JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI kembali mencatatkan kinerja impresif pada Triwulan I Tahun 2026. Bank syariah terbesar di Indonesia tersebut berhasil membukukan pertumbuhan tabungan tertinggi di industri perbankan nasional, didorong meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan tabungan haji dan penguatan bisnis berbasis syariah.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, tingginya antusiasme masyarakat untuk menunaikan ibadah haji menjadi salah satu motor utama pertumbuhan bisnis perseroan. Hingga Maret 2026, jumlah nasabah Tabungan Haji BSI tercatat menembus 7,25 juta nasabah.
Menariknya, sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari kalangan generasi muda, yakni Millennial dan Gen-Z, yang mulai sadar pentingnya perencanaan ibadah haji sejak dini.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” ujar Anggoro dalam paparan kinerja Perseroan Triwulan I 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, BSI secara konsisten memperkuat pertumbuhan tabungan melalui sejumlah produk unggulan seperti Tabungan Haji, Tabungan Payroll, dan Tabungan Bisnis.
Sebagai bank syariah milik negara, BSI dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung tingginya minat masyarakat Indonesia untuk berhaji. Berdasarkan data internal BSI, jumlah pendaftar haji nasional meningkat signifikan dari 286,4 ribu pada tahun 2023 menjadi 422,3 ribu pada tahun 2025.
Dari total pendaftar tersebut, sebanyak 226,4 ribu jamaah tercatat mendaftar melalui BSI atau setara dengan market share 53,6 persen. Angka tersebut meningkat dibanding tahun 2023 yang berada di level 49,5 persen.
Dominasi BSI juga terlihat pada fase keberangkatan haji tahun 2026. Sebanyak 83,5 persen dari total kuota jamaah berangkat merupakan nasabah yang melakukan pendaftaran melalui BSI.
Kemudahan pembukaan rekening melalui platform digital BYOND by BSI serta berbagai program kampanye haji nasional disebut menjadi faktor penting meningkatnya jumlah nasabah.
Pertumbuhan customer base BSI juga terus menunjukkan tren positif sejak merger bank syariah pada 1 Februari 2021. Hingga Triwulan I 2026, jumlah nasabah BSI telah mencapai 23,7 juta atau bertambah sekitar 9,26 juta nasabah sejak merger.
Khusus pada tiga bulan pertama tahun 2026 saja, BSI berhasil menambah sekitar 500 ribu nasabah baru.
Lonjakan jumlah nasabah tersebut turut mendorong pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI sebesar 18 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp376,8 triliun.
Pertumbuhan DPK didominasi dana murah atau CASA. Giro tumbuh 24,17 persen menjadi Rp71,7 triliun, sementara tabungan meningkat 20,18 persen menjadi Rp164,5 triliun. Total CASA BSI tercatat mencapai Rp236,2 triliun atau tumbuh 21,36 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif itu turut mengerek total aset BSI menjadi Rp460,1 triliun per Maret 2026. Capaian tersebut membawa BSI resmi masuk jajaran lima besar bank terbesar di Indonesia setelah ditetapkan sebagai bank Persero pada Januari 2026.
“Ini menunjukkan bank syariah saat ini mampu berdiri sejajar dengan bank-bank besar nasional, baik dari sisi kinerja maupun daya saing,” kata Anggoro.
Selain memperkuat layanan syariah, BSI juga mencatat pertumbuhan signifikan melalui bisnis emas. Sebagai satu-satunya bank di Indonesia yang mengantongi dual licence, yakni lisensi bank syariah dan bank emas, BSI berhasil memperluas inklusi keuangan hingga menjangkau nasabah non-Muslim yang kini mencapai 12 persen dari total nasabah.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan, dual licence tersebut mendorong peningkatan pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income (FBI) sebesar 22,98 persen menjadi Rp2,09 triliun pada Triwulan I 2026.
Bisnis emas menjadi penyumbang FBI terbesar dengan kontribusi 33,69 persen atau mencapai Rp705 miliar, tumbuh hingga 125 persen secara tahunan.
“Bisnis emas menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru BSI, baik melalui gadai emas maupun layanan E-mas yang tumbuh sangat signifikan,” ujar Ade.
BSI mencatat pembiayaan gadai emas tumbuh 58,3 persen, sementara layanan E-mas melonjak lebih dari 2.700 persen dibanding periode sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, BSI membukukan penyaluran pembiayaan sebesar Rp329 triliun atau tumbuh 14,39 persen secara tahunan dengan fokus utama pada sektor konsumer.
Meski tumbuh tinggi, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross membaik menjadi 1,8 persen dari sebelumnya 1,88 persen. Sedangkan NPF nett berada di level 0,38 persen.
Sebagian besar pembiayaan atau sekitar 72,37 persen disalurkan pada segmen konsumer dan ritel, sedangkan sisanya 27,63 persen pada segmen wholesale.
Peningkatan dana murah juga berhasil menurunkan biaya dana atau cost of fund menjadi 2,12 persen. Sementara biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) tetap terjaga di level 0,73 persen.
Kondisi tersebut berdampak positif terhadap profitabilitas perseroan dengan rasio Return on Assets (ROA) mencapai 2,53 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 19,36 persen.
Pada Triwulan I 2026, BSI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun atau tumbuh 17,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menambahkan, selain memperkuat bisnis, BSI juga terus mendukung program strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
BSI tercatat menyalurkan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp198 miliar kepada 211 dapur MBG. Perseroan juga aktif dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah menjangkau 17.732 penerima serta mendukung lebih dari 80 ribu koperasi.
Di sektor perumahan, BSI menyalurkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada 894 nasabah sepanjang kuartal pertama 2026 dengan total pembiayaan rumah subsidi mencapai Rp5,7 triliun.
Selain itu, BSI juga turut berpartisipasi dalam pembiayaan program perumahan bagi pelaku UMKM sebagai bagian dari dukungan terhadap penguatan ekonomi masyarakat.(*)













