HeadlineOpini

Bencana Berulang, Tata Kelola Dipertanyakan

×

Bencana Berulang, Tata Kelola Dipertanyakan

Share this article

OPINI

Mahasiswa KPI, USM Banda Aceh Febri Desta Rahayu. Foto: (Suara Aceh).

Oleh: Febri Desta Rahayu Mahasiswa KPI, USM Banda Aceh

Indonesia dikenal sebagai negara yang rawan bencana. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung api seakan menjadi peristiwa yang berulang dari tahun ke tahun. Namun, pertanyaan mendasar yang sering luput dari perhatian publik adalah: apakah bencana-bencana tersebut murni disebabkan oleh faktor alam, atau justru diperparah oleh kelalaian manusia dan buruknya tata kelola?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak bencana di Indonesia tidak sepenuhnya bersifat alamiah. Banjir perkotaan, misalnya, kerap terjadi akibat buruknya perencanaan tata ruang, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Sungai yang seharusnya menjadi jalur alami aliran air justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Ketika hujan deras turun, banjir pun menjadi konsekuensi yang nyaris tak terhindarkan.

Ironisnya, pola penanganan bencana di Indonesia masih cenderung reaktif. Pemerintah dan masyarakat baru bergerak setelah bencana terjadi. Bantuan darurat, penggalangan dana, dan empati publik memang penting, tetapi semua itu tidak cukup jika tidak diimbangi dengan upaya pencegahan. Edukasi kebencanaan, penguatan sistem peringatan dini, serta penegakan aturan lingkungan semestinya menjadi agenda utama, bukan sekadar wacana.

Dalam konteks ini, media massa memiliki peran strategis. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pembentuk kesadaran publik. Pemberitaan bencana seharusnya tidak berhenti pada angka korban dan kerugian materi, melainkan juga mengulas akar persoalan, mengkritisi kebijakan, serta mendorong perubahan yang berkelanjutan. Dengan demikian, media dapat menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol sosial yang efektif.

Namun, tanggung jawab penanggulangan bencana tidak hanya berada di pundak pemerintah dan media. Masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting. Kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, mematuhi aturan, serta tanggap terhadap potensi risiko bencana merupakan kunci utama dalam upaya pengurangan dampak bencana. Bencana memang tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi risikonya dapat diminimalkan jika semua pihak berperan aktif.

Pada akhirnya, bencana adalah cermin dari tata kelola lingkungan dan sosial kita. Selama pola pembangunan masih mengabaikan prinsip keberlanjutan, bencana akan terus berulang dengan skala yang semakin besar. Sudah saatnya Indonesia beralih dari paradigma tanggap darurat menuju budaya sadar dan siaga bencana.(*)