*Oleh: [Nurlaila]
Aceh, tanah rencong yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai luhur, menyimpan beragam seni budaya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat makna dan filosofi kehidupan. Di antara deretan warisan budaya itu, terdapat dua permata seni yang kini mulai meredup: Seukat dan Rapai. Keduanya bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan identitas kolektif masyarakat Aceh yang membentang dari masa lalu hingga masa depan.
Seukat: Elegansi Perempuan Aceh yang Terabaikan
Seukat merupakan seni tari tradisional yang berkembang di wilayah Barat Selatan Aceh, dimainkan oleh perempuan dalam berbagai acara adat dan penyambutan tamu. Gerakannya anggun namun penuh makna, menyiratkan kekompakan, penghormatan, dan kekuatan perempuan dalam bingkai budaya.
Namun kini, Seukat semakin jarang ditampilkan. Generasi muda nyaris tidak mengenalnya, apalagi mempelajarinya. Padahal, dalam setiap lenggokan Seukat, tersimpan nilai pendidikan karakter, semangat kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta sesama. Jika dibiarkan, Seukat bisa benar-benar hilang—bukan karena tidak relevan, tetapi karena kita abai menjaganya.
Rapai: Dentuman Persatuan yang Kian Sunyi
Berbeda dengan Seukat, Rapai adalah seni musik tabuh tradisional yang dimainkan oleh laki-laki. Suara Rapai yang dinamis dan penuh energi biasa mengiringi berbagai upacara adat, dari kenduri hingga penyambutan tamu penting. Dentuman Rapai bukan hanya bunyi; ia adalah denyut nadi masyarakat Aceh yang menghidupkan semangat kebersamaan dan spiritualitas.
Namun, arus modernisasi perlahan menggantikan Rapai dengan musik digital dan audio rekaman. Di banyak hajatan, suara Rapai semakin jarang terdengar. Masyarakat tanpa sadar mulai kehilangan salah satu unsur pemersatu sosialnya.
Mengapa Keduanya Harus Dilestarikan?
Pelestarian Seukat dan Rapai bukan hanya tentang menjaga tradisi, melainkan mempertahankan identitas. Di tengah dunia yang semakin homogen akibat globalisasi, seni tradisi menjadi pembeda sekaligus perekat jati diri. Jika kita gagal merawatnya, maka generasi mendatang hanya akan mengenal Seukat dan Rapai dari teks, bukan dari suara dan gerak nyata.
Lebih dari itu, keduanya memiliki potensi ekonomi yang besar. Dunia kini memandang budaya lokal sebagai aset wisata yang unik. Jika dikembangkan secara profesional, Seukat dan Rapai bisa menjadi daya tarik pariwisata budaya yang mengangkat ekonomi masyarakat lokal serta memberdayakan generasi muda.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sudah saatnya kita tidak hanya bicara soal pelestarian, tetapi juga bertindak nyata. Beberapa langkah strategis yang dapat diambil antara lain:
1. Integrasi dalam pendidikan: Kesenian ini perlu dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal agar dikenalkan sejak usia dini.
2. Festival budaya daerah: Pemerintah kabupaten/kota bisa rutin menggelar lomba atau pertunjukan Seukat dan Rapai, memberi ruang tampil bagi seniman lokal.
3. Kolaborasi dengan generasi muda: Komunitas kreatif dan pegiat media sosial dapat dilibatkan untuk membuat konten yang mengangkat kembali pesona Seukat dan Rapai.
4. Kebijakan pemerintah yang konkret: Dibutuhkan dukungan berupa anggaran, pelatihan pelaku seni, hingga promosi lintas daerah dan digital.
Menjaga Warisan, Menjaga Martabat
Seukat dan Rapai bukan sekadar seni. Mereka adalah simbol, suara, dan gerakan dari peradaban yang tumbuh di tanah Aceh. Melestarikan keduanya berarti menjaga martabat kita sebagai pewaris budaya yang kaya. Mari kita tidak hanya menjadi penonton dari punahnya warisan ini. Mari kita hidupkan kembali, kenalkan kembali, dan banggakan kembali Seukat dan Rapai—demi budaya, demi Aceh, demi Indonesia.(*)












