HeadlineOpini

[Opini]: Iskandar dan Pentingnya Memberi Kesempatan pada Gagasan

×

[Opini]: Iskandar dan Pentingnya Memberi Kesempatan pada Gagasan

Share this article

Oleh: Azmi Murthala

Azmi Murthala (Warga Bireuen). Foto: Media Sosial.

Iskandar. Sebuah nama yang mendadak menjadi topik hangat, bahkan kontroversial. Sosok yang disebut-sebut sebagai CEO ini hadir dengan tutur kata yang tenang, wawasan yang dalam, dan narasi yang berani. Namun di tengah pujian dan kekaguman, tidak sedikit pula suara-suara sumbang yang mempertanyakan latar belakangnya, bahkan menyangsikan klaim-klaimnya.

Tapi mari sejenak kita hentikan kebisingan itu. Dalam dunia yang semakin cepat menghakimi, mungkin yang kita butuhkan bukan pembuktian instan, tapi ruang untuk memberi seseorang kesempatan membuktikan dirinya—dengan waktu dan cara yang sehat.

Saya menyimak bagaimana Iskandar berbicara tentang industri penerbangan, tentang bandara internasional, dan tentang masa depan yang bisa dibangun dengan gagasan besar. Tidak semua orang mampu berbicara seperti itu—apalagi dengan data, perbandingan global, dan percaya diri yang kuat. Tentu, bukan hanya gaya bicara yang jadi ukuran. Tapi apa yang ia utarakan menunjukkan satu hal: ia membaca dunia.

Iskandar juga pernah diundang oleh media-media arus utama seperti Metro TV, Trans TV, dan SCTV. Itu bukan hal sepele. Proses kurasi media nasional tidaklah mudah. Siapa pun yang pernah berurusan dengan media besar tahu, bahwa kredibilitas adalah tiket utama. Maka jika Iskandar sudah sampai di titik itu, setidaknya ada sesuatu yang patut kita pertimbangkan.

Bukan berarti kita harus menelan mentah semua yang ia katakan. Tapi merendahkan tanpa dasar, apalagi menjatuhkan lewat spekulasi liar, juga bukan jalan yang bijak. Kita terlalu sering terburu-buru menghakimi seseorang hanya karena ia tampil tak sesuai ekspektasi umum.

Di tengah krisis keteladanan, justru kita butuh lebih banyak orang yang berani berbicara soal mimpi dan masa depan. Kita butuh anak daerah yang tak hanya berdiam diri, tapi berani keluar dan menunjukkan kapasitasnya di panggung nasional. Iskandar, terlepas dari kontroversinya, telah melakukan itu.

Dan kalaupun nanti ternyata ia bukan CEO seperti yang dibayangkan, saya kira itu tidak akan mengurangi nilainya sebagai pribadi yang telah menginspirasi. Karena nilai seseorang tak selalu ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh seberapa besar niat dan usaha yang ia curahkan untuk memberi makna bagi orang lain.

Bireuen harusnya bangga memiliki anak muda yang bisa menjadi simbol harapan. Dan kita, sebagai masyarakat yang ingin maju, seharusnya mulai belajar untuk tidak cepat mencemooh, tapi memberi ruang bagi siapa pun yang ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi bagian dari perubahan. (*)