DaerahHeadline

Kunjungi Lokasi Bencana, LKK NU dan Kemenag Gelar Pendampingan Psikososial Bagi Warga Pedalaman Aceh

×

Kunjungi Lokasi Bencana, LKK NU dan Kemenag Gelar Pendampingan Psikososial Bagi Warga Pedalaman Aceh

Share this article
Tim LKK NU bersama Kementerian Agama RI melakukan pendampingan psikososial dan trauma healing kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di kawasan pedalaman Aceh Utara dan Bireuen, Rabu–Kamis (7–8/1/2026). Foto: (Kemenag Aceh Besar).

Aceh Utara — Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar pendampingan psikososial bagi korban bencana hidrometeorologi di kawasan pedalaman Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen, Rabu–Kamis, 7–8 Januari 2026.

Program ini menyasar masyarakat di wilayah terdampak yang relatif sulit dijangkau, sebagai upaya membantu pemulihan kondisi psikologis dan sosial para penyintas pascabencana. Tim pendamping yang diterjunkan terdiri dari tenaga psikolog, trainer keluarga sakinah, penghulu, serta penyuluh agama.

Kehadiran tim psikososial disambut hangat dan penuh keharuan oleh warga. Sejumlah ibu rumah tangga tampak meneteskan air mata saat menceritakan pengalaman traumatis yang mereka alami ketika bencana melanda. Suasana emosional tersebut menjadi ruang aman bagi warga untuk mengekspresikan perasaan sekaligus memulai proses pemulihan.

Melalui berbagai simulasi, permainan pemulihan trauma (trauma healing), serta penguatan spiritual dan ketahanan keluarga, tim pendamping berupaya membangkitkan kembali semangat, harapan, dan ketangguhan para penyintas. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi karena pendekatan yang digunakan dinilai dekat dengan nilai budaya, sosial, dan keagamaan setempat.

Di Kabupaten Aceh Utara, pendampingan difokuskan di Gampong Pante Gaki Bale, Kecamatan Langkahan. Sementara di Kabupaten Bireuen, kegiatan dilaksanakan di kawasan Simpang Jaya–Sarah Sirong serta Madrasah Ibtidaiyah Swasta Cot Keutapang, Kecamatan Juli, dengan melibatkan para pelajar sebagai bagian dari pemulihan psikososial sejak usia dini.

Tim psikososial dari Jakarta yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Ratu Dian Hatifa, Nailatin Fauziyah, Chairunnisa, Nurmey Nurul Haq, dan Sugeng Widodo. Mereka merupakan psikolog dan trainer keluarga sakinah yang didampingi oleh relawan LKK NU Aceh serta para penyuluh agama setempat.

Sebelumnya, LKK NU bersama Kementerian Agama RI juga telah melatih sebanyak 108 tenaga pendamping psikososial di tiga wilayah terdampak bencana hidrometeorologi pada 5–7 Januari 2026. Pelatihan dimulai di Kabupaten Pidie Jaya dengan melibatkan 36 relawan dari unsur penyuluh agama, penghulu, guru, dan relawan NU, kemudian dilanjutkan di Aceh Utara dan Bireuen.

Usai pelatihan, para relawan langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pendampingan di lokasi pengungsian, sekolah, serta kawasan terdampak bencana. Mereka diarahkan untuk menjalankan pendampingan psikososial secara berkelanjutan di wilayah binaan masing-masing.

Ketua LKK NU Aceh, H. Khalid Wardana, S.Ag., M.Si, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendampingan psikososial menjadi fondasi awal yang penting agar para penyintas merasa diterima dan tidak sendirian dalam menghadapi dampak pascabencana.

“Jika melihat kondisi riil di lapangan, tentu dibutuhkan proses yang panjang agar masyarakat bisa bangkit kembali secara normal, termasuk menata ulang pranata sosial yang sempat hilang. Melalui program psikososial ini, kami berupaya mengembalikan potensi korban, keluarga, dan masyarakat agar lebih kuat secara individu maupun kolektif, memiliki ketangguhan menghadapi masalah, serta kembali berdaya dan produktif,” ujar Khalid.

Ia menambahkan, pengalaman pendampingan psikososial bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan American Red Cross pascagempa dan tsunami Aceh menjadi bekal penting dalam menggerakkan program serupa di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi saat ini. (*)