun kembali organisasi dari nol pascabencana.
Berbagai inovasi dilakukan dengan memperluas kemitraan bersama Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, Bank Pembangunan Daerah Aceh, Kodam Iskandar Muda, Radio Republik Indonesia, Radio Baiturrahman, BRR NAD-Nias, serta berbagai lembaga nasional maupun internasional.
Salah satu program unggulan pada periode tersebut adalah pembinaan akidah bagi para mualaf se-Aceh dan pemberdayaan ekonomi mualaf melalui kerja sama dengan BRR NAD-Nias. Selain itu, Remaja Masjid juga aktif melaksanakan Gema Ramadan, pelatihan jurnalistik, pengkaderan remaja masjid, lomba dai cilik, lomba kaligrafi, dakwah pantai, bakti sosial, Remas Award, serta pembinaan remaja masjid di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Program kerja organisasi juga berkembang ke berbagai bidang, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, kajian keislaman, ekonomi, pendidikan Al-Qur’an, seni, olahraga, hingga pemberdayaan muslimah dan penerbitan media dakwah.
Pada Mubes IV tanggal 25 September 2010, Muhammad Syarif kembali dipercaya memimpin untuk periode kedua. Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh Anwar Ridha, S.Pd. melalui Mubes V.
Seiring perubahan kelembagaan Masjid Raya Baiturrahman menjadi UPTD Masjid Raya Baiturrahman Aceh, organisasi ini turut menyesuaikan nomenklaturnya menjadi Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh.
Lebih dari sekadar organisasi kepemudaan, Remaja Masjid Raya Baiturrahman telah menjadi ruang kaderisasi, dakwah, pendidikan, serta pengabdian sosial bagi generasi muda Aceh. Nilai utama yang diwariskan para pendiri dan seluruh pengurus lintas generasi adalah menjaga kesinambungan organisasi dengan semangat ukhuwah, saling menghargai, dan terus berinovasi demi kemakmuran masjid serta kemajuan umat.
Semoga sejarah panjang ini menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga eksistensi Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh sebagai pusat pembinaan pemuda Islam yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman.(*)
Penulis, Merupakan Mantan Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.












