HeadlinePariwara

Sertifikat Kilometer Nol Dongkrak PAD Sabang, Capai Ratusan Juta Rupiah di Tahun 2025

×

Sertifikat Kilometer Nol Dongkrak PAD Sabang, Capai Ratusan Juta Rupiah di Tahun 2025

Share this article
Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sabang, Murdiana, bersama petugas layanan sertifikat Kilometer Nol sedang mencetak sertifikat untuk wisatawan. Produk sertifikat ini menjadi salah satu penyumbang PAD Kota Sabang. Foto: (Suara Aceh).

Sabang – Sertifikat wisata “KM 0 Indonesia” terus menjadi salah satu produk pariwisata paling diminati wisatawan yang berkunjung ke Kota Sabang. Sertifikat yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Kota Sabang ini tidak hanya menjadi kenang-kenangan eksklusif bagi wisatawan, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hingga Oktober 2025, penerimaan dari sertifikat ini telah mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Sushetia, sertifikat Kilometer Nol Indonesia kini menjadi ikon wisata Sabang. Hampir semua wisatawan yang datang merasa belum lengkap jika belum mendapatkan sertifikat tersebut sebagai bukti pernah berkunjung ke titik paling barat Indonesia.

“PAD yang sudah kita setorkan dari sertifikat sebesar Rp152.400.000, dengan jumlah sertifikat yang terbit sebanyak 7.620 lembar hingga tahun 2025. Pengelolaan tidak hanya oleh dinas, tetapi juga melalui jaringan pihak ketiga,” ujar Harry, Selasa (07/10/2025).

Sertifikat Kilometer Nol kini dikelola oleh dua pihak ketiga: Toko Liberty dan mitra resmi di kawasan Kilometer Nol. Kehadiran mitra ini sangat membantu pelayanan wisatawan, terutama pada akhir pekan dan hari libur ketika Dinas Pariwisata tidak beroperasi.

“Harapannya, dengan pihak ketiga, Sabtu–Minggu wisatawan tetap bisa terlayani karena banyak yang datang di hari libur. Sistem ini sangat efektif,” jelas Harry.

Mitra yang ditunjuk tidak hanya menjual sertifikat, tetapi juga memberikan pelayanan langsung, mulai dari pencetakan, pengisian nama wisatawan, hingga edukasi tentang makna Kilometer Nol Indonesia.

Dengan demikian, pelayanan menjadi lebih cepat, fleksibel, dan dekat dengan lokasi wisata sehingga tidak mengganggu alur kunjungan wisatawan.

Selain memberikan pemasukan bagi pemerintah, sistem kerja sama ini juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Mitra pihak ketiga mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual sertifikat. Sistem ini menciptakan hubungan saling menguntungkan antara pemerintah, pelaku usaha, dan wisatawan.

Bagi Pemerintah Kota Sabang, skema tersebut menambah sumber PAD tanpa membebani anggaran daerah. Sementara bagi wisatawan, keberadaan pihak ketiga membuat pembelian sertifikat jauh lebih mudah dan cepat.

Produk sertifikat KM 0 sendiri menjadi salah satu suvenir paling dicari. Banyak wisatawan menganggap sertifikat tersebut sebagai simbol pencapaian pribadi karena telah berkunjung ke titik geografis awal Indonesia.

Setiap hari, ratusan wisatawan datang ke tugu Kilometer Nol Indonesia. Selain menikmati pemandangan tebing dan Samudra Hindia, mereka juga mengincar sertifikat resmi sebagai bukti kunjungan.

Sertifikat ini dicetak dengan desain menarik, dilengkapi nama wisatawan dan tanggal kunjungan. Banyak wisatawan memajangnya di rumah atau membingkainya sebagai kenang-kenangan perjalanan.

Beberapa alasan mengapa sertifikat ini menjadi favorit wisatawan:

1. Menjadi souvenir resmi dari pemerintah

2. Bernilai koleksi dan berkesan personal

3. Dikerjakan langsung oleh petugas di lokasi

4. Menjadi bukti autentik pernah mencapai titik nol Indonesia

5. Harga terjangkau untuk semua kalangan

Faktor inilah yang membuat permintaan sertifikat terus meningkat dari tahun ke tahun, sejalan dengan tingginya kunjungan wisatawan.

Realisasi PAD dari sertifikat Kilometer Nol membuktikan bahwa sektor pariwisata mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah. Dengan penerimaan mencapai lebih dari Rp150 juta, program ini tidak hanya memperkuat branding wisata Sabang, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Selain itu, titik Kilometer Nol menjadi salah satu lokasi wisata yang terus diramaikan. Meningkatnya wisatawan berdampak pada:

UMKM sekitar, Penjual makanan dan suvenir, Operator ojek wisata, Pengelola parkir, Pelaku usaha kuliner, Jasa fotografi wisata.

Sertifikat menjadi salah satu elemen pendukung aktivitas ekonomi di sekitarnya, menjadikan kawasan itu sebagai pusat kunjungan wisata andalan Sabang.

Kepala Dinas Pariwisata Sabang menyampaikan bahwa sertifikat wisata bukan sekadar bentuk kreativitas, tetapi bagian dari strategi modernisasi pariwisata. Kota Sabang harus mampu menawarkan pengalaman wisata yang berbeda, unik, dan berkesan bagi setiap pengunjung.

Harry menegaskan bahwa inovasi akan terus dilakukan:

meningkatkan kualitas desain sertifikat,memperluas kerja sama dengan mitra,mengembangkan sistem digitalisasi data kunjungan,serta menghadirkan merchandise tambahan khusus Kilometer Nol.

Hal ini sejalan dengan strategi Sabang untuk menjadi destinasi wisata berkelas nasional bahkan internasional.

Wisata Kilometer Nol Indonesia telah lama menjadi ikon Sabang. Dengan kombinasi antara keindahan alam, nilai geografis, dan pengalaman berfoto di tugu yang monumental, tempat ini selalu dipenuhi pengunjung.

Sertifikat KM 0 menjadi pelengkap pengalaman wisata tersebut, membuat kunjungan ke Sabang terasa lebih bermakna.

Wisatawan kini tidak hanya membawa pulang foto dan cerita perjalanan, tetapi juga membawa serta bukti otentik yang memiliki nilai sentimental tinggi.

Dengan semakin banyaknya wisatawan yang membeli sertifikat, nama Sabang ikut tersebar berkat sertifikat tersebut. Banyak wisatawan memamerkannya di media sosial, mempercepat promosi Sabang secara organik.

Efek berantai ini memperkuat brand Sabang sebagai destinasi wajib dikunjungi, sekaligus meningkatkan potensi PAD pada tahun-tahun mendatang.

Sertifikat ini menjadi simbol bahwa Sabang bukan hanya indah, tetapi juga inovatif dan ramah wisatawan.(*)

Advertorial.